Friday, October 2, 2009

Kabut dan Kembang Api

Kabut dan Kembang Api, 60 tahun Tiongkok. Cuaca pun harus diubah kalau Beijing sedang punya hajat besar, seperti yang terjadi pada 1 Oktober pagi ini. Di Beijing perayaan 60 tahun kemerdekaan Tiongkok diperingati secara khusus bukan hanya karena angka 60 itu. Angka 60 tahun memang istimewa dalam kehidupan orang Tionghoa. Sebab, dalam sistem kalender Tiongkok 60 tahun adalah waktu yang sempurna untuk mencapai tepat satu putaran kalender. Keistimewaan yang lain adalah: tahun ini bertepatan dengan peringatan 30 tahun modernisasi.

Sebenarnya sudah lima hari ini Beijing sangat berkabut. Matahari praktis tidak pernah kelihatan. Inilah ciri khas kalau Beijing memasuki musim gugur yang udaranya amat sejuk dan nyaman. Tapi, hari ini, udara Beijing yang berkabut itu akan “dipaksa” cerah. Langit akan direkayasa agar perayaan yang amat penting hari ini bisa berlangsung dalam suasana yang sangat ceria. Teknologi rekayasa cuaca sudah disiapkan matang. Sebanyak 28 pesawat angkut diubah untuk bersama-sama 48 pesawat pengubah kabut bertugas mengurus cuaca hari ini.

”Waktu Olimpiade tahun lalu sudah bisa dibuktikan bahwa kami mampu merekayasa cuaca. Besok kami lakukan lagi,” tulis harian China Daily kemarin. Tentu tidak hanya cuaca Beijing yang harus tunduk pada pemerintah. Bandara internasional yang begitu sibuk pun harus ditutup selama tiga jam. Padahal, letak bandara itu berada satu jam perjalanan mobil di arah timur laut kota. Padahal, bandara tersibuk di Tiongkok ini terdiri atas lima terminal. Padahal, setiap menit harus ada pesawat yang turun dan naik. Padahal, ada 1.000 penerbangan setiap hari di bandara baru itu. Dari pengalaman saat penutupan bandara selama pembukaan Olimpiade tahun lalu, terdapat 300 pesawat yang harus tertunda. Tapi, yah harus terjadi. Kun fayakun.

Penduduk Kota Beijing sendiri dianjurkan untuk tidak perlu keluar rumah pagi ini. Cukup menonton siaran langsung dari televisi. Sebab, jalan-jalan utama di pusat kota akan ditutup total. Penutupan itu begitu luasnya sehingga praktis dalam radius ring road 3 lalu lintas akan terpengaruh. Di Kota Beijing sudah dibangun ring road sampai 6 lingkar sehingga bisa diartikan separo Kota Beijing harus bebas dari hambatan apa pun.

Saya sendiri yang mendapat undangan untuk menghadiri perayaan itu, sudah diminta bangun pukul 03.30 untuk berkumpul di lobi hotel pukul 04.00. Lalu harus berkumpul dulu di Press Centre untuk bersama-sama dengan tamu dari negara lain berangkat ke Tian An Men, pusat perayaan dan parade pagi ini. Padahal, acaranya baru dimulai pukul 10.00.

Kali ini Tiongkok memang mengundang dua pimpinan media dari setiap negara. Dari Indonesia Jawa Pos dan Antara. Saya lihat delegasi ini dari lebih 100 negara. Terutama negara-negara Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat, Afrika, dan Amerika Latin. Tiongkok seperti ingin memberikan contoh kepada negara-negara berkembang itu bahwa negara miskin dan terbelakang pun bisa mengalahkan negara Barat kalau bekerja dengan sungguh-sungguh. 30 tahun lalu, Tiongkok lebih miskin dari umumnya negara yang diundang ini. Tapi, hanya dalam tiga dekade semuanya lewat. Bahkan, kini Tiongkoklah yang bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin baru dunia menggantikan Amerika atau setidaknya tidak lagi hanya Amerika.

