Tuesday, March 31, 2009

Beli Kursi di Langit

Beli Kursi di Langit
Catatan Dahlan Iskan on 31 Maret 2009 
Selasa, 31 Maret 2009

Beli Kursi di Langit

Sejak Mandala dikenal cukup on time, banyak orang pindah ke penerbangan itu. Termasuk saya. Garuda sudah terasa terlalu mahal. Apalagi Mandala juga sudah menggunakan pesawat yang relatif baru: Airbus 319 atau Airbus 320.

Orang seperti saya, on time termasuk pertimbangan yang penting. Antara satu janji dan janji yang lain sering agak mepet. Karena itu, meski Garuda terkenal mahal, orang tetap memilih Garuda karena on time. Memang banyak orang memilih Garuda karena perasaan lebih safe. Tapi ketika kelebihan-kelebihan Garuda itu juga sudah bisa dipenuhi Mandala, orang lantas memilih yang lebih murah.

Memang di Mandala tidak memperoleh makanan/minuman. Tapi, untuk terbang jarak pendek seperti Surabaya-Jakarta, faktor makanan tidaklah penting. Tidak mungkin orang mati kelaparan dalam penerbangan satu jam. Apalagi orang seperti saya, begitu naik pesawat memilih segera tidur! Ketika masih sering naik Garuda dulu, meski di kelas eksekutif, saya sering berpesan agar kalau sedang tertidur jangan dibangunkan hanya untuk makan.

Kini memang sedang dalam ujian: apakah Mandala bisa mempertahankan citra on time-nya itu. Pada 25 Maret lalu, ketika terbang dari Jakarta ke Balikpapan dengan Mandala, saya bertemu teman-teman asal Surabaya di lounge Mandala di terminal 1 Cengkareng. Mereka sekeluarga lagi kelihatan kusut. Oh, ternyata mereka lagi transit untuk cing bing (ziarah kubur) ke Jambi. Pesawat Mandala yang dia naiki terlambat tidak tanggung-tanggung: 7 jam! Mestinya berangkat pukul 9 pagi, baru akan berangkat pukul 4 sore.

Ujian berikutnya: mempertahankan citra safe! Pesawat itu, baru atau lama, sebenarnya tidak terlalu ada hubungannya dengan safe atau tidak. Biarpun pesawat lama, kalau pemeliharaan dan prosedur pemeriksaannya sempurna, ia akan sama safe-nya dengan pesawat baru. Namun juga bisa dipahami bahwa secara psikologis, naik pesawat baru lebih safe. Dan Mandala tahu menjaga perasaan penumpang tersebut. Karena itu, dia menggunakan pesawat yang relatif baru.

Sebagian pesawat itu kelihatannya pindahan dari India. Terlihat di layar monitornya masih ada display tulisan yang berbunyi Deccan (sebuah kawasan di selatan India, Red) dengan desain khusus. Saya langsung teringat ketika tahun lalu ke India. Di beberapa rute, saya naik pesawat Deccan Airways. Di India memang banyak perusahaan penerbangan swasta. Semuanya menggunakan pesawat-pesawat relatif baru. Saya dengar persaingan di sana sangat keras dan belakangan beberapa di antara mereka merger.

Di Mandala kita juga bisa naik kelas ”eksekutif”. Syaratnya juga ringan: hanya membayar tambahan Rp 50.000/orang. Dengan membayar uang tambahan itu, Anda bisa duduk ke kursi paling depan. Memang kursi ”eksekutif” itu tidak beda dengan yang ekonomi, namun duduk di depan lebih baik: bisa cepat-cepat keluar dari pesawat untuk mengejar jadwal. Berarti ada enam tempat duduk (tiga di kiri dan tiga di kanan) yang bisa dijual Rp 50.000-an. Tambahan Rp 300.000 rupanya dianggap penting sehingga pesawat yang mestinya berisi 120 itu bisa menghasilkan uang 121.

Waktu ke Singapura pekan lalu pun, saya naik pesawat murah: Value Air. Sebelum krisis, saya selalu naik Singapore Airlines (Silk Air) atau Garuda. Di rute Surabaya-Singapura ini, kita harus bangga: orang lebih menyenangi Garuda daripada pesawat Singapura itu. Kursi kelas eksekutifnya jauh lebih enak Garuda: lebih besar dan lebih longgar. Demikian juga kursi kelas ekonominya: lebih longgar.

Tapi, naik pesawat murah (biasa disebut budget airlines) juga tidak menderita. Meski kalah dengan Garuda, tapi kelas ekonominya tidak kalah dengan Silk Air yang mahal. Toh waktu kedatangannya sama saja: 2 jam. Saya memang sudah lama ingin mencoba pesawat murah untuk Singapura. Motifnya: ingin melihat budget terminal di Changi.

Sejak tahun lalu bandara Singapura memiliki empat terminal: terminal 1, terminal 2, terminal 3, dan terminal murah (budget terminal). Terminal 1, 2, dan 3 berada dalam satu wilayah yang dihubungkan dengan kereta khusus. Terminal 1 paling sederhana, terminal 2 lebih mewah, dan terminal 3 mewah sekali. Sedangkan terminal murah (untuk penerbangan-penerbangan murah) berada terpisah yang tidak ter-connect dengan tiga terminal lainnya. Saya ingin sekali melihatnya. Satu-satunya cara sudah tentu kalau saya naik pesawat murah.

Saya check-in agak telat hari itu. Karena itu, saya mendapat tempat duduk sangat belakang: dekat toilet. Saya sudah berusaha minta agak depan, tapi tidak ada lagi yang kosong. Padahal, saya harus cepat-cepat keluar dari pesawat agar bisa antre paling depan di imigrasi nanti. Dari bandara, saya harus langsung ke tempat acara perkawinan yang waktunya sudah mepet.

Begitu masuk pesawat, saya lihat kursi deretan depannya kosong. Saya ingin duduk di situ, tapi pramugari berkeras minta boarding pass untuk melihat nomor kursi saya. Maka, saya pun ketahuan harus duduk di belakang. Sambil berjalan ke belakang, saya lihat dua deret kursi di bagian tengahnya kosong. Yakni di deretan dekat pintu darurat. Saya ngotot mau duduk di situ saja: daripada di dekat toilet.

Ternyata saya juga dilarang duduk di situ. Semula saya mengira karena kursi-kursi itu di dekat pintu darurat. Maka saya bilang: saya tahu bagaimana harus bersikap ketika duduk di dekat pintu darurat. Saya sudah sering diajari pramugari bahwa seseorang yang duduk di kursi seperti itu harus tahu bagaimana cara membuka pintu darurat. Sehingga kalau terjadi kecelakaan, harus tahu apa yang pertama-tama harus dilakukan.

Ternyata ini bukan soal keterampilan membuka pintu darurat.

”Duduk di kursi itu harus membayar uang tambahan 10 dolar,” ujar sang pramugari.

”Dolar Singapura?” tanya saya.

”Ya,” jawabnya.

”Saya mau bayar,” kata saya.

Lalu, saya teringat jangan-jangan kursi kosong paling depan tadi urusannya juga hanya soal bayar-membayar.

”Berarti saya boleh juga duduk di deretan nomor 1 itu?” tanya saya.

”Oh, kalau itu bayarnya 20 dolar,” katanya.

”Saya mau,” kata saya.

”Kalau begitu, silakan,” jawabnya.

”Bisa bayar di atas pesawat sini?” tanya saya.

”Bisa!” katanya.

Maka, saya dan istri kembali ke depan. Membuka dompet dan membayar 40 dolar (sekitar Rp 300.000) untuk dua orang. Saya memang membiasakan mengisi uang-uang asing di dompet saya: dolar Singapura, Malaysia, bath Thailand, dolar Hongkong, dolar AS, dan terutama ren min bi Tiongkok.

Dengan pengalaman ini, saya tersenyum: wah semakin pintar saja orang cari uang. Jangan-jangan kelak, kursi di dekat jendela juga punya harga berbeda. Kursi di aisle (gang tempat jalan) juga bertarif tidak sama. Tapi, kalau kursi di kokpit juga dijual meski dengan harga mahal, saya ingin juga mencoba sekali-kali.

Meski pesawat murah, ternyata enak juga. Pesawatnya juga Airbus 320. Yang membuat saya agak kecewa adalah: ternyata pesawat ini mendarat di terminal 1. Dengan demikian, gagallah keinginan saya merasakan seperti apa itu terminal murah.

”Mengapa tidak mendarat di budget terminal?” tanya saya kepada pramugari.

”Ini bukan budget airlines,” jawabnya.

”Lho, memangnya ini pesawat apa?” tanya saya.

”It is low cost carrier,” jawabnya. (”Ini pesawat murah”).

”Apa bedanya budget airlines dengan low cost carrier?” tanya saya.

”Budget carrier kan semua harus bayar sendiri. Misalnya, makanan dan minumannya,” katanya.

Oh, saya jadi lebih bingung. Di penerbangan ini, saya memang diberi air dan sepotong roti, tapi untuk makanan dan minuman lainnya, saya juga harus beli. Kursi pun harus beli. Saya benar-benar tidak tahu apa beda budget carrier dengan low cost carrier.

Saya tidak mau pusing memikirkannya. (*)

Wednesday, March 25, 2009

Kalau Saja Disewakan Ke Indonesia

"Kalau Saja Disewakan Ke Indonesia"
Jatuh Bangunnya Perusahaan Penerbangan Indonesia

01 Juni 2003,  dalam Catatan Dahlan Iskan
“Pengin jadi jutawan?”
“Gampang!”
“Gampang bagaimana?”
“Jadikan diri Anda seorang miliader dulu. Lalu, bikinlah perusahaan penerbangan. Anda akan segera jadi jutawan…”

***

Itu memang hanya humor. Tapi, di saat banyak orang ingin mendirikan perusahaan penerbangan dan kemudian ternyata banyak juga yang mengalami kesulitan, humor tersebut tentu cukup mengena.

