Wednesday, July 15, 2009

Madrasah Serba Elektronis di Singapura

Dalam kapasitasnya sebagai partner di Indonesia, Dahlan Iskan, Sabtu lalu (11/7) diundang menghadiri peresmian gedung baru madrasah di Singapura. Madrasah itu sama sekali berbeda dengan madrasah tempat chairman/CEO Jawa Pos tersebut belajar di Magetan, Jatim, dulu. Berikut catatannya.

Madrasah itu punya sistem pembelajaran yang modern. Setiap bangku pada salah satu ruang kelas, misalnya, dilengkapi dengan alat elektronis.

Di depan kelas terdapat sebuah papan yang selain dapat ditulisi juga bisa jadi layar proyektor. Misalnya kalau seorang guru (ustad) suatu saat harus menampilkan pertanyaan. Di masa lalu para murid akan berebut angkat tangan (ngacung) untuk menunjukkan siap menjawab. Dalam kasus ada beberapa anak yang berbarengan mengangkat tangan, maka akan terjadi subjektivitas sang guru: mau memilih murid yang mana untuk menjawab lebih dulu? Pilihan subjektif itu bisa merusak mental si anak. Ada saja anak yang merasa dianaktirikan karena angkat tangannya diabaikan oleh guru.

Di madrasah Singapura tersebut tidak akan pernah terjadi hal seperti itu. Ketika di layar proyektor muncul pertanyaan, para siswa (santri) bisa langsung memijit alat elektronis yang ada di tangannya. Dari situ bisa diketahui siapa yang lebih dulu memijit tombol. Nah, dialah yang berhak menjawab lebih dulu.

Madrasah tersebut memang serbaelektronis. Di kelas pelajaran bahasa Arab, misalnya, papan tulisnya juga bisa jadi papan elektronis. Misalnya, ada enam pertanyaan di sebelah kanan. Lalu, ada pilihan jawaban di sebelah kiri. Maka, pilihan jawaban tersebut bisa digeser-geser untuk disesuaikan dengan pertanyaannya. Tulisan-tulisan di papan itu, yang dipancarkan dari proyektor, bisa dipindah ke bagian mana pun di papan itu tanpa harus menghapus dan menuliskannya lagi.
Saya mencoba menjadi siswa di situ. Saya memegang alat elektronis berbentuk seperti spidol. Alat itulah yang saya pakai menggeser kata ”hua (dia) Ustman bin Affan” agar sejajar dengan pertanyaan ”man hua (siapa dia)?.”

Demikian juga sarana di kelas bahasa Inggris atau matematika. Di kelas bahasa Inggris (dan juga Arab), digunakan software komik. Setiap siswa menghadap ke komputernya. Lalu, di layar masing-masing muncul komik yang tidak ada dialognya. Muridlah yang harus mengisi kolom-kolom kosong di komik itu sesuai dengan kalimat percakapan yang dia inginkan. Maka, saya lihat kelas bahasa itu seperti anak-anak lagi main game. Alangkah menyenangkan. Sebagian komik diambil dari server sekolah sendiri dan sebagian lagi diambil secara online lewat internet.

Di kelas matematika untuk kelas 1 ibtidaiyah/SD, alat peraganya juga elektronis. Di layar proyektor itu ada gambar timbangan. Di sisi kiri si guru menaruh gajah dengan berat 705 kg. Di pojok layar yang lain tersedia beberapa angka yang bisa dipindah-pindah dengan kursor. Tugas si murid menaruh angka-angka itu di timbangan sisi kanan. Kalau angka yang ditimbun di situ sudah sama dengan berat si gajah, timbangan akan seimbang. Kalau belum, masih terlihat njomplang. Begitulah. Saya tidak melihat pemandangan sekolah lagi. Saya seperti melihat kios playhouse yang besar.

Madrasah tersebut memang baru menempati gedung baru setelah 40 tahun menyewa gedung sekolah yang model lama. Di kompleks baru itu semua serbamodern. Di pojok depan ada masjid baru dua lantai yang bisa menampung jamaah hingga 2.000 orang. Di sisi kanan ada gedung MUIS (lembaga yang mengurus masyarakat Islam di Singapura) delapan lantai. Pengadilan agama, urusan haji, dan koordinasi masjid ada di gedung tersebut. Gandeng dengan gedung itu ada bangunan enam tingkat. Paling bawah difungsikan untuk lapangan terbuka. Karena itu, plafonnya sangat tinggi. Di atasnya ada kantin sekolah yang dilengkapi dengan dapur modern.

Di atas kantin terdapat satu ruang besar dengan penataan seperti ruang redaksi di Jawa Pos Surabaya. Itulah ruang guru. Setiap guru memiliki satu meja yang bentuknya mirip meja redaksi Jawa Pos. Ruang tersebut full AC dengan lantai karpet. Setiap guru juga memiliki locker sendiri. Ruang tersebut kelihatan amat ”gembira”. Masing-masing (terutama guru wanita) seperti menghias mejanya. Bunga, boneka kecil, mainan anak-anak terlihat di setiap meja. Saya membayangkan guru seperti itulah yang akan disenangi murid.