Kapan peran sebagai pemimpin baru dunia itu tiba. Para pejabat tinggi Tiongkok yang bertemu dengan delegasi media ini selalu merendah. Khas timur. “Kami masih jauh untuk bisa disebut menjadi negara maju. Kami masih harus bekerja sangat keras. Kami masih punya banyak persoalan. Misalnya, ketimpangan antara kota-desa dan pantai-pedalaman. Tapi, kami yakin saat itu akan tiba,” ujar deputi menteri penerangan menjawab pertanyaan media dari Nepal.

Negara seperti Nepal yang baru merdeka dua tahun lalu tentu baru bisa bermimpi. Nepal masih penuh dengan persoalan. Mereka masih kisruh dalam merumuskan UUD setelah raja terakhir Nepal menyerahkan kerajaan kepada rakyat. Negara yang hanya berpenduduk 7 juta ini (sebesar Surabaya + Sidoarjo), masih berantem untuk mencari bentuk negara: kesatuan atau federasi. Setelah disepakati berbentuk federasi, mereka masih berantem lagi. Negara kecil itu akan terbagi dalam berapa negara bagian. Ada yang menginginkan 15 negara bagian ada yang minta 17 negara bagian. Maksudnya, agar satu suku kecil pun punya satu negara bagian sendiri. Lalu mereka juga masih berantem karena para pejuang komunis yang selama ini menuntut kemerdekaan dari kerajaan minta otomatis jadi tentara. Mirip sekali dengan apa yang dialami di Indonesia di awal kemerdekaan dulu. Tentara tidak mau menerima mereka karena ada sekitar 32.000 pejuang bersenjata yang kalau diterima, berarti komunis akan menguasai kemiliteran.

Negara-negara di sekitar Tiongkok masih seperti itu. Afghanistan masih ribut antarsuku yang saling berebut kekuasaan: Pastun, Tajik, dan Hazara. Padahal, mereka punya musuh bersama: Taliban. “Tapi, Afghanistan sekarang sudah lebih damai lho. Kabul sudah lebih aman daripada Islamabad, ibu kota Pakistan,” ujar Kazim al Gulzari, pemilik harian Daily Outlook yang sukunya Hazara. “Datanglah ke Kabul,” ujarnya kepada saya. “Memang kalau malam masih belum berani keluar, tapi sebenarnya aman,” tambahnya. Saya pun berjanji ke Afghanistan dalam waktu dekat karena dia juga berjanji ke Indonesia akhir bulan ini: untuk membeli kertas koran.

Para pimpinan media dari Afrika yang umumnya baru sekali ini melihat Tiongkok, tidak habis keheranannya melihat Tiongkok sekarang. “Makanya Tiongkok agresif sekali masuk pasar Afrika,” ujar salah satu dari mereka. Tiongkok kini memang memasuki Afrika secara besar-besaran, sampai-sampai membuat heran negara Barat. Kok mau Tiongkok masuk negara yang penuh dengan pergolakan. Perminyakan, telekomunikasi, infrasruktur di negara-negara Afrika kini memang dikuasai Tiongkok. Afrika memang penuh risiko, tapi rupanya justru itulah yang dilihat Tiongkok sebagai peluang.

Sebagaimana mi Sedaap dari Surabaya yang berani masuk Nigeria 10 tahun lalu dan kini sudah berhasil menguasai pasar mi di sana. Tentu dengan risiko ada pegawainya yang dirampok dan bahkan dibunuh.

Demikian juga delegasi dari Brazil, Argentina, Chili, Meksiko, Kolombia, dan seterusnya. Umumnya baru sekali ini ke Tiongkok. Mereka tidak menyangka bahwa Tiongkok sudah mencapai tahapan sekarang ini. “Bagaimana keadaan semaju ini masih dikatakan negara berkembang. Shanghai ini sudah melebihi New York,” ujar pemimpin media dari Kolombia. Sekali lagi, pejabat-pejabat tinggi Tiongkok merendah. “Kami masih punya banyak persoalan,” katanya.