Punya perusahaan penerbangan, rupanya, memang sangat menggoda. Punya pesawat saja sudah bisa membuat orang kagum, apalagi punya perusahaan penerbangan. Meski harga pesawat (bekas) belum tentu lebih mahal daripada sebuah pabrik kelas menengah, seseorang yang baru saja membeli pesawat akan jadi buah bibir di mana-mana. “Wah, dia beli pesawat” akan jadi kalimat yang bertebaran dari mulut ke mulut.

Sebelum krisis, ketika banyak pengusaha membeli pesawat pribadi, saya melihat seorang konglomerat yang tidak tergoda. Yakni Eka Tjipta Widjaya. Padahal, saat itu, dia konglomerat nomor tiga setelah Liem Sioe Liong dan William Soeryajaya. Saya pernah bertanya mengapa tidak ikut beli pesawat?

Jawabannya dua macam. Yang serius dan yang bercanda. “Bukankah untuk bisa makan sate tidak perlu memelihara kambing sendiri?” ujar Pak Eka setengah bercanda dan setengah berfilsafat. Lalu, dia memberikan jawaban yang serius, tapi juga ada nada candanya: “Kalau saya punya pesawat, dalam praktiknya, orang lain yang akan lebih sering memakai,” katanya. Mengapa? “Tentu akan banyak sekali penguasa yang pinjam. Dan, saya tidak mungkin bisa menolak,” jelasnya.

***

Saya juga ingat suatu saat kedatangan tamu penting. Orangnya sederhana. Tidak pakai dasi dan bajunya juga tidak perlente. Padahal, dia seorang lulusan MIT, sebuah perguruan tinggi paling beken di AS. Padahal, dia seorang presiden direktur sebuah perusahaan penerbangan.

Dia menceritakan optimismenya. Perusahaan penerbangan baru yang kepemimpinannya diserahkan kepadanya akan terus mengalami kemajuan. Dia bangga dengan pilihan strategi untuk menggunakan pesawat yang relatif baru: Boeing 737-300. Bukan seri 200 seperti perusahaan penerbangan swasta yang sudah ada. Dia juga bangga dengan strateginya untuk hanya berfokus melayani jurusan paling gemuk Jakarta-Surabaya.

Di sini dia head on dengan Garuda. Pesawatnya pun dibuat mirip Garuda, sedangkan harga tiketnya lebih murah. Jadwalnya juga dibuat mepet dengan Garuda, sedangkan keberangkatannya selalu diusahakan on time.

Sungguh tak disangka kalau tidak lama kemudian satu per satu jadwalnya hilang. Bahkan, akhirnya rute Jakarta-Surabaya ditutup sama sekali. Tapi, perusahaan tersebut barangkali memang belum sampai jatuh jadi jutawan. Buktinya masih terus berusaha hidup meski hanya menerbangi satu rute.

***

Siapa pun tentu juga masih ingat munculnya perusahaan penerbangan yang sangat spektakuler: Sempati. Pimpinannya seorang MBA dari Harvard. Terobosan manajemennya begitu banyak dan serba mengejutkan. Mulai memperkenalkan sistem city check-in sampai melakukan garansi tepat waktu. Ada pula undian di udara. Yang juga spektakuler adalah kemampuannya untuk hanya transit di suatu bandara selama 20 menit. Padahal, perusahaan penerbangan lain harus 30 atau 40 menit. Dengan waktu transit yang hanya 20 menit, maka kalau sebuah pesawat dari perusahaan penerbangan lain hanya mampu menjalani lima rute sehari, Sempati bisa enam rute.

Bagaimana cara mempersingkat waktu transit? Penumpang diminta keluar dari pintu depan. Sementara itu, dalam waktu hampir bersamaan, petugas kebersihan masuk dari pintu belakang. Dengan demikian, ketika penumpang terakhir keluar dari pesawat, bagian pembersihan sudah menyelesaikan 50 persen lebih tugasnya.

Maka, pimpinan perusahaan penerbangan tersebut menjadi amat terkenal. Di mana-mana ada seminar manajemen, dia jadi pembicaranya. Sering juga bersama saya. Atau, paling tidak, namanya disebut-sebut sebagai contoh jadi baik.

Sungguh tak dinyana kalau umur perusahaan penerbangan itu tidak panjang. Dia tidak hanya jatuh jadi jutawan, malah dinyatakan pailit sama sekali.

***

Lalu, pernah pula ada Awair. Semula banyak dirumorkan bahwa perusahaan penerbangan tersebut punya hubungan dengan Gus Dur sehingga Awair dikira singkatan dari Abdurrahman Wahid Air. Ternyata tidak.

Namun, dalam suatu pertemuan dengan Gus Dur, saya sempat juga terkesima. Waktu saya diterima Gus Dur, di situ sudah ada dua orang pimpinan Awair. Entah apa yang diceritakannya kepada Gus Dur, yang jelas Gus Dur kembali menceritakan kepada saya mengenai betapa membanggakannya Awair. “Sebentar lagi, Awair akan menerbangi rute internasional,” ujarnya. “Bahkan, sudah segera memesan Airbus XXX,” tambah beliau.

Airbus XXX adalah pesawat terbesar yang sedang dibuat yang akan menjadi pesawat terbesar di muka bumi. Pesawat itu begitu besarnya sehingga ada ruang olah raganya. Kabinnya dua tingkat dari muka sampai belakang.

Begitu besarnya pesawat ini sehingga pintu keluarnya pun akan ada yang atas dan ada yang bawah. Dengan begitu, kalau pesawat ini kelak benar-benar dipergunakan, harus banyak bandara yang menyesuaikan diri. Terutama dalam penyediaan “belalai gajah”-nya.

Saya tidak mengira bahwa tak lama setelah pertemuan dengan Gus Dur tersebut, Awair tidak lagi mengudara. Pemiliknya, seorang pengusaha kimia, rugi ratusan miliar. Nama pemilik Awair tetap harum karena bisa menyelesaikan seluruh kewajibannya tanpa cacat. Perusahaan kimianya pun masih terus bertambah besar.

***

Meski sudah banyak yang sulit, rupanya, minat untuk mendirikan perusahaan penerbangan tidak pernah surut. Dalam skala yang amat kecil, ini mirip dengan orang mau bikin koran.

Saya sendiri kini tidak hafal ada berapa perusahaan penerbangan di Indonesia. Begitu banyak nama baru. Sebagai orang yang sering ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, saya amat tertolong. Banyak rute baru dibuka. Rute “aneh-aneh” seperti Pontianak-Batam atau Jogya-Balikpapan kini ada yang menerbangi.

Tarif pun luar biasa murahnya. Kini tidak merasa berat lagi ke Jayapura atau ke Medan. Tinggal kita terus berdoa mudah-mudahan tidak ada lagi yang tutup. Agar tetap banyak rute baru. Memang, terjadinya perang tarif seperti sekarang kadang-kadang menimbulkan pertanyaan: apakah cukup untuk biaya perawatan? Apakah perawatannya dilakukan dengan benar? Bukankah pesawat yang dipakai umumnya yang tahun 1980-an (Boeing 737-200 atau MD-80) yang tentu saja memerlukan perhatian lebih besar?

Begitu kerasnya perlombaan turun tarif tersebut sehingga iklan Sampoerna perlu dikutip di sini: how low can you go!

***

Di tengah lomba turun harga seperti itu, Garuda yang menggunakan pesawat lebih baru tentu tidak akan kuat melayani. Memang Garuda juga menyediakan tarif hanya Rp 199.000 untuk Surabaya-Jakarta, namun itu tidak untuk semua kursi. Sekadar untuk ikut ramai-ramai perang tarif, rupanya. Dengan banyaknya pesawat Lions dan Bouraq jurusan Jakarta-Surabaya, bisa jadi penumpang Garuda memang tersedot ke sana.

Maka, kini Garuda menempuh kiat baru. Balik menyedot penumpang dengan menggunakan pesawat besar untuk Surabaya-Jakarta. Pilotnya pun ikut promosi dengan memberikan pengumuman kepada penumpangnya begini: Selamat datang di dalam pesawat Garuda, pesawat yang paling canggih… Rupanya, dengan menggunakan kalimat “paling canggih”, Garuda ingin mengingatkan bahwa perusahaan lain menggunakan pesawat tahun 1980-an.

Benarkah pesawat yang digunakan Garuda itu yang paling canggih? Sabar dulu. Sang pilot masih meneruskan kata-kata “yang paling canggih” tersebut dengan lanjutan “yang dimiliki oleh Garuda…”

***

Kalau pesawat Concorde mulai kemarin tidak lagi terbang untuk selama-lamanya, tentu tidak ada hubungannya dengan perang tarif. Pesawat itu memang sudah waktunya tidak boleh terbang karena umurnya yang sudah 20 tahun. Kalau saja bisa disewakan ke Indonesia, barangkali saja masih bisa diberdayakan. Namun, mau untuk jurusan mana?

Saya tidak menyesal Concorde mengakhiri masa baktinya. Saya sudah pernah “makan sate”-nya. Saya pernah menggunakan Concorde ketika akan pergi dari London ke New York. Saya akan terus ingat pengalaman itu meski sertifikat saya sebagai orang yang pernah naik Concorde hilang entah di mana.

Yang selalu saya ingat adalah bahwa jarak London-New York hanya saya tempuh 3,5 jam. Saya berangkat dari London pukul 10.00, sampai di New York masih pukul 09.30. Malah lebih pagi setengah jam!