Di ruang itu pula guru akan membahas perencanaan dan persiapan mengajar. Juga membicarakan prestasi dan kekurangan santri-santrinya. Melihat ruang guru tersebut, saya langsung bermimpi bahwa madrasah yang lagi kami bangun di Magetan sekarang (International Islamic School Pesantren Sabilil Muttaqin) kelak juga harus punya ruang guru seperti itu. Ruang guru yang bagus tentulah menentukan suasana kejiwaan para guru. Guru yang jiwanya baik pada gilirannya akan bisa mengajar secara baik.

Di atas ruang guru tersebut masih ada gedung teater yang dipergunakan untuk pertunjukan atau acara-acara sejenis. Di teater itu pula malam itu diadakan upacara peresmian madrasah yang dihadiri oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Madrasahnya sendiri berada di kanan teater tersebut. Itulah madrasah Al Irsyad Al Islamiyah Singapura (Tidak ada hubungannya dengan Al Irsyad yang ada di Indonesia). Yakni bangunan empat lantai yang berbentuk U. Ada dua kelompok lift di sekolah tersebut, tapi hanya guru dan tamu atau murid yang memerlukan sarana khusus yang boleh lewat lift. Santri biasa harus turun naik lewat tangga.

Sebagai orang yang sejak kecil hidup di madrasah di pedesaan, tentu saya ngiler berada di madrasah yang sarananya, metode belajarnya, dan pemikirannya begitu modern. Jangan ditanya soal kebersihannya. Parit-paritnya saja sudah didesain secara khusus. Apalagi ruang wudu masjidnya. Inilah ruang wudlu yang di setiap pancurannya disediakan sarana permanen untuk sabun cair. Mirip dengan yang ada di bandara internasional atau di hotel bintang lima.

Demikian juga mukena untuk umumnya. Kain sembahyang untuk wanita itu ditaruh di hanger seperti di tempat laundry modern. Dengan sistem penggantungan seperti itu, tidak akan ada mukena yang berbau. Padahal, selama ini, saya selalu hanya melihat mukena yang justru dilipat, lalu dimasukkan ke lemari. Bisa dibayangkan mukena yang di bagian wajahnya pasti basah itu (karena dipakai oleh orang yang baru saja berwudu) menjadi apak dan berbau.

Saya sebenarnya malu harus “”impor” madrasah dari Singapura. Tapi, saya juga harus mengakui untuk zaman modern nanti, kita tidak bisa lagi tidak menyesuaikan diri. **

Sunday, July 5, 2009

JPNN: Penularan, Bukan Pewarisan

Bagaimana Jawa Pos ke depan? Seperti otomatis, segala kemampuan manajemen yang selama 25 tahun ini saya terapkan di Jawa Pos sudah tertular dengan sendirinya kepada generasi baru. Bukan hanya di Jawa Pos, tapi juga ke seluruh grupnya. Sudah puluhan orang yang awalnya berkarir sebagai wartawan kini menjadi direktur utama atau direktur di anak-anak perusahaan grup Jawa Pos. Merekalah yang kini menularkan lagi semua itu kepada generasi yang lebih muda.

Puluhan orang itu, ratusan orang itu, kini sudah berkiprah di lingkungan apa yang kemudian kita dengar sebagai Jawa Pos News Network (JPNN).

Ini bukan soal waris-mewariskan, tapi soal tular-menularkan. Saya percaya entrepreneurship seperti itu tidak bisa diwariskan, tapi sangat bisa ditularkan.

Kalau kata "warisan" yang dipakai, tentu konotasinya pasif. Ada pihak yang mewariskan dan anak pihak yang sengaja diwarisi. Di sini seolah juga ada subjektivitas. Seolah pihak yang akan mewariskan mempunyai hak untuk menunjuk orang tertentu atau pihak tertentu yang harus menerima warisan itu.

Saya berkesimpulan entrepreneurship tidak bisa diwariskan seperti itu. Orang yang merasa bahwa entrepreneurship bisa diwariskan hanya akan menemukan warisannya berantakan. Tapi, saya percaya entrepreneurship sangat bisa ditularkan. Pewarisan dan penularan sangatlah tidak sama. Berbeda dengan warisan, dalam proses penularan harus ada unsur yang menulari dan unsur yang ditulari. Hasilnya belum tentu terjadi proses penularan. Mungkin bisa terjadi penularan, mungkin juga tidak.