Tidak hanya pagi ini perayaan kemerdekaan dilakukan secara spektakuler. Masih diteruskan lagi nanti malam. Pergelaran kesenian diadakan besar-besaran di lapangan Tian An Men yang letaknya di depan Istana Kota Terlarang itu. Kembang api yang akan dipergunakan untuk menghiasi langit Beijing nanti malam, misalnya, dua kali lipat dari yang digunakan saat pembukaan Olimpiade yang sudah mengagumkan dunia itu. Dan saya juga berada di situ nanti malam” (*)

Saturday, August 8, 2009

Adik-adik yang Membanggakan

Adik-adik yang Membanggakan
MINGGU, 09 AGUSTUS 2009

Menyaksikan siaran langsung penyerangan yang dilakukan polisi terhadap rumah yang dihuni buron teroris kakap Noordin M Top di Desa Beji, Temanggung, Jumat sore sampai Sabtu siang kemarin, perasaan saya campur aduk: mula-mula tegang, lalu menjengkelkan, berkembang ke rasa bangga dan berakhir agak kecewa.

Mula-mula, Jumat sore, saya pindah-pindah saluran antara TV-One dan Metro TV. Agak malam saya terus-menerus melihat Metro TV. Terasa sekali dua stasiun TV ini bersaing dalam menyajikan peliputan terbaik. Dan Metro TV saya nilai menang tipis malam itu. Hanya sesekali saya mengecek ke saluran TV-One, terutama kalau di Metro TV lagi siaran iklan.

Mengingat sampai jam 00.00 belum ada tanda-tanda akan ada penyelesaian, saya memutuskan untuk tidur. Hari itu (7/8) saya baru memperingati tepat dua tahun menjalani transplantasi hati.


Masih harus menjaga diri agar jangan tidak tidur semalam suntuk. Saya menduga, penyerangan finalnya baru akan dilakukan pukul 03.00 atau 04.00. Sebagai orang yang pernah lama jadi wartawan saya hafal: polisi sering melakukan penyergapan penting pada dini hari.

Tapi saya tidak bisa tidur nyenyak. Pesawat TV memang tidak saya matikan. Mata saya menutup tapi telinga membuka. Jam 04.00 kurang, mata saya kalah dengan telinga. Saya ingin segera tahu apa hasil penyerangan final yang saya perkirakan sudah selesai dilakukan. Saya lirikkan mata yang masih mengantuk itu ke layar TV. Ternyata masih sama dengan sebelum saya tidur. Metro TV hanya menampilkan wawancara kurang menarik dengan pengamat intelejen. Mata sudah terlanjur melek. Iseng-iseng saya coba pindah ke TV-One. Terbelalak. TV-One menyajikan gambar dari jarak dekat. Bahkan, tak lama kemudian, TV-One mereportasekan adanya robot yang disuruh keluar masuk ke rumah persembunyian Noordin M. Top itu.

Kian jelas TV-One mulai menang terhadap Metro TV. Bahkan menang telak. Sesekali saya pindah ke Metro TV, masih meneruskan wawancara kurang menarik itu. Saya kian tidak mau lagi pidah dari TV-One. Saya sangat memuji kegigihan TV-One dalam "membalas" kekalahan tipisnya menjadi kemenangan telak itu. Penjelasan mengenai dilibatkannya robot dalam operasi ini, sangat menarik. Meski pun saat itu gambar robotnya belum terlihat, namun penyebutan dikerahkannya robot dalam operasi ini sangat membangunkan saya.

Terus terang saya belum pernah melihat robot polisi atau polisi robot yang disebut-sebut oleh penyiar TV-One itu. Apalagi penyiar TV-One tidak pernah mendiskripsikan seperti apa bentuk robot polisi tersebut. Sambil memperhatikan gambar di layar saya terus membayangkan dengan imajinasi saya sendiri mengenai bentuk robot yang dimaksud. Yakni sebuah robot seperti boneka kecil yang matanya adalah kamera. Lama sekali saya membayangkan robot seperti itu karena di layar memang belum pernah terlihat bentuk robot yang dimaksud.

Baru jam 05.30 tepat terlihatlah di layar TV-One robot yang dimaksud. Ternyata seperti tank dalam bentuk lebih kecil. Yakni berukuran panjang sekitar 1 meter. Tangan-tangannya berada di atas kendaraan kecil itu. Tangan itulah yang membawa kamera dan benda-benda yang diperlukan untuk diletakkan di tempat sasaran.