Saya juga masih ingat bagaimana rasanya percepatan laju pesawat itu hingga akhirnya mencapai dua kali kecepatan suara. Juga bagaimana melihat bumi yang melengkung dari ketinggian 60.000 kaki itu!**

Kalau Saja Ada 10 Orang Seperti Dahlan Iskan, Recovery Ekonomi Indonesia akan Sangat Cepat

9 April 2003, on Catatan Dahlan Iskan 
"Kalau Saja Ada 10 Seperti Dahlan Iskan", Ikhsan, "Recovery Ekonomi Indonesia akan Sangat Cepat"

Pontianak,- Prestasi CEO Jawa Pos: H Dahlan Iskan dalam memulai, menjalankan dan mengembangkan roda bisnisnya dipuji ilmuan dari STIESIA Surabaya, Drs Ikhsan Budi M.Si yang hadir di Kota Pontianak dalam rangka pelatihan manajemen koperasi di Pusdiklat Pemprov, Senin (28/4). “Beliau itu hebat karena membangun kerajaan bisnisnya dimulai dari bawah dan tampak sekali disiplin serta kerjakeras melandasinya,” ungkap Ikhsan dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya dikitari peserta pelatihan manajemen koperasi yang berjumlah tak kurang dari 30 orang.

Kata dia, Dahlan Iskan kini terbilang pengusaha sukses yang sangat cinta produk dalam negeri—atau setidaknya amat pro otonomi. “Ini dibuktikan saat Beliau mendatangkan mesin pembuat kertas dari Jerman. Beliau menggunakan ilmuan ITS karena ternyata di Indonesia tidak sedikit manusia cerdas dan pintar,” timpalnya seraya mengakui kepercayaan dirilah yang diperlukan sehingga Indonesia bisa segera recovery ekonomi (penyembuhan ekonomi, Red).

“Kalau ada 10 saja pengusaha seperti Pak Dahlan, recovery ekonomi Indonesia akan sangat cepat,” timpalnya sambil menyebut pabrik kertas milik Jawa Pos di Gersik sudah bisa ekspor ke luar negeri.

Diakui Ikhsan yang juga tak jarang kampusnya bekerjasama dengan Jawa Pos, bahkan Dahlan Iskan menjadi dosen tamu di STIESIA—para pemuda, pengelola koperasi dan pengusaha kecil, patut menjadikannya suri teladan. Tak terkecuali peserta pelatihan di Kalbar.

“Memang kerjakeras dan disiplin ditambah kemampuan memanage bisnis merupakan kunci sukses setiap pengusaha,” ujarnya ketika memberikan paparan materi.

Kehadiran Ikhsan tidak sendiri. Dia ditemani seniornya Drs Ec Sugiyono MM. Dan keduanya datang dalam memenuhi kerjasama PUKK Pupuk Kaltim dalam pelatihan managemen koperasi selama 28-2 Mei.

Di tempat terpisah, Gubernur Kalbar H Usman Ja’far juga sempat termanggut-manggut memuji kepiawaian CEO Jawa Pos Dahlan Iskan. “Saya tahu dari Gubernur Jatim bahwa Pak Dahlan dipercayakan memegang 16 Perusda yang sudah collapse (tumbang, Red) di Jatim dan di bawah managemen Beliau kini sudah menguntungkan,” ujarnya saat Dahlan Iskan hadir presentasi kerjasama power-plant beberapa waktu yang lalu di ruang rapat gubernur.

Lantas apa kata Dahlan Iskan? Nah, seraya senyum dia menimpali, “Saya menerima tawaran Gubernur Jatim itu dengan tiga syarat. Pertama: saya tidak mau digaji! Kedua: apa yang saya lakukan jangan diganggu. Ketiga: jangan berikan fasilitas apapun,” timpalnya.

Lebih lanjut kata Dahlan Iskan, ke-16 perusda yang sudah tidak produktif itu kini sudah produktif dan bisa menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) lebih dari Rp 2 milyar. (kan)

Profil Dahlan Iskan

Profil Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

During the economic crisis, Jawa Pos has kept growing and achieved many awards in business development. In 2000. Jawa Pos received the Best Customer Satisfaction award from Frontier and SWA magazine. In 2001, Jawa Pos CEO. Dahlan Iskan, was appointed as one of the three best CEO in Indonesia and the best CEO in media business, by Indonesian Manager Association (AMI) and SWA Magazine. In 2002, Dahlan Iskan was also awarded the Enterpreneur of the Year by Ernst & Young, and represented Indonesia in World Enterpreneur of the Year contest in Monaco.

sumber : http://id.wikipedia.org

Friday, March 13, 2009

Lawan Obama Tak Pernah Menyerah (2-Habis) Liberal Kurangi Keunggulan AS

Liberal Kurangi Keunggulan AS
On Catatan Dahlan Iskan, Lawan Obama Tak Pernah Menyerah (2-Habis)
JUMAT, 13 MARET 2009


Liberal Kurangi Keunggulan AS

Penyebab kekalahan golongan konservatif atas golongan liberal di Amerika Serikat dalam pemilu lalu, menurut Rush Limbaugh, penyiar radio yang kalau ke mana-mana menggunakan pesawat pribadi itu, sederhana saja. ”Kita telanjur mengira semua orang tahu konservativisme itu apa. Ternyata tidak,” katanya.

”Ternyata banyak orang yang salah mengerti mengenai konservatvisme. Konservativisme dikira seperti yang dikesankan secara klise selama ini: antiras berwarna, fanatik, antiaborsi, anti perkawinan sejenis, dan seterusnya itu,” katanya dalam pidato satu jam di depan konferensi golongan konservatif pekan lalu (lihat seri tulisan ini kemarin).

”Ini karena media-media tertentu sengaja membuat citra begitu. Juga karena golongan liberal di Partai Demokrat selalu mengampanyekan hal-hal seperti itu,” katanya. Media-media yang dia golongkan pro-liberal tersebut misalnya New York Times, Washington Post, CNN, dan hampir semua koran besar di AS pada umumnya.

Lalu siapakah sebenarnya golongan konservatif itu?

Kata Limbaugh, golongan konservatif adalah mereka yang mencintai manusia sebagai perorangan dengan cara melihat dari aspek potensi perorangannya. Bukan manusia sebagai kumpulan orang yang berkelas-kelas. Ini rasanya hanya lawan dari apa yang biasanya dijadikan jargon kalangan komunis yang selalu memandang manusia sebagai lapisan-lapisan masyarakat: lapisan kaya, lapisan miskin, lapisan buruh, lapisan tani, atau lapisan juragan.

Konservatifisme, kata musuh nomor satu Obama ini, lebih menghargai orang per orang lengkap dengan potensi, keinginan, dan ambisinya. Penghargaan inilah yang menjadi dasar perlunya diberikan kemerdekaan dan kebebasan yang penuh kepada warga Amerika orang per orang. Yakni, kebebasan mewujudkan keinginan dan ambisinya sesuai dengan potensi yang ada padanya. Tidak boleh ada peraturan dari mana pun, termasuk dari pemerintah, yang membatasi terwujudnya keinginan dan ambisi orang per orang itu.

Penganut konservatif percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia itu customized setiap orang dibuat tidak ada yang sama. Karena itu, terjadinya perbedaan nasib orang per orang tidak perlu dipersoalkan. ”Harus diberikan kebebasan sepenuhnya kepada siapa pun untuk menjadi apa saja yang terbaik yang diinginkannya. Termasuk kalau dia ingin hidup miskin,” katanya. Memang, tidak ada orang yang ingin hidup miskin, tapi orang yang tidak mau berusaha keras untuk mewujudkan potensi dan ambisinya adalah orang yang pada dasarnya memang ingin hidup miskin.

Pengenaan pajak tinggi kepada orang kaya seperti yang diprogramkan Presiden Obama dalam rancangan APBN-nya, menurut prinsip liberalisme konservatif ini, sama artinya dengan pengekangan terhadap orang yang punya potensi untuk maju dan kaya. Mereka percaya kalau semua orang terus diberi kemerdekaan dan kebebasan, negara akan maju. Sebab, kemajuan negara pada dasarnya disumbangkan oleh orang-orang yang potensi majunya dipergunakan sebesar-besarnya tanpa dihambat sedikit pun. ”Prinsip seperti inilah yang sudah terbukti membuat Amerika maju,” kata Limbaugh.

Dia lantas mengemukakan mengapa Amerika sebagai negara yang baru berumur 300 tahun sudah bisa menjadi superpower tunggal dunia. Mengalahkan negara-negara yang umurnya sudah ribuan tahun. Katanya, ini karena sejak sebelum merdeka dulu Amerika sudah menganut paham konservatifisme. Tanpa memberikan penghargaan dan kemerdekaan yang penuh atas potensi orang per orang, kata Limbaugh, tidak mungkin Amerika menjadi superpower. ”Keunggulan Amerika inilah yang kini diusahakan untuk dihancurkan oleh Obama dan golongan liberal yang lagi berkuasa,” katanya. ”Itulah sebabnya, mengapa saya mengharapkan Obama gagal,” tambahnya.

Padahal, katanya, negara akan sukses kalau warga negaranya secara perorangan semuanya sukses. Karena itu, setiap orang harus mewujudkan ambisi dengan sekuat-kuatnya, tanpa dihambat oleh peraturan apa pun. Terlalu banyaknya peraturan pemerintah, katanya, akan membuat pemerintah sangat berkuasa. Termasuk berkuasa menentukan nasib orang per orang. Akibatnya, lama-lama, tanpa disadari, mematikan potensi orang karena akan membuat orang terlalu menggantungkan nasibnya kepada pemerintah. Tanpa merasa harus berusaha keras merealisasikan potensinya secara sungguh-sungguh.

Upaya mengentas kemiskinan dengan cara memberikan bantuan seperti yang akan dilakukan Obama (meniru negara-negara lain yang menganut prinsip negara ksejahteraan), kata Limbaugh, pasti gagal. Kemiskinan tidak bisa diberantas dengan cara yang kelihatannya memberi bantuan, tapi sebenarnya mematikan potensi orang untuk bangkit. Yang dilakukan pemerintah seperti itu, katanya, sebenarnya hanya memanfaatkan orang miskin untuk kekuasaannya sendiri.