Dalam proses waris-mewariskan terkesan bisa dilakukan secara mendadak, tiba-tiba, dan tanpa syarat. Dalam proses penularan tidak mungkin terjadi seperti itu. Harus ada proses yang panjang. Kadang sangat lama. Dalam proses ini bisa saja terjadi "penolakan" dari yang akan ditulari. Atau, orang yang akan ditulari ternyata sudah punya "kekebalan" tubuh sehingga meski dia sebenarnya sudah mau ditulari, penularan itu tidak sampai terjadi.

Bisa juga penularan itu gagal karena orang yang sedang ditulari tiba-tiba menjauh. Atau merasa bosan karena terlalu lamanya proses itu. Atau mendapat "suntikan" anti-penularan. "Suntikan" itu bisa berupa godaan finansial, bisa juga karena emosi. Misalnya, ketika tiba-tiba saja mendapat tawaran yang lebih menggiurkan di tempat lain.

Sebaliknya, yang akan menulari pun bisa-bisa berubah sikap. Misalnya, ternyata dia merasa bahwa pihak yang ditulari sangat "kebal virus".

Bahwa anak-anak pengusaha lebih banyak menjadi pengusaha, saya yakin bukan karena "darah" pengusahanya, tapi karena dalam keluarga pengusaha proses penularan itu bisa berlangsung lebih intensif dan lebih lama. Yang juga tidak kalah penting, dalam proses yang panjang itu sangat jarang terjadi "penolakan". Mungkin karena pada awalnya anak selalu takut kepada bapak -sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang bukan anak sendiri. Sedangkan yang bukan anak-bapak akan punya perasaan lebih mandiri dari perasaan takut itu.

Kalau soal darah ini benar, tentu tidak akan ada anak pengusaha yang gagal menjadi pengusaha. Tapi, kenyataannya, begitu banyak kegagalan itu. Maka, meski ada hubungan anak-bapak, tetap saja ada kemungkinan terjadinya "penolakan" akan "virus" kepengusahaan itu.

Dalam proses waris-mewaris, bisa saja setelah terjadi peristiwa pewarisan, hubungan antara keduanya terputus. Tapi, dalam proses tular-menulari hubungan itu tidak akan pernah putus. Dia akan abadi sampai mati.

Kadang saya merenungkan apakah angkatan setelah saya bisa membuat proses tular-menulari ini berlangsung kepada generasi yang lebih muda. Saya pun lega. Saya melihat rasanya hal itu masih terus terjadi. Saya lihat ratusan anak muda yang awal karirnya juga wartawan kini sangat tertarik ke bidang bisnis di grup Jawa Pos. Setiap bertemu mereka saya tidak perlu lagi menulari. Saya lihat mereka sudah tertulari dengan sendirinya.

Setiap bertemu generasi baru yang hebat-hebat itu, yang umurnya 30-36 tahun itu, biasanya saya hanya mengatakan ini:

Kalian ini sudah akan bisa jadi apa saja. Karir yang lebih hebat sudah terbuka luas. Kemungkinan jadi pengusaha besar sudah di depan mata. Ujian-ujian yang terpenting sudah Anda lewati dengan sukses. Misalnya, ujian tentang membuat produk yang kompetitif, ujian memasarkan produk, ujian kejujuran di bidang keuangan, ujian berhemat, ujian membuat segala aspek perusahaan menjadi income center, dan bahkan ujian bagaimana mengelola konflik.

Dalam posisi Anda seperti itu, tinggal tiga hambatan saja yang akan bisa menghalangi Anda jadi orang besar. Dari tiga hambatan itu, dua datang dari dirinya sendiri. Yang ketiga merupakan suratan takdir.

Dua yang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah: pertama, tergoda di bidang keuangan. Kedua, tergoda di bidang cinta hubungan wanita-pria.

Terlalu banyak kasus seseorang yang sudah lama teruji kejujurannya, suatu saat terpeleset juga di bidang keuangan. Istri sering juga menjadi penyebab datangnya godaan di bidang ini. Tapi, yang lebih sering adalah berubahnya gaya hidup. Tidak sedikit seseorang yang naik pangkat atau naik jabatan gaya hidupnya berubah drastis. Lama-lama penghasilannya tidak mencukupi untuk menopang gaya hidupnya yang baru. Lalu mulai terpikir untuk menyalahgunakan uang, atau paling sedikit main komisi.

Kalau sudah menyangkut uang, biarpun nilainya tidak berarti, tidak ada ampun lagi: harus diberhentikan! Ini sudah menyangkut persoalan yang paling hakiki dalam kehidupan sebuah perusahaan. Keuangan adalah "ummul-kitab"-nya perusahaan.

Bagaimana godaan wanita? Saya tidak pernah melarang teman-teman untuk tergoda. Namanya saja tergoda, kadang tidak direncanakan. Bahkan, kadang datang mendadak begitu saja. Apalagi kalau dasarnya benar-benar cinta. Saya sendiri pernah mengalaminya. Rasanya tidak ada gunanya untuk menasihati orang lain untuk "jangan pernah tergoda". Sebab, soal tergoda ini lebih sering bukan karena keinginan. Lebih sering karena naluri alamiah atau kemanusiaan. Atau apalah! Bahkan, saya pernah merenungkan, jangan-jangan ini juga bagian dari takdir. Bukankah cinta itu ciptaan Tuhan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan?