Dari sinilah saya lantas menarik kesimpulan: rupanya penyerangan tidak dilakukan dini hari tersebut karena masih menunggu datangnya robot dari Jakarta. Kehadiran robot tersebut amat penting sebagai langkah hati-hati. Jangan sampai ada petugas yang jadi korban. Sebab berbagai pertanyaan mengenai apa saja yang ada di dalam rumah di sebelah bukit itu memang masih belum terjawab. Misalnya berapa orang sebenarnya yang ada di dalam rumah itu. Ada berapa senjata dan jenis apa saja. Adakah bom tersimpan di sana dan seberapa besar.

Pengintaian yang terbaik dan paling tidak membawa resiko adalah pengintaian cara modern dengan robot. Tapi saya tidak pernah menduga bahwa Densus 88 dilengkapi robot! Mendengar digunakannya robot ini dan kemudian melihat di layar kaca mengenai bentuknya, saya benar-benar bangga pada polisi Indonesia. Tidak sejelek yang banyak dikatakan orang.

Dengan melihat robot ini kejengkelan saya mengenai lamanya proses pengepungan tersebut hilang sama sekali. Semula saya bertanya-tanya mengapa proses ini begitu lama" Segitu kuatkah Noordin M. Top" Kurang merasa kuatkah Densus 88" Tapi dengan munculnya robot di pagi buta itu saya mengakui bahwa polisi memang perlu menggunakan adagium "lebih cepat lebih baik?.
Menunggu datangnya robot bisa dibilang "lambat tapi tepat?. Untuk apa juga cepat-cepat tapi ceroboh. Toh, sang buron tidak akan bisa lolos lagi. Pengepungan sudah dilakukan secara tepung-gelang. Posisi rumah "itu" juga sangat "enak" untuk dikepung. Bahkan banyak wartawan saya yang dengan guyon mengatakan "lebih baik pengepungan dilakukan satu minggu?. Lebih dramatik.

Menjelang fajar itu perkembangan memang sangat dramatis. Untuk memasukkan robot, pintu depan harus diledakkan dulu agar terbuka. Lalu robot masuk. Wartawan TV-One kelihatannya berhasil mengambil posisi bersama polisi yang membaca layar monitor hasil kerja kamera yang dipasang di robot. Karena itu wartawan TV-One bisa melaporkan mengenai keadaan di bagian depan rumah tersebut: tidak ada orang sama sekali di situ. "Mata" robot lantas bisa melihat ada pintu tertutup yang menghubungkan bagian depan dan bagian belakang rumah itu. Maka robot ditarik kembali ke luar.

Tugas robot rupanya masih panjang. Dia harus masuk lagi ke rumah tersebut dengan membawa bahan peledak. Yakni untuk ditempatkan di dekat pintu tertutup tersebut. Asumsinya, para teroris sudah pindah ke bagian belakang rumah. Mungkin sejak diledakkannya pintu depan. Bukankah sebelum itu masih ada perlawanan dari dalam rumah bagian depan" Yakni berupa tembakan beberapa kali, terutama antara jam 21.00 sampai 01.00?

Tugas meletakkan bom kecil di dekat pintu tertutup tersebut rupanya berhasil dilakukan robot dalam waktu cepat. Robot lantas ditarik keluar. Tak lama kemudian: blaaar! Ledakan berskala sedang terdengar. Jendela-jendela tergetar dan mengeluarkan percikan debu dan pecahan kaca. Pertanda pintu yang dimaksud mestinya sudah terbuka. Sang robot kembali ditugaskan melakukan pengintaian. Masuk ke bagian belakang rumah tersebut. "Mata" robot melihat ke sana kemari tapi tidak ada apa-apa. Kecuali barang yang berantakan. Berarti tidak ada kemungkinan lain kecuali satu ini: sang buron menyingkir ke kamar mandi. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Saatnya semua orang menunaikan hajat?.

Apakah robot ditugaskan kembali untuk meledakkan pintu kamar mandi" Ataukah ditugaskan kembali membuka pintu belakang rumah itu" Ternyata tidak. Hasil perhitungan polisi tentu sudah final: Noordin M Top terpojok. Lebih gampang menyergapnya.