Bahkan, Limbaugh menyamakan pemungutan pajak kepada orang kaya itu pada dasarnya sama saja dengan pencuri harta orang lain. ”Kalau saja itu dilakukan perorangan, hukumnya sudah kriminal,” katanya.

Bagi kita yang di luar Amerika, kadang memang sulit memahami perbedaan antara ideologi liberalisme dan kapitalisme seperti itu. Kita memang sudah dibiasakan menganggap kedua-duanya musuh Pancasila. Kita sudah telanjur biasa mengira liberalisme dan kapitalisme itu satu ”binatang”. Jangankan belajar membedakannya, memikirkannya pun dianggap tidak perlu.

Baiknya, pertentangan itu di sana dibicarakan secara terbuka. Bahkan, dibicarakan sambil tertawa-tawa. Buktinya, pidato Limbaugh itu tidak ubahnya hiburan: penuh tepuk tangan dan tawa ger-geran. Kalau toh ada yang emosional, tetap saja terbatas pada kata-kata. Atau maksimum unjuk rasa. Itu pun unjuk rasa yang tidak destruktif. Dengan demikian, masyarakat yang pada umumnya sebenarnya tidak peduli, tidak terpancing ke mana-mana. Di AS, yang tidak tergolong dua golongan itu kira-kira mencapai 30 persen. Sisanya, condong ke liberalisme atau kapitalisme dengan jumlah yang hampir sama, naik turun.

Di kita, dengan demokrasi yang baru berumur 10 tahun, juga mulai terbiasa melihat banyak golongan yang masing-masing memidatokan prinsip-prinsip dan keinginan masing-masing. Atau yang saling mencela prinsip golongan lain. Kita, pada umumnya, juga sudah tidak terlalu peduli dengan semua itu. Bahkan, banyak juga yang kangen melihat seringnya iklan partai tertentu muncul di televisi hanya karena gambarnya menarik tanpa mengubah pandangan pribadinya. Kita juga sudah terbiasa melihat beberapa orang yang digolongkan ekstrem melakukan pidato di sana-sini. Tidak ada yang merasa takut lalu lari.

Seorang teman yang dalam Salat Id lalu ternyata harus mendengarkan khotbah Al Ustad Abubakar Baasyir yang sangat keras di dekat rumahnya, ya tetap saja salat sampai akhir meski dia kemudian menceritakan isi khotbah itu kepada teman-temannya dengan cara sambil tertawa-tawa. Kata-kata ekstrem pun kini sudah dianggap sebagai hiburan. (habis)

Thursday, March 12, 2009

Lawan Obama Tak Pernah Menyerah(1) "Serang Presiden Sejam, 51 Kali Tepuk Tangan"

Serang Presiden Sejam, 51 Kali Tepuk Tangan
on Catatan Dahlan Iskan Lawan Obama Tak Pernah Menyerah (1)
KAMIS, 12 MARET 2009
Serang Presiden Sejam, 51 Kali Tepuk Tangan
       Pidato nasional Presiden Barack Obama mengenai rencana pendapatan dan belanja negara yang baru (2010) minggu lalu membuat golongan konservatif semakin meneguhkan sikap bahwa Obama memang benar-benar sedang membawa Amerika Serikat menuju ke “kiri”. Ini membuat golongan “kanan” yang semula masih berharap bahwa setelah terpilih Obama bisa lebih ke “tengah” kehilangan harapan itu. Maka, golongan “kanan” pun kini semakin mengonsolidasikan diri.

Wujud konsolidasi yang terbaru dan terjelas adalah diadakannya konferensi golongan kanan yang disebut “konferensi aksi golongan konservatif” di Washington pekan lalu. Yang hadir 6.000 orang dan disiarkan langsung oleh jaringan TV Fox News ke seluruh negara. TV Fox News dicitrakan sebagai jaringan TV yang dekat dengan golongan “kanan”, yang berarti berseberangan dengan jaringan TV CNN yang dicitrakan dekat dengan golongan liberal.

Bintang pada konferensi itu adalah Rush Limbaugh, penyiar radio dengan gaji Rp 300 miliar setahun, yang kini menjadi lawan utama Presiden Obama di akar rumput. Keberaniannya melawan Obama secara terbuka bukan saja membuat pendengar siaran Limbaugh yang mencapai 30 juta orang itu naik terus, tapi juga membuat dia laris sebagai penceramah di mana-mana. Pada konferensi golongan konservatif pekan lalu itu dia mendapat alokasi pidato satu jam!

Pidatonya luar biasa menarik. Dari catatan saya saja, 51 kali tepuk tangan meriah diberikan kepadanya. Limbaugh juga membuat hadirin tertawa ngakak sampai 16 kali. Bahkan, beberapa kali tepuk tangan itu disertai teriakan-teriakan koor, rasanya sampai enam kali. Bahwa pidato itu sangat sugestif bisa dilihat dari seringnya hadirin meneriakkan kata seperti “huuu” setiap Limbaugh mengucapkan nama tertentu. Limbaugh sendiri juga kuat dalam bermimik, sampai-sampai untuk mengucapkan kata tertentu dia menunjukkan wajah yang sedang meringis atau mulut yang mencep (bahasa Jawa, untuk menunjukkan gerak bibir yang bisa mengesankan sedang meremehkan lawan, seperti yang sering diperagakan Megawati dalam wawancara di acara Kick Andy di Metro TV bulan lalu).

Limbaugh benar-benar seimbang kalau diperlawankan dengan Obama dalam hal kepintaran berpidato. Dari segi isi, pidato Limbaugh juga sangat dalam. Saya malah menarik kesan bahwa dia bisa jadi “ideolog” aliran konservatif. Seolah-olah dialah orang yang paling sah menafsirkan apa itu ideologi konservatif di Amerika. Dia bisa menjelaskan dengan baik apa itu ideologi “kanan” golongan konservatif dengan cara yang sangat mudah dimengerti (lihat lanjutan tulisan ini besok).
Dari segi lahiriah, pidato Limbaugh bahkan jauh lebih menarik daripada Obama. Pilihan kata-katanya sama hebatnya dengan Obama, tapi Limbaugh lebih lebih sering memeragakan humor, baik dengan kata-kata maupun gerakan.

Waktu memulai pidato itu saja, Limbaugh sudah memesona dengan kisah humornya. Tentu sebuah humor yang sekaligus mengejek lawan politiknya di media massa, yang juga tidak kalah terkenal dan legendarisnya itu: Larry King, penyiar TV CNN, yang tentu dari golongan liberal. Bedanya, Larry King adalah “raja” di televisi, sedangkan Limbaugh “raja” di radio. Limbaugh masih muda, sedangkan Larry King (sebagaimana bisa dilihat di televisi) sudah kelihatan sekali rentanya. Tentu Limbaugh merasa lebih tinggi daripada King karena kedalamannya dalam dunia ideologi.

Humor di pembukaan itu juga multitujuan karena bisa sekaligus menjelaskan mengapa orang selama ini menilai Limbaugh sebagai orang yang arogan atau sombong. Dia menganggap dirinya bukanlah orang yang sombong. Dia memang orang yang hebat! Simaklah humornya ini:

Ketika Larry King meninggal dunia, dia dipersilakan oleh penjaga surga, Saint Peter, untuk melihat-lihat suasana indahnya surga. “Selamat datang Mr King, senang Anda mati dan bisa sampai di sini. Saya persilakan Anda melihat-lihat suasana di sini sebelum memutuskan Anda akan memilih tempat yang mana. Ada pertanyaan?” ujar Saint Peter.

“Saya hanya ada satu pertanyaan saja. Apakah Rush Limbaugh ada di sini?” tanya Larry King. Tentu dengan nada yang iri.

“Tidak. Dia tidak ada di sini. Dia masih belum punya waktu. Dia masih muda,” jawab Saint Peter.

Lalu, Larry King jalan-jalan di surga, melihat-lihat tempat-tempat yang tak tepermanai indahnya. Lalu dia masuk ke bangunan yang paling indah dan paling besar. Begitu masuk, Larry King kaget melihat mahkota dengan tulisan Rush Limbaugh di mahkota itu.

“Bukankah Anda mengatakan Rush Limbaugh tidak di sini?” tanya Larry King dengan penuh khawatir kepada Saint Peter.

“Memang tidak. Ini kan kamarnya Tuhan. Itu mahkotanya Tuhan. Tuhan saja yang selalu berobsesi untuk bisa seperti Limbaugh!” jawab Saint Peter.

Hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Rush Limbaugh lantas menggarisbawahi kesimpulan humor itu. “Jadi, siapa bilang saya itu sombong?” katanya.

Di awal pidato itu dia juga mencitrakan dirinya sebagai orang yang penting, lawan utama Obama dan tentu lawan seluruh golongan liberal. Tentu akan banyak ancaman melalui telepon selama dia berpidato itu nanti. “Tidak apa-apa. Sudah ada petugas yang menerima telepon di belakang,” katanya.

Lalu Limbaugh mengemukakan bahwa hadirin tidak perlu waswas akan keamanan dirinya. Bagian ini juga bisa mengesankan bahwa dirinya adalah orang yang penuh percaya diri dan satiris sekaligus humoris. “Saya perkenalkan inilah kepala keamanan saya. Namanya Joseph Stalin. Saudara Joseph mohon berdiri…,” ujar Limbaugh tanpa menjelaskan apakah nama yang menakutkan itu bagian dari kepintarannya menyeram-nyeramkan keadaan. Joseph Stalin adalah nama yang amat terkenal sebagai pemimpin tertinggi komunis dunia di masa lalu yang menakutkan.

“Jadi, di bawah pengamanan Joseph Stalin, saya safe di sini. Dijamin tidak akan ada serangan dari golongan liberal. Mana mungkin golongan liberal berani melawan Stalin,” guraunya.