Maka yang sering saya kemukakan kepada mereka adalah: seandainya suatu saat godaan itu terjadi, yang terpenting adalah bagaimana harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Orang boleh tergoda, tapi harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Kadang diri sendiri sulit sekali menyadari itu. Menyadari saja sulit, apalagi menyelesaikannya. Kadang memang harus ada orang lain yang diminta membantu menyelesaikannya.

Saya sering mengatakan bahwa kemampuan menyelesaikan godaan itu juga bagian dari kemampuan manajemen. Bukankah kalau tidak lulus dalam menyelesaian godaan ini, berarti kemampuan manajemennya juga harus diragukan?

Faktor ketiga yang bisa menghalangi orang menuju puncak adalah takdir. Yakni, kalau tiba-tiba orang ditakdirkan sakit, atau kecelakaan mendadak. Meski tidak sampai mati, sakit yang fatal atau kecelakaan lalu lintas adalah bagian yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Orang kalau sudah terkena sakit parah, sesemangat-semangat apa pun harus segera "tahu diri". Sebaiknya harus segera konsentrasi pada bagaimana mengusahakan untuk sembuh. Bukan ketika sakit masih memikirkan ambisi-ambisi yang besar. Saya sendiri ketika tiba-tiba diketahui sakit kanker liver empat tahun lalu, saya langsung sumeleh: saya berserah diri. Kalau memang sudah tiba saatnya saya harus mengakhiri segala bentuk pengabdian di dunia ini, saya terima dengan sepenuh hati. Orang ada batasnya. Barangkali batas saya sampai di situ. Lalu saya konsentrasi bagaimana untuk sembuh. Bukan agar bisa terus mengejar ambisi, tapi agar bisa kembali sehat saja. Sikap seperti itu menurut pendapat saya justru membuat pikiran lebih longgar. Dan, dengan pikiran longgar sakit pun tidak semakin parah.

Untuk sukses ternyata memang tidak gampang. Pintar saja tidak cukup. Juga tidak bisa hanya karena mewarisi. Harus terjadi proses penularan yang intensif. Dalam waktu yang panjang. Setelah tertular pun masih harus lolos dari tiga hal di atas. Padahal, banyak juga kasus proses penularan belum terjadi, sudah terkena salah satu dari ketiganya dan tidak ada jalan keluarnya.

Saya bersyukur, dulu Ciputra menularkannya dengan sukses kepada Eric Samola yang kebetulan bersedia ditulari. Lalu Samola menularkannya kepada saya dan saya juga menyiapkan diri untuk ditulari. Lebih bersyukur lagi, saya pun giliran punya kesempatan yang cukup untuk menularkan entrepreneurship kepada puluhan orang --dan puluhan orang itu menularkannya kepada ratusan orang.

Eric Samola di akhir hayatnya masih sempat melihat hasil penularan ke-entrepreneur-annya kepada saya. Dan dia kelihatan bangga.

Saya tahu orang seperti Ciputra juga masih mengamati saya dari dekat karena dia diberi umur sangat panjang sampai sekarang. Tapi, saya tidak pernah bertanya apakah saya menjadi orang seperti yang dia harapkan. Saya tentu sering bertemu Ciputra. Tapi, soal itu akan saya biarkan menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah saya dengar jawabnya. (*)

Buang Miliaran Ongkos Belajar

Terlalu banyak orang yang menanyakan "kisah sukses" Jawa Pos. "Bagaimana ceritanya?" tanya peserta sebuah seminar di mana saya jadi pembicaranya. "Apa saja yang dilakukan sehingga perusahaan yang hampir bangkrut pada 1982 itu bisa berjaya seperti wujudnya sekarang?" tanya yang lain. "Di mana kunci rahasianya?" pinta yang lain lagi. "Ceritakan dong kiat-kiatnya...."

Biasanya saya menolak untuk bercerita. Bukan karena pelit, tapi saya berkeyakinan bahwa cerita-cerita sukses masa lalu hanya akan membuat orang terlalu mengagung-agungkan masa silam. Lalu terlena untuk memikirkan masa depan. Sering juga cerita keberhasilan masa lalu itu dipergunakan untuk "meneror" generasi baru: agar meniru, agar menghormati, agar mengenang. Menurut saya, yang demikian itu sangat berbahaya.

Saya percaya, setiap generasi memilki zamannya sendiri. Dan, setiap zaman mempunyai generasinya sendiri. Apa yang di masa lalu sukses saya lakukan, belum tentu bisa sukses untuk dilaksanakan sekarang. Bahkan, saya bisa memastikannya: mustahil. Zamannya sudah berbeda, pasarnya sudah berbeda dan pelakunya sudah berbeda. Berarti tantangan dan peluangnya juga sudah berbeda.