Tugas membuka pintu belakang rupanya diserahkan kepada juru tembak yang ada di bukit di belakang rumah tersebut. Puluhan polisi memang sudah bertengger di bukit yang hanya sedikit lebih tinggi dari atap rumah tersebut. Serentetan tembakan diarahkan tepat mengenai tembok di sekitar kusen pintu belakang tersebut. Rentetan tembakan itu begitu akuratnya sehingga seluruh dinding di sekitar kusen menganga. Pintu pun roboh beserta kusennya. Itulah sebabnya, meski tidak terlihat di layar TV, saat itu debu tembok bergumpal-gumpal seperti awal di bagian belakang rumah tersebut.

Selanjutnya penyerbuan dilakukan dari banyak arah. Pemirsa TV-One mengharapkan terjadinya klimaks yang dramatik. Pemirsa, seperti saya, berharap inilah untuk kali pertama dalam sejarah liputan langsung peristiwa seperti ini bisa ditonton secara live! Saya membayangkan seperti saat saya berada di AS dulu, yakni TV sedang melakukan siaran langsung pengejaran buron O.J. Simpson yang melarikan mobilnya di sepanjang jalan bebas hambatan No. 5. California. Klimaks dari pengejaran berjam-jam itu hebat sekali. Kita bisa melihat bagaimana polisi menaklukkan mobil O.J. Simpson, bintang American football yang legendaris itu.

Saya juga bisa berharap mengulangi menyaksikan siaran langsung pembajakan bus sekolah di Florida beberapa tahun kemudian. Berjam-jam kita bisa mengikuti perjalanan bus sekolah yang dibajak itu ke mana-mana sampai pada klimaksnya.

Dalam hal penyerangan rumah teroris di Temanggung kemarin itu, pemirsa tidak mendapatkan klimaks yang diharapkan itu. Ketika reporter TV-One melaporkan pandangan mata mengenai klimaks itu, yang muncul di layar adalah gambar-gambar yang diambil sebelumnya yang diulang-ulang. Yakni gambar beberapa polisi memasukkan pipa paralon yang ujungnya diberi pengait itu. Akibatnya imajinasi pemirsa tidak nyambung.

Klimaks peristiwa ini seperti laporan pandangan mata dari radio. Reporter memberitahukan dengan baik bahwa polisi yang baru saja masuk rumah tersebut sudah kembali keluar lagi dengan memperagakan toast kepada polisi yang lain. Ini pertanda penyerangan telah selesai dan polisi meraih sukses. Klimaks seperti ini bahkan lebih jelak dari siaran radio. Di radio pendengar bisa berimajinasi secara penuh. Di layar TV-One kemarin, imajinasi pemirsa terganggu oleh layangan gambar di layar. Di suara sudah menyebutkan selesainya penyerangan itu, tapi di layar masih menggambarkan upaya keras para polisi memasukkan pipa paralon. Gambar ini "merusak" imajinasi karena pemirsa terpengaruh oleh tulisan "langsung" di layar. Padahal yang dimaksud "langsung" adalah suaranya. Bukan gambarnya.

Apa pun TV-One harus diacungi jempol. Begitu telaknya kemenangan TV-One sampai-sampai reporter Metro TV perlu menyampaikan kepada permirsa bahwa Metro TV hanya bisa mengambil gambar dari jarak jauh karena ingin mematuhi etika peliputan. Maksudnya: TV-One telah melakukan pelanggaran.

Saya tidak mengomentari itu pelanggaran atau bukan. Yang jelas TV-One berhasil membina hubungan yang demikian hebatnya dengan pihak kepolisian sehingga bisa menitipkan juru wartanya bersama tim inti penyerangan yang bersejarah ini.

Dalam posisi Indonesia yang seperti sekarang, saya menilai siaran langsung kemarin membawa dampak yang amat baik. Terutama bagi tumbuhnya kepercayaan diri bahwa bangsa ini selalu mampu keluar dari kesulitan. Asal kita memang sungguh-sungguh. Dunia harus melihat itu. Sedang kita harus bertekad untuk lebih sering sungguh-sungguh.