Pidato Limbaugh hari itu memang luar biasa sengitnya menyerang golongan liberal yang dia tuduh sebagai golongan kiri dan sedang membawa Amerika Serikat ke arah kiri. Terutama bisa dilihat dari kebijaksanaan APBN Obama yang, dia nilai, sangat pro-orang miskin dan antiorang kaya. “Amerika harus kita rebut kembali,” seru Limbaugh.

Namun, Limbaugh juga menyadari bahwa golongan kanan lagi mengalami kesulitan yang sangat besar. Terutama untuk bisa merebut kembali Amerika dari golongan liberal. “Kita memang sedang dalam krisis kepemimpinan,” katanya.

Golongan kanan memang masih sangat sulit memilih siapa yang bisa tampil di depan. George Bush sudah terbukti kalah angin. Dia tidak mau menampilkan lagi tokoh puncak yang pernah menjadi presiden dan ketika menjabat terbukti payah. John McCain juga sudah terlalu tua dan sudah terbukti kalah dalam pemilu lalu. Sarah Palin memang sangat “kanan”, tapi belum bisa jadi tokoh nasional. Ada calon lain yang muda, pintar, dan hebat. Dia adalah Bobby Jindal, Gubernur Lousiana. Tokoh yang baru 38 tahun itu juga seperti Obama, tidak sepenuhnya kulit putih. Jindal adalah keturunan India. Tapi, rasanya juga kurang menarik bagi golongan kanan yang sangat fanatik kulit putih.

Mereka harus mencari yang sebanding dengan Obama. Limbaugh memuji kehebatan Obama habis-habisan. Mulai kepintaran otaknya dan terutama cara berkomunikasinya. “Sayangnya, dia ingin membawa Amerika bangkrut. Jadi, saya harap dia gagal sebagai presiden,” ujarnya. (bersambung)

Wednesday, March 11, 2009

Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (3)

Penantang Lain Tuduh Presiden Perang Melawan Investor 
on Catatan Dahlan Iskan: Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (3)

Penantang Lain Tuduh Presiden Perang Melawan Investor
Penantang utama Presiden Barack Obama lainnya adalah penyiar televisi. Bukan sembarang penyiar, dia adalah pengasuh acara yang khusus mengomentari masalah ekonomi dan keuangan di TV nasional CNBC. Dia seorang doktor ekonomi terkemuka, wartawan senior, dan juga pengajar di beberapa universitas penting. Dia juga pernah menjabat kepala tim ekonomi perusahaan keuangan raksasa Bear Stearns yang kini sudah bangkrut itu.

Dulu dia pengikut Partai Demokrat. Namun, sejak Presiden Ronald Reagan (Republik) masuk Gedung Putih, dia menjadi pejabat tinggi di pemerintahan itu. Dialah yang waktu itu mengurusi manajemen dan anggaran pemerintah. Dia seorang Yahudi, namun dalam proses penyembuhan dirinya akibat ketagihan alkohol dan narkoba di pertengahan 1990 lalu masuk Katolik. Lalu jadi badan penasihat Ave Maria Mutual Fund.

Namanya: Larry Kudlow.

Acara yang diasuhnya adalah: The Kudlow Report.

Tiap hari dia nongol di stasiun televisi dan setiap hari pula dia menyampaikan komentar mengenai langkah-langkah Obama yang dia nilai salah besar. Pidato nasional Obama yang berisi penjelasan prinsip-prinsip APBN yang akan dia ajukan ke DPR pekan lalu, dinilai Kudlow sebuah pemikiran hancur-hancuran. Kudlow yang juga dikenal sebagai salah satu dari 250 ahli ekonomi yang menandatangani petisi perlunya Presiden George Bush melakukan ”perang melawan terorisme”, kali ini menganggap pidato Obama itu sebagai ”perang melawan investor”.

Sebagai orang yang setiap hari harus mengomentari perkembangan ekonomi dan bursa saham, rupanya Kudlow sumpek melihat harga saham yang terjun bebas justru sejak Obama terpilih dalam pemilu sampai dia mengucapkan pidato nasional pekan lalu. “Inilah sebuah pidato untuk menyatakan perang terhadap investor, pengusaha, perusahaan, dan apa saja yang berbau ekonomi,” katanya.

Pidato Obama itulah yang menurut Kudlow menjadi penyebab harga saham merosot sampai tinggal 6.500-an (dari yang tertinggi 14.000-an) sesaat setelah Obama menyelesaikan pidatonya. Dari pidatonya itu Kudlow menganggap Obama juga anti perusahaan besar, anti kekayaan pribadi, dan anti venture capital. Kebijakan Obama dia nilai sebagai ”kebijakan anti pertumbuhan”. Di saat yang sama Obama mengikuti kebijakan ”pajak tinggi”. Maka, Kudlow menyimpulkan secara sangar: ekonomi Amerika akan mengalami stagflasi. Yakni, di satu pihak menghadapi inflasi (kenaikan harga-harga barang), di pihak lain tidak ada kontraksi.

Keadaan stagflasi dalam ekonomi sama dengan kondisi orang sakit liver yang komplikasi dengan sakit gula. Livernya menghendaki tambahan gula, sedangkan sakit gulanya menghendaki jangan makan gula.

”Sama sekali tidak masuk akal,” ujar Kudlow. ”Baik dilihat dari kacamata mengatasi krisis sekarang ini atau dilihat dari usaha jangka panjang untuk melakukan ekspansi ekonomi,” tambahnya.

Kudlow memang termasuk ahli ekonomi yang beraliran ‘’supply side economy” -bahkan dia mendirikan persatuan untuk ahli-ahli ekonomi yang menganut aliran bahwa untuk bisa tumbuh ekonomi itu perlu dorongan. Karena itu, ahli seperti Kudlow selalu berpendapat bahwa pajak harus serendah-rendahnya agar orang bisa menggunakan uangnya untuk meningkatkan usaha. Dengan teori ini, iklim usaha akan bergairah dan ekonomi tumbuh subur.

Bahkan, menurut ahli aliran ini, pajak bumi dan bangunan, pajak dividen, dan pajak capital gain itu sama sekali tidak perlu ada! Di Indonesia pajak untuk dividen (pembagian laba perusahaan) adalah 10 persen, dan pajak capital gain 28 persen. ”Supply side economy” adalah aliran yang berpendapat bahwa untuk menggairahkan orang-orang agar memperbanyak produk barang dan jasa haruslah dengan cara memberi mereka iming-iming (insentif) yang menarik. Biasanya iming-iming itu diwujudkan dalam penentuan pajak yang rendah atau tanpa pajak sama sekali dan dikuranginya peraturan-peraturan pemerintah sampai sesedikit mungkin. Istilah ‘’supply side economy” itu sendiri belum lama diciptakan. Baru pada 1975 oleh wartawan terkemuka, Jude Wanniski. Di dalam term ekonomi politik, istilah itu sering disamakan dengan apa yang popular disebut “trickle down effect” atau teori “tetesan ke bawah”.

Kini aliran ini memang lagi “mati angin” karena hasil maksimalnya ternyata kerakusan dan kerakusan inilah yang sudah disepakati sebagai penyebab terjadinya krisis global yang sangat berat sekarang ini. Tapi, aliran ini berpendapat bahwa krisis adalah sesuatu yang wajar yang harus diatasi dengan sistem pasar bebas pula. Perusahaan yang memang harus mati biarlah mati dan kelak terbentuk lagi keseimbangan baru sambil belajar dari pengalaman masa lalu.

Kalau aliran ini tetap dipertahankan (sebagaimana yang dianut di zaman George Bush bahkan dimulai sejak Ronald Reagan dan Clinton), keadaan memang sakit, tapi pada titik tertentu akan sembuh sendiri. Tentu dengan doa mudah-mudahan tidak ada yang lupa bahwa tawaran bunga tinggi itu bisa saja ternyata membuat uang justru melayang.

”Apa yang dilakukan Obama sekarang ini tidak lain hanya mengulangi apa yang dilakukan Lyndon B. Johnson dan Richard Nixon dulu,” ujar Kudlow. ”Menjauhi apa yang sudah dilakukan Clinton dan Reagan,” tambahnya. Kudlow pun lantas mengejek teman-temannya sesama profesional keuangan yang bekerja di bursa saham yang dalam kampanye lalu selalu mendukung Obama dengan slogan ”perubahan”-nya. Dengan kata lain, Kudlow seperti ingin mengatakan kepada mereka “rasain” sekarang. Tidak ada kegairahan sama sekali di pasar modal. Setiap hari yang ada adalah kemurungan, kelesuan, dan putus asa.(*)

Tuesday, March 10, 2009

Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (2) "Mengejek Tiga Jam Sehari di 650 Radio"

Mengejek Tiga Jam Sehari di 650 Radio
on Catatan Dahlan Iskan, Lawan-Lawan Obama yang Mulai Tumbuh (2)
SELASA, 10 MARET 2009

Mengejek Tiga Jam Sehari di 650 Radio

Memang tidak fair menilai Presiden Barack Obama gagal. Dia baru dua bulan menjadi presiden dan mewarisi kekacauan ekonomi yang gawat. Tapi, orang seperti Rush Limbaugh tidak mau tahu. Apalagi, keadaan ekonomi tidak berhenti merosot. Harapan yang terlalu besar kepada Obama dalam pemilu lalu rupanya mulai menimbulkan putus harapan.

Orang akan memaklumi kalau Obama belum bisa membuat ekonomi lebih baik. Tapi bahwa ekonomi kenyataannya kian merosot drastis (sejak terpilih hingga sebulan setelah jadi presiden harga saham merosot 3.000 poin) sama sekali di luar harapan. Apalagi, Obama sudah gagal dalam dua hal. Pertama, mewujudkan keyakinannya bahwa dia bisa menjadi tokoh pemersatu bangsa. Kedua, kampanyenya untuk membeli produk dalam negeri juga gagal.