Yang diperlukan generasi baru bukan warisan kisah-kisah sukses masa lalu, melainkan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab. Dan, itu hanya bisa terjadi kalau ada kerelaan generasi lama untuk secara bertahap menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada generasi baru. Sebuah penyerahan yang ikhlas. Bukan penyerahan dengan niat menghibur, mencoba, kasihan, apalagi menjebak.

Saya percaya bahwa sebuah tanggung jawab akan muncul dengan sendirinya manakala kepadanya diberikan sebuah kepercayaan. Mungkin memang ada risikonya. Misalnya, salah langkah.

Tapi itulah memang harga yang harus dibayar. Itulah "biaya sekolah" di dunia yang sebenarnya. Saya selalu mengatakan, "Memangnya saya dulu tidak pernah salah?" Sekarang, di ruang ini, di kesempatan yang berharga ini, saya harus bertestimoni: saya pun telah membuat begitu banyak kesalahan. Di masa lalu, dan mungkin masih juga akan terjadi di masa yang akan datang.

Sayangnya, seminar-seminar yang diadakan sering meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Sukses Dahlan Iskan". Belum pernah ada seminar yang meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Kesalahan dan Kegagalan Dahlan Iskan".

Ini tidak fair. Saya pernah menghitung lebih dari 1.000 kesalahan yang saya perbuat. Kalau mau dinilai dengan uang, kesalahan itu melebihi Rp 150 miliar. Artinya, kalau dikumpulkan, saya pernah menghilangkan uang sebanyak itu. Hanya, karena perusahaan yang saya pimpin juga menghasilkan uang triliunan rupiah, jadinya nilai kesalahan itu kurang terlihat.

Tapi kalau direnungkan, uang Rp 150 miliar tidaklah kecil. Itulah biaya sekolah yang harus dipikul perusahaan untuk "menyekolahkan" saya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Apakah itu karena saya seorang yang hanya lulus madrasah aliyah (setingkat SMA)? Pernah kuliah, tapi hanya sampai tahun kedua? Dari desa? Dan belum pernah memimpin perusahaan sebelumnya?

Mula-mula saya punya perasaan seperti itu. Tapi, di masa-masa awal pembangunan Jawa Pos, kami belum bisa merekrut tenaga yang lulusan perguruan tinggi terkemuka atau yang pengalamannya sudah luas. Standar gaji Jawa Pos kala itu belum bisa dipakai bersaing dengan perusahaan besar lain. Tapi, saya punya semacam "dendam" bahwa kalau suatu saat Jawa Pos sudah mampu, kami akan merekrut tenaga-tenaga yang hebat. Begitulah. Dari tahun ke tahun, kualifikasi tenaga baru Jawa Pos kian meningkat.

Enam tahun lalu, kami sudah bisa merekrut tenaga lulusan Amerika Serikat dengan nilai yang hebat, berpengalaman kerja di sana beberapa tahun, percaya dirinya sangat besar karena dari keluarga kaya, kemampuan bahasa asingnya tidak hanya satu dan ketika dites lulusnya sempurna. Setelah kami coba beberapa bulan, hasilnya sangat baik. Dalam waktu tiga tahun kami sudah memberikan beberapa tanggung jawab yang besar. Sampai pada saatnya kami menyerahkan satu tanggung jawab yang lebih besar, dan hasilnya: gagal. Lulusan USA yang hebat itu, yang bukan sekadar lulusan aliyah itu, ternyata juga masih memerlukan "biaya sekolah" lagi hampir Rp 10 miliar.

Apakah dia kami pecat? Tidak! Mengapa? Karena dia juga sudah menghasilkan puluhan miliar! Juga karena dia tidak mengambil uang itu untuk dirinya. Dia memang "hanya" salah dalam mengambil strategi bisnis. Yang disebut "salah" itu sendiri sebenarnya juga belum tentu salah. Tahunya bahwa itu "salah" adalah setelah kejadian. Sebelumnya, apa yang dia lakukan adalah sebuah "kebenaran". Bahkan, kalau saja situasi tidak menyebabkan itu "salah", dia akan tercatat sebagai orang yang "amat benar".

Begitulah di sebuah perusahaan: benar atau salah kadang baru bisa diketahui dari hasilnya. Sesuatu yang diyakini benar, hasilnya bisa salah. Sesuatu yang dikira salah, ternyata benar. Tapi, memang sering juga sesuatu yang semula benar, akhirnya memang sangat benar.

Jadi, di HUT Ke-60 Jawa Pos ini, masih perlukah saya menceritakan kisah sukses masa lalu, sebagai mana yang diminta panitia yang umumnya masih muda-muda itu? Rasanya benar-benar tidak perlu. Kecuali sekadar untuk mengagung-agungkan masa lalu agar tetap dihormati di masa kini dan terus dikenang di masa yang akan datang. Wassalam!