Saya teringat akan kata-kata mantan Dandensus 88 Brigjen Surya Dharma juga di TV-One. "Berilah waktu. Adik-adik saya pasti mampu membongkar ini. Mereka itu hebat-hebat," katanya.

Saya pernah bepergian jauh selama empat hari bersama Brigjen Surya Dharma. Saya tahu kehebatannya. Saya juga tahu komitmennya yang benar-benar I love you full soal pemberantasan terorisme. Termasuk perhatiannya kepada orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Waktu itu saya mendoakan agar dia tidak dipensiun. Saya kaget ketika tahu bahwa masa dinasnya ternyata tidak diperpanjang. Lebih menyesal lagi ketika tak lama kemudian terjadi peledakan bom di Marriott dan Ritz- Carlton. Saya agak ragu apakah "adik-adik saya" sebaik dia.

Ternyata dia benar. "Adik-adik saya" itu sangat membanggakan bangsa Indonesia. ***

Saturday, August 1, 2009

Berharap U Hanya Dapat L?

Berharap U Hanya Dapat L?
KAMIS, 16 JULI 2009

Semester I tahun 2009 sudah lewat. Kesimpulannya jelas: skenario ”U” dalam upaya pemulihan ekonomi tidak terjadi. Ketika negara-negara maju di seluruh dunia menggenjot stimulus ekonomi dengan dana yang luar biasa besar, dunia berharap perkembangan ekonomi akan mirip huruf ”U”. Yakni terjun ke bawah dengan sangat tajam tapi segera naik lagi, pulih seperti sedia kala. Huruf ”U” itu diharapkan sudah mulai kelihatan bentuknya di akhir semester I, 30 Juni 2009 lalu.

Kini para ahli sudah tidak berharap lagi akan mendapatkan ”U”. China sudah segera merumuskan strategi ekonomi yang lebih baru dalam bulan Juli ini. Langkah cepat dilakukan China setelah melihat bahwa tidak ada tanda-tanda kenaikan permintaan dari Amerika Serikat. China, yang tahun lalu memompa stimulus untuk proyek-proyek dalam negeri, kini akan lebih mempertajam lagi pengembangan ekonomi domestik. Jumlah penduduknya yang seperlima penduduk dunia dalam masa krisis ini bisa menjadi kekuatan pasar untuk industri dalam negerinya.

China mencatat stimulus yang mencapai 500 miliar dolar AS itu sebagian ternyata dinikmati pihak luar negeri. Singapura, misalnya, semester I tahun ini sudah jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Maklum pada semester II tahun lalu Singapura sampai minus 10 persen sehingga banyak yang pesimistis akan kondisi semester I tahun ini. Tapi, besarnya stimulus di China ternyata secara tidak langsung membawa berkah sampai ke Singapura. Permintaan China akan barang dan jasa dari Singapura ternyata amat besar untuk ukuran Singapura. Singapura yang perbaikan ekonominya lebih cepat dari negara maju lainnya, antara lain juga karena bisa memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang untuk ukuran sekarang termasuk yang terbaik di dunia.

Kita yang di Indonesia memang kurang merasakan pahitnya krisis. Apalagi ada pemilu yang bermacam-macam yang bisa menolong menggairahkan peredaran uang. China, India dan Indonesia memang lagi jadi bintang ekonomi dunia. Semula saya ikut berharap begitu selesai Pemilu ekonomi Indonesia langsung bisa tancap gas. Tapi, kenyataan yang ada menunjukkan keberhasilan Pemilu ternyata tidak memberikan kejutan apa-apa. Indeks harga saham gabungan justru sempat turun di bawah 2.000. Nilai rupiah juga biasa-biasa saja.

Dengan hilangnya harapan terhadap skenario ”U” dan tidak adanya lonjakan ekonomi apa-apa setelah pemilu, maka kita dihadapkan pada skenario-skenario berikutnya. Kita harus mewaspadai skenario yang mana yang akan terjadi. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk masing-masing pribadi, masing-masing perusahaan, dan masing-masing negara.