Upayanya mempersatukan suara Demokrat dan Republik di Kongres (agar bisa bersama-sama menyelesaikan krisis) sudah gagal dalam ronde pertama. Memang, dia bisa mengegolkan paket stimulus hampir 1 trilun dolar AS, tapi harga politiknya sangat mahal: semua anggota dari Partai Republik tidak memberikan persetujuan. Bahkan, orang seperti John McCain yang begitu kalah berjanji untuk bersama-sama memecahkan masalah bangsa sudah merasa diabaikan oleh Obama.

Mengenai kampanye membeli produk dalam negeri, tentu agak sulit dilaksanakan di lapangan. Mana yang produksi Amerika sendiri? Problem ini akan sama dengan kampanye serupa di Indonesia. Mayoritas barang adalah produksi asing.


Salah satu penyebabnya, sebagaimana yang saya alami di pabrik steal conveyor belt milik Perusda Jatim, pajak impor bahan bakunya lebih tinggi (15 persen) dibanding pajak untuk mendatangkan barang yang sudah jadi (5 persen). Bahkan, pabrik satu-satunya di Indonesia yang kami dirikan dengan modal Rp 50 miliar dengan maksud mengurangi impor ini baru saja harus tutup dua bulan karena persoalan bahan baku seperti itu.

Di AS beredar luas juga mengenai barang apa yang harus dibeli kalau rakyat harus menuruti kampanye Obama. Terutama, penggunaan dana rakyat yang dialokasikan untuk stimulus ekonomi itu. Lihatlah humor di bawah ini:
Bila Anda belanja di Wal-Mart, semua uang itu akan mengalir ke China.
Bila Anda beli bensin, semua uang itu akan mengalir ke Arab atau Venezuela.
Bila Anda membeli komputer, uang itu akan mengalir ke Taiwan.
Bila Anda membeli buah atau sayur, uang itu akan mengalir ke Meksiko.
Bila Anda membeli mobil, uangnya akan mengalir ke Jepang atau Korea.
Bila Anda membeli heroin, uangnya akan mengalir ke Taliban di Afghanistan.
Bila Anda menggunakan uang untuk menyumbang yayasan sosial, uangnya akan mengalir ke Nigeria.

Praktis uang itu hanya bisa dibelanjakan untuk nonton basket, minum bir, dan membuat tato di tangan.
Maka kalau di masa George Bush ada tokoh perfilman seperti sutradara Michel Moore yang terus memburuk-burukkan citra Bush lewat film-filmnya, di masa Obama ini ada Rush Limbaugh, sang penyiar radio yang amat terkenal. Kalau Moore hanya sempat membuat dua film (9/11 dan Sicko) selama lima tahun kepemimpinan Bush yang kedua, Rush Limbaugh bisa setiap hari selama tiga jam di 650 stasiun radio mengejek Obama.

Lihatlah tantangannya yang selalu dia ucapkan dan dikutip jaringan video yang tersiar sangat luas. Tantangan itu dia berikan karena dia merasa Gedung Putih tetap ngotot dengan rencana perubahan misi negara. Juga karena Limbaugh merasa Obama terus menyerangnya. Misalnya, suatu saat Obama pernah menilai bahwa banyaknya tindak kriminalitas yang berlatar belakang kebencian adalah buah kampanye Limbaugh yang konservatif itu. Tahun lalu tindak kriminalitas atas orang Hispanic naik dua kali lipat.

Limbaugh memang pernah menerbitkan buku tentang imigran dari Amerika Latin yang dikenal sebagai Hispanic itu. Imigran Hispanis kini menjadi imigran terbesar di AS. Bukan saja isinya sangat keras, tapi gaya mengucapkannya benar-benar sangat provokatif: Judul bukunya: His Panic: Why American Fear Hispanic in the US! ”Saya tidak akan menjabat tangan seseorang yang telah membuat kerusakan,” katanya.

Obama pernah mengecam Limbaugh sebagai xenophobia. Dan, Limbaugh sangat terganggu dengan penilaian itu. ”Dia menuduh saya xenophobia? Menuduh saya harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa kriminalitas. Hati saya sungguh terganggu dengan tuduhan itu,” katanya. ”Obama bilang dia akan jadi tokoh pemersatu. Bagaimana mungkin menuduh saya begitu.” tambahnya.

Maka dia tantang Obama untuk berdebat. Lihatlah tantangannya ini. ”Begini saja. Kalau orang-orang ini (maksudnya Obama dan pejabat tingginya) merasa diri mereka begitu hebat dan kalau mereka memang merasa bahwa merekalah yang sangat benar, mengapa tidak Presiden Obama datang ke studio saya ini dan bicara di talk show ini. Kita akan debat satu lawan satu mengenai ide-ide sampai kebijakan-kebijakan. Semua disiarkan utuh. Mari kita berdebat. Saya tawarkan Presiden Obama datang ke sini tanpa didampingi staf, tanpa teks yang bisa dibaca, tanpa kertas-kertas catatan (tanpa krepekan) untuk mendebat saya mengenai semua isu yang saya lontarkan. Mari debat soal pasar bebas. Mari debat soal kesehatan dan peningkatan pajak untuk usaha kecil. Mari debat soal new deal versus Reaganomics. Mari debat soal penutupan tahanan Guantanamo Bay. Mari debat soal pengiriman uang 900 juta dolar AS ke Hamas. Mari debat soal imigran gelap dan lemahnya hukum di perbatasan. Mari debat soal besarnya defisit anggaran dan hancurnya harapan untuk generasi yang akan datang. Mari debat soal Acorn, provokator masyarakat dan mengenai buruh...”.

Masih banyak lagi agenda yang dia tawarkan. Melihat video pidato-pidatonya (dan bicaranya di corong radio) Limbaugh memang kelihatan sebagai orator yang luar biasa.

Mengingat pengaruh Rush Limbaugh lebih besar daripada partai oposisi, pekan-pekan depan ini akan menjadi sangat menarik untuk mengikuti bagaimana Obama menyikapi penyiar radio yang gajinya Rp300 miliar setahun itu. (bersambung)

Monday, March 9, 2009

Lawan-lawan Obama yang Mulai Tumbuh (1) Oposan Terbesar Itu Seorang Penyiar Radio

Oposan Terbesar Itu Seorang Penyiar Radio
on Catatan Dahlan Iskan, Lawan-lawan Obama yang Mulai Tumbuh (1)
SENIN, 09 MARET 2009

Oposan Terbesar Itu Seorang Penyiar Radio

KINI mulai muncul lawan-lawan yang membahayakan presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Obama. Yang mengejutkan, musuh utamanya kini adalah seorang penyiar radio. Tentu kubu oposisi, Partai Republik, juga kian menunjukkan penentangannya, tapi tidak setelak penyiar radio itu. Maklum, Partai Republik sedang krisis kepemimpinan.

Begitu krisisnya sampai-sampai seorang pejabat Gedung Putih yang tentunya menjadi pendukung utama Obama melemparkan isu bahwa ketua umum Partai Republik yang sebenarnya saat ini adalah si penyiar radio itu. Karena Gedung Putih selalu menanggapi omongan penyiar radio tersebut, sang penyiar itu pun kian berkibar. Namanya bukan main ngetopnya seminggu terakhir ini: Rush Limbaugh.

Jumlah pendengarnya benar-benar fantastis. Terbanyak di antara pendengar siaran radio apa pun. Bahkan, ketika serangannya kepada Obama kian keras, jumlah pendengarnya terus berkembang. Harian Washington Post menyebut sampai 25 juta orang. Komentator terkemuka Pat Buchanan menyebut sampai 30 juta.


Televisi Fox News menyebutkan 19 juta orang.

Obama yang kelihatannya juga sangat mementingkan pencitraan terasa sekali terganggu oleh Rush Limbaugh. Sampai-sampai dia mengimbau secara langsung agar pendukung Partai Demokrat tidak lagi mendengarkan siaran Rush Limbaugh.

Tapi, Rush Limbaugh kian ”ganas”. Pernyataannya yang terakhir justru tidak tedeng aling-aling lagi. ”Saya menginginkan Obama gagal,” katanya. Maka, gegerlah. Di tengah-tengah upaya pemulihan ekonomi, di tengah-tengah suasana krisis yang kian berat, Amerika Serikat juga menghadapi masalah ”kesatuan bangsa” yang berat di dalam negeri.

Rush Limbaugh mengasuh acara yang disebut Limbaugh Show selama tiga jam pada pukul 12.00 siang waktu Amerika bagian timur atau jam 10 pagi waktu Amerika bagian barat. Semua itu disiarkan dalam sebuah jaringan radio yang direlai di berbagai wilayah seluruh Amerika.

Pendengar Limbaugh umumnya memang masyarakat yang beraliran konservatif, pendukung utama Partai Republik. Mereka amat menyukai orang seperti George Bush atau Sarah Palin (gubernur Alaska yang mantan pasangan John McCain dalam pemilihan presiden yang lalu) dan sangat fanatik kepada kulit putih. Krisis kepemimpinan di Partai Republik menyebabkan tidak ada tokoh kuat yang bisa menjadi sandaran aspirasi golongan konservatif itu. Apalagi, pimpinan partai juga dituntut untuk lebih negarawan. Bukan saja di dalam partai itu juga terdapat banyak anggota yang beraliran lain, tapi soal-soal yang sensitif seperti soal ras tidak bisa secara leluasa menjadi agenda partai. Di saat seperti inilah, ketika ada orang yang anti-Obama dengan terang-terangan dan gayanya juga menarik, pengikutnya sangat banyak.
Bulan lalu, ketika perkumpulan orang konservatif Amerika mengadakan kongres, Rush Limbaugh juga diminta untuk menjadi pembicara. Di forum besar itu. sekali lagi, dia menegaskan harapannya agar Obama gagal. Sambutan dari yang hadir bukan main meriahnya. Tepuk tangan meriah berkali-kali menyambutnya. Bahkan, ketika beberapa pernyataan yang amat keras mengecam Obama, hadirin sampai bertepuk tangan sambil berdiri.