Saya Pernah Minta Dia Transplan Ulang

Saya Pernah Minta Dia Transplan Ulang

Selamat jalan, Angky Camaro. Tepat setahun tiga hari setelah menjalani transplantasi ginjal, teman dekat saya itu meninggal dunia. Sebenarnya tanda-tanda bahwa transplantasinya gagal sudah terlihat tak lama setelah presiden komisaris PT HM Sampoerna Tbk yang juga direktur Indofood Sukses Makmur Tbk itu kembali ke Jakarta.

Tiba-tiba saja dia mengeluh sesak napas sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ternyata paru-parunya berair. Orang yang baru transplan memang harus benar-benar menjaga paru-parunya karena organ penting ini memang paling sering terkena dampak dari transplantasi.
Menurut saya, ada tiga kemungkinan yang menyebabkan gagalnya transplantasi pada Angky.

Pertama, karena memang sudah takdir. Kedua, karena almarhum adalah penderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus) sehingga gula darahnya sulit dikendalikan. Ketiga, karena terserang virus ganas bernama citomegali (CMV), yang biasa menyerang orang-orang yang menjalani transplantasi.

Dari pengalaman saya yang baru menjalani transplan hati dua tahun lalu, penyebab kedua dan ketiga bisa dikendalikan kalau pasien transplan masih tinggal di rumah sakit. Namun, Pak Angky sudah kembali ke Indonesia hanya tiga minggu setelah transplantasi.

Waktu dia menelepon, memberi tahu bahwa dia sudah kembali ke Jakarta, saya kaget sekali. Belum satu bulan kok sudah kembali. Padahal, sudah berkali-kali saya berpesan agar tetap di rumah sakit. Minimal 2,5 bulan setelah transplantasi. Saya sendiri setiap tiga bulan masih memeriksakan diri ke rumah sakit di Tianjin.

Dia berani segera pulang karena menggunakan pesawat pribadi yang aman dari penularan virus. Dua minggu setelah transplantasi, kebanyakan pasien memang sudah langsung merasa sehat. Inilah biasanya yang membuat keinginan pasien untuk pulang menjadi sangat besar. Selain sudah bosan tinggal di rumah sakit, juga lantaran merasa toh sudah sehat.

Itu keputusan yang sangat membahayakan diri sendiri. Terutama kalau tiba-tiba terjadi masalah kesehatan, seperti infeksi. Baik akibat bakteri maupun virus. Bila ini terjadi, dokter mana pun akan kesulitan mengatasinya.

Kondisi itu sangat mungkin terjadi, karena semua pasien transplan harus minum obat yang disebut immunosuppressant. Fungsi obat ini untuk menekan ketahanan tubuh agar tidak terjadi rejeksi atau penolakan terhadap organ yang baru ditransplankan. Ketika Angky meninggal kemarin, saya sedang berada di Tianjin. Namun, saya sempat menyarankan agar almarhum menjalani transplan ulang dan pindah ke rumah sakit yang mentransplankan hati barunya.

Namun, kondisi Angky terus memburuk dan hampir sepanjang sisa hidupnya habis untuk keluar masuk ICU di Jakarta dan Singapura. Transplantasi Angky sebenarnya tergolong sukses besar. Buktinya, dua hari setelah transplantasi, dia sudah bisa kirim SMS mengenai kondisi badannya yang langsung sehat. Juga tentang kreatininnya yang langsung normal, padahal sebelumnya sangat tinggi.

Di SMS itu dia juga bercerita tentang berat badannya yang langsung turun 20 kilogram lebih. Sebab, ternyata yang membuatnya (sebelum transplantasi) sangat gemuk itu sebenarnya hanya air. Angky, sebagaimana yang pernah dia tuturkan ke harian Business Today, tak pernah tahu bahwa fungsi ginjalnya sudah tidak normal. Dia baru tahu itu pada awal April 2005. Yakni, ketika tiba-tiba dia menemukan bisul yang bernanah di pantatnya. Bisul itu membuat Angky tidak bisa duduk karena pantatnya bengkak dan sakit luar biasa.

Dari situlah dia tahu bahwa gula darahnya 500 mg/dl dan kreatininnya sudah 3,5 mg/dl. Ini keadaan yang sudah sangat parah, sebenarnya. Sebab, normalnya, gula darah orang (dalam keadaan puasa) tak boleh lebih dari 100 mg/dl. Sedangkan kreatinin orang sehat antara 0,5 sampai 0,9 mg/dl. Tetapi, itulah hebatnya Angky. Meski kondisinya sudah seperti itu, dia tetap bekerja seperti biasa. Andai pantatnya tidak bisulan dan bengkak, bisa dipastikan Angky tidak akan berobat.