Secara global, kini tinggal tersedia dua jenis skenario: pertama skenario ”W-lama” dan kedua skenario “L”. Yang dimaksud dengan ”W-lama” adalah huruf W yang ketika menuliskan bagian tengahnya tidak perlu naik setinggi bagian depan dan bagian belakangnya. Maksudnya, ketika ekonomi anjlok drastis, lalu diadakan stimulus di seluruh dunia, ekonomi bisa naik sedikit. Tapi setelah itu segera anjlok lagi. Ini disebabkan bentuk stimulus yang kurang tepat.

Kalau skenario ”W-lama” yang akan terjadi maka sekarang ini kita justru berada dalam posisi menjelang jatuh lagi. Ini yang sedang ramai dibicarakan di Amerika dan Inggris. Stimulus Obama dan Brown (PM Inggris Gordon Brown) dinilai kurang tepat sasaran. Tentu Obama menolak penilaian itu dengan mengatakan stimulusnya memang baru akan terlihat dalam jangka panjang. Namun, banyak pihak, terutama dari Partai Republik, yang sangat pesimistis. Bahkan pendukung utama Obama sendiri, bos Berkshire Hathaway Warren Buffet sudah menuntut agar Obama segera merancang stimulus kedua. Secara tidak langsung Buffet tentu ingin mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hasil stimulus Obama. Obama tentu menolak usul itu karena tahun ini saja APBN Amerika sudah defisit lebih dari 1 triliun dolar AS, terbesar dalam sejarahnya.

Orang seperti Buffet masih mengupayakan agar skenario W-lama yang kurang baik itu bisa terjadi. Kita boleh anjlok lagi, tapi sebaiknya jangan terlalu lama dan harus naik kembali seperti huruf W. Kalau bisa huruf W itu sudah mulai kelihatan bentuknya pada awal 2010. Kalau tidak, maka yang akan terjadi adakah skenario ”L”. Dari krisis yang lalu tidak akan pernah bisa lagi naik kembali. Dari terjun ke bawah lantas jalan mendatar yang panjang.

Kalau saja tahun 2010 tidak terbentuk skenario ”W” maka dampak krisis ini akan sangat panjang. Bisa jadi di tahun 2011 akan terjadi banyak hal: banyak negara berlomba mengatasi krisis dengan mencetak uang. Tidak ada jalan lain lagi. Ini akan berarti inflasi terjadi di mana-mana. Hanya komoditi emas yang aman. Dunia akan sangat kacau.

Skenario ”U” sudah pasti tidak akan terjadi. Hasil semester I tahun 2009 sudah mengatakan hal itu. Kini kita tinggal berharap skenario ”W” yang lagi diusahakan bersama-sama. Kalau tidak dunia harus siap-siap memikul huruf “L”.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya tidak tahu kecepatan memutuskan dan bertindak dari Presiden SBY. Apalagi sejumlah kambing hitam toh sudah tersedia. Misalnya bahwa pemerintah sekarang ini lagi dalam masa transisi. Tapi tidak ada salahnya kita segera mengamati apa yang dilakukan China akhir bulan Juli ini. Lalu, kalau malas berpikir, meng-copy-nya untuk disesuaikan dengan iklim Indonesia. Batubara dan gas benar-benar harus segera diatur untuk sebesar-besar kepentingan dalam negeri. Bukan karena JK (Jusuf Kalla) mengatakan itu dan Prabowo geregetan karena itu, tapi memang harus diakui ide itu sangat baik untuk dilaksanakan siapaun yang memenangi pemilu.

China , Indonesia, India dan ditambah Brasil dan beberapa negara Timteng memang berada dalam kondisi yang masih baik. Tapi, kekuatan seluruh negara ini hanya sekitar 30 persen kekuatan dunia. Tidak mungkin negara-negara yang masih baik ini bisa diharapkan untuk menolong negara maju. Ibarat katak tidak mungkin menggendong gajah. Negara-negara maju tahu hal itu dan tidak banyak berharap dari situ.

Lalu apa yang harus dilakukan para pengusaha dan perseorangan penduduk Indonesia? Kita harus kembali berkonsentrasi kepada nasib kita masing-masing. Sejelek-jelek keadaan tidak akan menimpa semua orang dan semua perusahaan. Sejelek-jelek keadaan tetap saja siapa yang bekerja lebih keras, hidup lebih terkontrol, dan pikiran lebih optimistis dialah yang akan terhindar dari kesulitan itu.