Rush Limbaugh seumur dengan saya: 58 tahun. Dia lahir di negara bagian yang memang terkenal dengan sifat masyarakatnya yang konservatif: Missouri. Keluarganya orang-orang terhormat: politisi dan pengacara terkenal. Bahkan, kakeknya menjadi pejabat tinggi negara. Limbaugh sendiri hanya tamatan SMA di daerah asalnya karena gagal menyelesaikan kuliah. Dia sempat masuk ke Universitas Southeast Missouri, tapi hanya bertahan dua semester. Penyebab kegagalan kuliahnya itu--sebagaimana dikemukakan ibunya kepada berbagai media-- hanya satu: gagal di semua bidang mata pelajaran! ”Bahkan, dia gagal pada ’pelajaran’ dansa di lantai-lantai dansa yang sebenarnya,” tutur ibunya lagi.
Limbaugh memang tidak tertarik kepada apa pun. Dia hanya menginginkan satu hal: menjadi penyiar radio. Rupanya dia sangat fokus sejak dari jiwa dan pikirannya. Maka, begitu gagal kuliah, dia pergi merantau ke tempat di mana bisa memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi penyiar. Pergilah dia ke Negara Bagian Pennsylvania dan menjadi disc jockey (DJ) di sebuah radio. Berhasil. Dia terpilih sebagai top-40 disc jockey terbaik.

Dengan modal prestasinya itu, dia berpindah-pindah ke banyak kota: Kansas City, Sacramento, dan banyak kota lainnya untuk menjadi pengasuh acara talk show di radio. Terakhir, pada 1988, dia berhasil masuk ke New York. Dia diterima di Radio WABC (770 AM) dan berkibar di situ hingga sekarang. Bahkan, Limbaugh menjadi sangat berjasa dalam mengangkat kembali citra radio AM setelah pada 1970-an digusur oleh FM. Radio AM waktu itu dianggap tidak sebaik FM dalam memperdengarkan musik. Padahal, acara Limbaugh lebih mengutamakan talk show. Talk show-nya yang sangat sukses juga bisa menjadi jalan keluar bagi pemilik-pemilik radio AM di berbagai wilayah. Maka, kian banyak radio AM yang minta merelainya ?bahkan sampai-sampai ada pula radio FM yang ikut bergabung. Terakhir sampai 650 radio yang ikut menyiarkan Rush Limbaugh Show.

Gaya talk show-nya yang menggabungkan antara memberikan kuliah sungguhan sambil mendengarkan musik dan mempermainkan soal-soal politik membuat Limbaugh seperti seorang penghibur, guru, dan juga politikus. Limbaugh juga pintar dalam mengambil hati dan menyerap aspirasi pendengarnya (terutama aspirasi golongan konservatif) sehingga dialah yang sebenarnya ”bukan anggota DPR” yang bisa disebut mewakili suara rakyat golongan itu. Itulah sebabnya, pada masa lalu, para anggota DPR dari Partai Republik memberikan penghargaan kepadanya sebagai ”anggota DPR kehormatan”. Atau, ”anggota DPR yang tidak resmi”. Itu lantaran keberhasilan Partai Republik dalam menguasai kursi di DPR pada 2004 tidak bisa dilepaskan dari jasa Rush Limbaugh.

Obama yang kini gencar-gencarnya menyusun agenda penanganan krisis tentu tidak menginginkan suasana panas di akar rumput itu terus berkembang. Apalagi, agenda perubahan yang disiapkan Obama sangat mendasar sehingga akan banyak sekali mengundang pro-kontra.

Panasnya suasana di akar rumput, terus merosotnya harga saham di Wall Street, kian melonjaknya pengangguran, dan sensitifnya isu-isu yang akan dibawakan Obama tentu akan membuat perdebatan di DPR nanti sangat ketat. Padahal, APBN itu sudah harus mulai berlaku 1 Oktober depan. Tidak banyak lagi waktu bagi DPR untuk memperdebatkan.

Karena itu, banyak aspirasi yang menyarankan agar Obama mengabaikan saja penyiar radio tersebut. ”Tetaplah konsentrasi kepada misi untuk mengatasi krisis dan membawa perubahan,” tulis salah satu komentar di internet. Tapi, berdasar survei salah satu situs politik di sana menyimpulkan, 51 persen berpendapat bahwa Obama tidak boleh mengabaikan hal tersebut.

Salah satu isu yang akan sangat menghebohkan adalah rencana perubahan sistem kesehatan nasional yang, antara lain, didukung oleh Senator Ted Kennedy. Kennedy adalah orang yang seumur hidupnya memperjuangkan perlunya reformasi sistem kesehatan di AS. Dan, baru pada masa Obama ini idenya itu bisa diterima dan sudah dimasukkan sistem APBN yang sedang diusulkan ke DPR.

Tapi, Limbaugh juga sangat tidak menyukai perubahan itu. Begitu sengitnya perlawanan Limbaugh kepada pemerintahan Obama sampai-sampai dia terus mengampanyekan kata-kata ini: Saya mengharapkan Senator Ted Kennedy meninggal tepat di saat UU baru sistem kesehatan nasional itu disahkan. Ted kini memang sakit-sakitan. Dan, dia ingin bisa melihat perjuangannya itu berhasil sebelum dirinya meninggal. Dengan sinisnya, Limbaugh mengatakan dalam siarannya, ”Jadilah UU itu nanti sebuah UU yang diberi nama UU yang hanya untuk mengenang Ted Kennedy.”

Komentar itu meski memuaskan pengikutnya tentu sangat memukul Kennedy. Apalagi, saat itu dia sedang sakit dan dalam kadaan seperti itu dia paksakan untuk ikut pertemuan puncak sistem kesehatan nasional. Karena itu, tokoh Demokrat menilai kata-kata Limbaugh tersebut telah melampaui batas dan memalukan. ”Para tokoh Partai Republik harus menghentikan Limbaugh dan mengatakan kepadanya bahwa cukuplah sudah,” kata Brian Wolf, tokoh Demokrat.

Tapi, Limbaugh tidak peduli. Bahkan, dia memanfaatkan situasi ekonomi yang sangat memburuk pekan lalu. ”Obama berbicara soal kesehatan terus kerena dia gagal mengatasi krisis ekonomi,” kecamnya. (bersambung)

Thursday, March 5, 2009

Banyak Bunuh Diri, Suku Bunga Makin Tinggi "Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (2)"

Banyak Bunuh Diri, Suku Bunga Makin Tinggi
on Catatan dahlan Iskan, KAMIS, 05 MARET 2009


Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (2)
          Wenzhou dan sekitarnya memang sangat menarik bagi saya. Wilayah ini sering saya sebut sebagai contoh berkembangnya sistem ‘’paling kapitalis’’ dalam sebuah negara komunis. Saya selalu mengamati bagaimana musuh komunisme itu bisa hidup makmur di negara komunis. Lebih menarik dari pengalaman saya dulu ke Samarkhan untuk melihat bagaimana masjid (dan makam Imam Bukhori) bisa hidup di negara komunis (Soviet saat itu) yang memusuhi agama. Beda dengan di Wenzhou, di Samarkhan waktu itu saya melihat pelestarian masjid tersebut hanya untuk ‘’lipstik’’ agar Sovyet masih kelihatan bergincu. Tapi kapitalisme di Wenzhou sangat murni, natural dan berdiaspora.

Sebutlah kecamatan seperti Long Gang. Kecamatan ini dulunya murni daerah pertanian. Letaknya di pegunungan yang dari kota Wenzhou masih amat jauh —sekitar 120 Km. Kini Long Gang sudah menjadi ‘’kota percetakan’’ karena semua orang beralih ke bisnis percetakan atau yang ada hubungannya dengan percetakan. Masyarakatnya pun sudah tidak ada lagi yang memegang cangkul. Perubahan ini sama sekali tidak ada campur tangan pemerintah. Bahwa kecamatan itu memilih bidang bisnis percetakan juga bukan berdasarkan plot dari pemerintah. Bahkan secara resmi pemerintah masih menganggap status desa-desa di situ masih disebut ‘’desa’’ dan penduduknya masih terdaftar sebagai ‘’petani’’. Padahal Long Gang kini sudah menjadi satu kota —dalam pengertian yang sebenarnya. Inilah ‘’kota’’ dengan penduduk semuanya berstatus ‘’petani’’ pertama di dunia.

Wenzhou terletak di Provinsi Zhejiang yang beribukota di Hangzhou. Dari ibukota provinsi ini, jaraknya masih sekitar 300 Km, —seperti Pekanbaru-Padang—. Wenzhou terletak di pinggir pantai, tapi sangat sedikit punya tanah datar. Wilayahnya bergunung-gunung yang tidak ada habis-habisnya. Majunya bukan main. Meski tidak sehebat ibukota provinsinya (Hangzhou) atau kabupaten tetangganya (Ningbo) tapi kemajuan Wenzhou lebih merata sampai ke pedasaan. Wenzhou juga punya pelabuhan laut, bandara internasional dan jalan-jalan tol yang menghubungkan ke kecamatan-kecamatan dan kabupaten sekitarnya.

Kini ada satu kabupaten tetangganya lagi yang sedang mengejar Wenzhou atau Ningbo. Namanya Shaoxing. Bahkan Wenzhou, Ningbo dan Shaoxing karena saling bertetangga sudah menjadi satu kekuatan wilayah ekonomi tersendiri. Wilayah ini terletak di seberang Shanghai. Lebar laut yang memisahkannya 35 Km. Sejak 1 Mei yang lalu, laut itu bukan lagi pemisah. Sebuah jembatan enam jalur sepanjang 38 Km sudah selesai dibangun melengkung menyeberangi laut yang begitu luas. Pembangunannya hanya memakan waktu tiga tahun! Sejak 1 Mei tahun lalu, Shanghai-Shaoxing sudah gandeng. Dengan demikian Wenzhou dan sekitarnya akan kian maju karena mendapat lokomotip baru yang amat besar: Shanghai.