Karena tidak tahan lagi dengan rasa sakit itu, Angky tidak membantah ketika dokter menyuruhnya opname. Sebab, selain nanah di bisulnya harus dikeluarkan lewat operasi, rawat inap di rumah sakit itu juga untuk mengatasi gula darah dan kreatininnya

Menikmati Sistem Baru Penerbangan Cathay Pacific (2-Habis)

Kursi Mencong-mencong Memudahkan ke Toilet,

Ada lagi yang baru dalam penerbangan Cathay Pasific (CX) selain aturan menggunakan HP sejak roda pesawat menjejak bumi. Setidaknya, baru buat saya. Setidaknya lagi, baru sekali itu saya mengalaminya, meski saya sudah agak lama mendengarnya: susunan kursi di dalam pesawat tidak menghadap ke depan. Semua kursi dibuat menghadap serong 45 derajat dengan tujuan khusus: agar semua penumpang memiliki akses yang sama terhadap koridor. Selama ini, dengan susunan kursi 3-3 (Boeing 737 atau Airbus 319/320) atau 2-4-2 (Boeing 777) atau 2-5-2 (Boeing 747 atau Airbus 340), selalu terjadi ketidakadilan. Penumpang yang berada di dekat jendela atau yang berada di tengah selalu harus melewati penumpang lain kalau ingin ke toilet.


Untuk penerbangan jangka pendek, itu tentu tidak apa-apa. Ke toilet bisa ditahan. Tapi, untuk penerbangan jauh, mau tidak mau harus ”mengganggu” penumpang yang dilewati. Akibatnya, deretan kursi di pinggir koridor paling habis dipesan duluan. Apalagi untuk penerbangan yang bisa check-in dari handphone atau internet. Kursi-kursi di sebelah koridor cenderung sudah habis di-block secara online. Terutama untuk kursi kelas bisnis yang susunan kursinya 2-3-2. Sering sekali, kursi-kursi yang kosong adalah yang ada di jepitan. Kita yang pergi berdua atau bertiga sering harus duduk terpisah. Atau kadang harus negosiasi dengan penumpang lain setelah tiba di atas pesawat. Kadang ada penumpang yang rela diajak tukar tempat duduk, kadang tidak bisa.


Problem seperti itu terpecahkan oleh sistem pengaturan kursi yang mencong-mencong di CX tersebut. Semua kursi punya akses langsung ke koridor. Jumlah tempat duduk pun tidak berkurang. Susunan kursi baru seperti itu memang hanya bisa dilakukan di kelas bisnis. Rasanya masih akan sulit untuk kelas ekonomi. Itu disebabkan di kelas bisnis ”jatah” satu kursi lebih besar daripada kelas ekonomi. Sebagai orang yang baru pertama menemukan sistem pengaturan tempat duduk seperti itu, semula saya agak kikuk. Setiap penumpang mendapatkan satu kursi, yang karena kanan-kirinya disekat, rasanya seperti berada di dalam satu bilik yang sempit. Kita tidak bisa melihat penumpang yang ada di sebelah kita. Bagi yang bepergian sendirian, rasanya tidak mengapa. Tapi, bagi yang pergi berdua, rasanya aneh. Tidak berkomunikasi dengan istri atau teman perjalanan. Padahal, sering kita ingin berbicara panjang dengan teman bisnis justru ketika di dalam pesawat. Tidak ada yang mengganggu selama berjam-jam. Ketika pertama duduk di kursi itu, rasanya juga aneh oleh perasaan ini: tidak menghadap ke depan.


Perasaan aneh itu berkurang manakala melihat ada tumpangan kaki di ujung ”bilik? Ah, ini dia, kaki bisa selonjor. Kesempatan selonjor seperti itu biasanya baru bisa didapat (untuk kelas bisnis) kalau pesawat sudah mengudara cukup tinggi. Yakni, ketika sudah diperbolehkan menaikkan sandaran kaki. Sejak kita pertama duduk di kursi sampai diperbolehkan menaikkan sandaran kaki itu biasanya memakan waktu sampai setengah jam. Tapi dengan sistem baru itu, begitu kita duduk pun, kaki sudah bisa selonjor.


Penemuan sistem baru itu juga menarik: di sisi kiri ada tempat untuk menaruh bahan-bahan bacaan. Di sisi kanan ada tombol-tombol berbagai macam keperluan. Ada tombol untuk membuka meja makan. Ada tombol untuk mengeluarkan layar TV/video. Layarnya pun bisa lebih lebar. Lalu, ada tombol untuk menggerakkan kursi agar posisi kursi bisa seperti tempat tidur. Boleh tidur sambil nonton video atau sambil membaca koran. Atau tidur mengorok.