Hasil-hasil penelitian menyebutkan peranan dana bank di wilayah Wenzhou dan sekitarnya hanya 18 persen. Sedang peranan rentenir 28 persen. Selebihnya merupakan dana masyarakat sendiri. Maka ketika bank menjalankan kebijaksanaan uang ketat (antara lain untuk mengerem inflasi) seperti terjadi sekarang ini, Wenzhou dan sekitarnya tetap berkembang. Rentenir memang dimusuhi negara, tapi tidak oleh masyarakat Wenzhou. Rentenir dianggap sebagai satu kelengkapan hidup yang ketika tidak ada system lain yang lebih baik, mengapa tidak memanfaatkannya. Sepanjang hasil perputaran dari dana rentenir itu tetap lebih besar daripada bunganya tetap saja rentenir dianggap peluang yang harus dimanfaatkan. Tidak ada halal atau haram di sini. Yang ada maju atau mati. Tentu ada juga yang terus menerus terbelit oleh rentenir. Di antaranya kemudian bunuh diri atau menghilang. Terutama pada musim kesulitan ekonomi seperti belakangan ini.

Lautan industri menengah dan kecil di Wenzhou dan sekitarnya menjerit. Apalagi peraturan perburuhan sudah berubah total. Buruh yang dulu bisa digaji Rp1 juta, menjadi harus Rp1,5 sampai Rp2 juta. Biaya produksi naik akibat inflasi dan nilai tukar renminbi yang terus menguat. Harga jual sulit diubah sama tingginya. Cash flow menjadi seret. Pengusaha kecil seperti orang haus tapi harus minum air laut. Beberapa bunuh diri.Ini pun sudah diperhitungkan oleh sistem rentenir. Termasuk mengapa bunga di sistem ini bisa sampai 6 persen sebulan, antara lain karena pasti akan ada yang lari atau bunuh diri. Sementara, tidak seperti rumah gadai yang bunganya separo lebih rendah, tidak ada jaminan yang bisa disita.

Logikanya, kian banyak yang bunuh diri akan kian tinggi bunganya. Bunuh diri memang urusan masing-masing. Tapi karena bisa menyebabkan kenaikan ‘’suku bunga’’, keluarga yang bunuh diri pun akan dibenci oleh masyarakat sistem ini. Mekanisme pasar menghasilkan tata nilai tertentu. Moralitas bunuh diri atau melarikan diri menjadi tercela bukan dengan alasan moralitas, melainkan karena dianggap bisa meningkatkan high cost economy.

Banyak juga yang bisa keluar dari sistem ini. Yakni mereka yang dari usaha dengan modal rentenir itu bisa memupuk dana sendiri. Lalu secara berkelompok membentuk dana bersama. Dana ini yang kemudian dipinjamkan ke sesama anggotanya dengan bunga tertentu. Dua atau tiga kali lebih tinggi dari bunga bank tapi tidak delapan kali seperti bunga rentenir. Model ini berkembang pesat juga di Wenzhou dan sekitarnya.

Melihat kenyataan besarnya peranan sistem rentenir di Wenzhou, pemerintah komunis Tiongkok kemudian menjadi sangat realistis. Inilah komunisme fleksibel. Meski sistem rentenir itu secara dokmatik bertentangan dengan komunisme, tetapi pemerintah dalam perkembangannya tidak main larang begitu saja. Bahkan pemerintah tidak pernah menggunakan kata ‘’rentenir’’ setiap kali menyinggung soal ini.

Pemerintah hanya selalu menyebutnya sebagai aliran dana bawah tanah. Pemerintah pusat telah lama melakukan kajian terhadap sistem ini. Hasilnya: perlu dilakukan terobosan. Tapi harus diuji coba dulu. Maka sejak dua tahun lalu pemerintah melakukan uji coba satu sistem yang sangat baru di bidang keuangan. Uji coba ini hanya boleh dilakukan di Wenzhou-Shaoxiang. Yakni kabupaten yang —aliran dana bawah tanahnya— mencapai Rp2 triliun setahun.

Orang-orang yang selama ini bergerak di perdagangan uang bawah tanah itu, di samping diperbolehkan mendirikan rumah gadai, juga diizinkan mendirikan perusahaan jasa keuangan mikro. Namanya bidang usahanya: perusahaan penjamin kredit mikro. Sejak dilakukan ujicoba sampai sekarang sudah 240 perusahaan jenis ini berdiri di Wenzhou. Bukan main antusiasnya.

Sistem keuangan uji coba ini melibatkan empat pihak: peminjam, bank, penjamin dan pihak ketiga yang menambah jaminan. Misalnya begini: Anda memiliki perusahaan kecil yang sudah tiga tahun berturut-turut laba. Lalu meminjam uang ke bank dengan jaminan yang tidak cukup. Anda bisa minta perusahaan penjamin itu untuk mencarikan tambahan jaminan dari pihak ketiga. Tambahan jaminan ini bisa berupa asset tetap seperti tanah, bisa juga sertifikat deposito atau sebangsanya.

Di pihak lain, misalnya, Anda punya deposito Rp50 juta di bank. Anda hanya dapat bunga (kalau di Tiongkok hanya 1 persen). Agar Anda bisa dapat bunga lebih besar, Anda bisa meminjamkan sertifikat deposito Anda ke perusahaan penjamin. Yakni untuk digunakan sebagai jaminan tambahan pencari kredit. Dari situ Anda dapat tambahan bunga 1 persen lebih (bergantung situasinya). Berarti bunga Anda bisa dua kali lipat daripada kalau Anda hanya mendepositokan di bank begitu saja.

Sistem uji coba ini berkembang pesat. Pemilik ?uang-lebih? dan pengusaha kecil yang haus uang bisa ketemu di gelas yang sama. Resmi, legal dan tidak takut akan peraturan pemerintah. Lewat sistem ini seorang pengusaha kecil bisa dapat kredit dengan bunga 12 persen setahun. Memang, bunga itu dua kali lipat lebih mahal dari bunga bank secara resmi, tapi tetap jauh lebih murah dibanding harus 60 sampai 120 persem bunga ?bawah tanah?.

Pemerintah memang tidak bisa menutup mata akan pertumbuhan ekonomi yang mencapai lebih 13 persen selama lebih 20 tahun terus menerus di kabupaten-kabupaten sekitar Wenzhou ini. Inisiatip lokal, luar biasa besarnya. Menurut hasil penelitian, inilah wilayah perusahaan kecil menengah yang terbesar di dunia, sejajar dengan wilayah Guangzhou dan sekitarnya seperti Dongguan.(bersambung)


Catatan kaki :
sumber wikipedia

Asal Nama宁 níng - Tenang
波 bō - Gelombang
Bersama - Gelombang Tenang
Penyingkatan甬 yǒng
Tipe AdministratifKota sub provinsial
Area9,365 km²
Tepi Pantai1,562 km
Populasi5,527,000 (2004)
GDP¥39,045 per kapita (2004)
PendudukMiao, Zhuang
Pembagian selevel zhou11
Pembagian selevel kota148
GubernurMao Guanglie
CPCBayin Chaolu
Bunga kotaCamelia
Pohon kotaCamphor Laurel
Cinnamomum camphora (L.) Sieb.
Kode Area574
Nomor Polisi MobilB
Website resmi: 


SHANGHAI - Jembatan Teluk Hangzhou Tiongkok, yang disebut-sebut sebagai jembatan terpanjang di atas laut, resmi dibuka untuk umum kemarin. Peresmian jembatan sepanjang 36 kilometer itu dilakukan siang hari dan mulai dibuka untuk lalu lintas umum tepat tengah malam.
Jembatan tersebut menghubungkan Jiaxing, yang berada di dekat Shanghai, dengan kota industri Ningbo di Provinsi Zhejiang. Jembatan itu bisa memotong jarak antara kedua tempat tersebut, yang jika lewat jalan darat harus memutar sejauh 120 kilometer.

Awalnya, pembangunan jembatan itu ditujukan untuk mengatasi kemacetan di wilayah segitiga Shanghai-Hangzhou-Ningbo. Dalam perkembangannya, jembatan tersebut diharapkan bisa meningkatkan integrasi ekonomi dan pembangunan di daerah delta Sungai Yangtze.

Pembangunan jembatan itu menghabiskan anggaran CNY 11,8 miliar (sekitar Rp 14,16 triliun). Yang istimewa, biaya pembangunannya berasal dari kalangan swasta di kawasan industri Ningbo.

Keistimewaan lain dari jembatan tersebut adalah desainnya yang diperhitungkan bisa bertahan hingga 100 tahun. Kecepatan kendaraan yang melintasi jembatan itu dibatasi, maksimal 100 kilometer per jam.

Sebelumnya, Tiongkok sudah mempunyai jembatan yang cukup panjang. Yakni, Jembatan Donghai yang panjangnya mencapai 32,5 kilometer. Jembatan itu pun membelah lautan dan menghubungkan Shanghai dengan Pelabuhan Yangshan.

Sejatinya, Ningbo merupakan salah satu kota tertua di Tiongkok yang juga dikenal sebagai tempat perdagangan utama antara Yangzhou dan Guangzhou. Sejak abad ke-7, Ningbo telah dikenal hingga ke luar negeri sebagai kota perdagangan. Kota itu juga dikenal sebagai pusat penghasil furniture tradisional Tiongkok. Pada perkembangannya, Ningbo kini tetap dikenal sebagai pusat ekonomi dan kota pelabuhan yang sangat penting.