Dari sisi privasi, sistem baru itu sangat cocok. Tidak terganggu atau mengganggu penumpang lain. Mau ke toilet kapan pun bisa langsung ke koridor. Juga tidak perlu sungkan apa pun dengan tetangga. Tapi, bagi yang menginginkan bisa ngobrol dengan teman, sistem ini benar-benar tidak memberi peluang. Saya sampai terpikir mengapa tidak disediakan di beberapa kursi saja yang sekatnya itu dibuat lebih pendek. Mungkin diperkirakan bisa mengurangi tempat penyimpanan layar video, namun untuk dikurangi sekadar 10 sentimeter, rasanya masih bisa. Setidaknya masih bisa bicara dengan ”kamar sebelah” meski harus dengan posisi agak melongok.


Akhirnya, kalau saya disuruh memilih apakah menyukai sistem baru ini atau sistem yang lama, jawabnya: bergantung. Kalau bepergian sendirian dan jarak jauh, saya menyukai sistem ini. Kalau jarak pendek, apalagi harus ada yang dibicarakan selama dalam penerbangan, saya pilih sistem yang lama. Tapi, kita sebagai penumpang tidak bisa banyak memilih. Kita tidak tahu pesawat CX yang mana dan jurusan ke mana yang menggunakan sistem baru tersebut. Berkali-kali saya ke Hongkong, baik dari Jakarta maupun dari Surabaya, menggunakan CX, tapi baru hari itu ”menemukan” kursi sistem baru tersebut.

Menikmati Sistem Baru Penerbangan Cathay Pacific (1)

Lega, Bisa On-kan HP Begitu Pesawat Mendarat,

Rasanya baru yang satu ini memperbolehkan penumpang langsung menghidupkan handphone (HP) begitu pesawat sudah mendarat: Cathay Pacific (kode penerbangan CX).

Pada Penerbangan lainnya masih tetap mengumumkan bahwa penumpang dilarang menghidupkan HP, meski pesawat sudah mendarat, sampai tiba di dalam gedung terminal. Sebuah larangan yang saya lihat hampir 100 persen dilanggar.

Kecenderungan penumpang pesawat saat ini adalah: begitu pesawat mendarat, pekerjaan pertama yang dilakukan justru menghidupkan HP. Kalau toh ada yang sungkan melakukannya, paling hanya yang duduk di deretan kursi pertama. Itu karena mereka, sebagaimana saya, sungkan kepada pramugari yang baru saja membuat pengumuman. Lagi pula, sesekali pramugari masih mau menegur kalau ada penumpang yang sudah menghidupkan HP ketika pesawat baru mendarat.

Saya pernah ditegur seperti itu dan saya merasa malu. Tapi, bagi penumpang di deretan kursi belakang, semuanya tidak mau lagi menghiraukan pengumuman itu. Logikanya: toh pesawat sudah mendarat, tidak mungkin lagi bisa jatuh.

Ketika minggu lalu saya ke Hongkong, dalam perjalanan ke China, saya tidak perlu malu lagi. Saya justru mendengar, pramugari CX mengumumkan bahwa, ”para penumpang sudah diperbolehkan menghidupkan handphone”. Padahal, pesawat baru saja mendarat dan masih dalam perjalanan menuju terminal.

Mula-mula saya agak ragu dengan isi pengumuman itu. Maklum, sudah sekian lama yang biasa terdengar adalah larangan. Kok ini malah dipersilakan menghidupkan handphone.

Lalu, saya bertanya, apakah pendengaran saya tidak salah. ”Tidak,” kata pramugari. ”Kan, pesawat sudah mendarat,” tambahnya. Benar saja, dalam perjalanan pulang, ketika pesawat sudah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, saya dengarkan hati-hati pengumuman pramugari. Memang benar: penumpang dipersilakan menghidupkan handphone.

Saya benar-benar lega melihat perkembangan ini. Akal sehat mulai ditegakkan. Logika mulai diluruskan. Sebenarnya, larangan menghidupkan handphone ketika pesawat sudah mendarat benar-benar tidak masuk akal. Apalagi kalau alasannya untuk keselamatan penerbangan. Akibatnya, kita semua sudah tahu: larangan itu dilanggar hampir 100 persen oleh penumpang. Apalagi pramugari tidak berdaya untuk menegakkan larangan tersebut: dalam posisi pesawat baru mendarat, pramugari tidak mungkin bangkit dari tempat duduknya untuk mengontrol penumpang yang sudah menghidupkan handphone.

Kalau larangan itu bermotif lain, malah lebih bisa diterima. Misalnya, agar jangan berisik. Sebab, kalau semua penumpang menghidupkan handphone dan semuanya berbicara keras-keras, bisa dibayangkan berisiknya. Namun, dalam praktik, saya lihat hanya satu-dua orang yang berbicara di handphone. Mayoritas hanya ingin mengecek SMS yang masuk. Begitu tidak sabarnya pemilik handphone untuk segera melihat SMS, seperti penerbangan satu jam itu telah memutus hidupnya.