Lupakan janji-janji dari siapa pun, betapa indah dan kuatnya janji itu. Ujung-ujungnya kita sendiri, masing-masing pribadi dan perusahaan, yang akan menanggung segala akibat yang terjadi. Biarkan orang lain pro-L, kita sendiri harus pro-W. ***

Wednesday, July 15, 2009

Madrasah Serba Elektronis di Singapura

Dalam kapasitasnya sebagai partner di Indonesia, Dahlan Iskan, Sabtu lalu (11/7) diundang menghadiri peresmian gedung baru madrasah di Singapura. Madrasah itu sama sekali berbeda dengan madrasah tempat chairman/CEO Jawa Pos tersebut belajar di Magetan, Jatim, dulu. Berikut catatannya.

Madrasah itu punya sistem pembelajaran yang modern. Setiap bangku pada salah satu ruang kelas, misalnya, dilengkapi dengan alat elektronis.

Di depan kelas terdapat sebuah papan yang selain dapat ditulisi juga bisa jadi layar proyektor. Misalnya kalau seorang guru (ustad) suatu saat harus menampilkan pertanyaan. Di masa lalu para murid akan berebut angkat tangan (ngacung) untuk menunjukkan siap menjawab. Dalam kasus ada beberapa anak yang berbarengan mengangkat tangan, maka akan terjadi subjektivitas sang guru: mau memilih murid yang mana untuk menjawab lebih dulu? Pilihan subjektif itu bisa merusak mental si anak. Ada saja anak yang merasa dianaktirikan karena angkat tangannya diabaikan oleh guru.

Di madrasah Singapura tersebut tidak akan pernah terjadi hal seperti itu. Ketika di layar proyektor muncul pertanyaan, para siswa (santri) bisa langsung memijit alat elektronis yang ada di tangannya. Dari situ bisa diketahui siapa yang lebih dulu memijit tombol. Nah, dialah yang berhak menjawab lebih dulu.

Madrasah tersebut memang serbaelektronis. Di kelas pelajaran bahasa Arab, misalnya, papan tulisnya juga bisa jadi papan elektronis. Misalnya, ada enam pertanyaan di sebelah kanan. Lalu, ada pilihan jawaban di sebelah kiri. Maka, pilihan jawaban tersebut bisa digeser-geser untuk disesuaikan dengan pertanyaannya. Tulisan-tulisan di papan itu, yang dipancarkan dari proyektor, bisa dipindah ke bagian mana pun di papan itu tanpa harus menghapus dan menuliskannya lagi.
Saya mencoba menjadi siswa di situ. Saya memegang alat elektronis berbentuk seperti spidol. Alat itulah yang saya pakai menggeser kata ”hua (dia) Ustman bin Affan” agar sejajar dengan pertanyaan ”man hua (siapa dia)?.”

Demikian juga sarana di kelas bahasa Inggris atau matematika. Di kelas bahasa Inggris (dan juga Arab), digunakan software komik. Setiap siswa menghadap ke komputernya. Lalu, di layar masing-masing muncul komik yang tidak ada dialognya. Muridlah yang harus mengisi kolom-kolom kosong di komik itu sesuai dengan kalimat percakapan yang dia inginkan. Maka, saya lihat kelas bahasa itu seperti anak-anak lagi main game. Alangkah menyenangkan. Sebagian komik diambil dari server sekolah sendiri dan sebagian lagi diambil secara online lewat internet.

Di kelas matematika untuk kelas 1 ibtidaiyah/SD, alat peraganya juga elektronis. Di layar proyektor itu ada gambar timbangan. Di sisi kiri si guru menaruh gajah dengan berat 705 kg. Di pojok layar yang lain tersedia beberapa angka yang bisa dipindah-pindah dengan kursor. Tugas si murid menaruh angka-angka itu di timbangan sisi kanan. Kalau angka yang ditimbun di situ sudah sama dengan berat si gajah, timbangan akan seimbang. Kalau belum, masih terlihat njomplang. Begitulah. Saya tidak melihat pemandangan sekolah lagi. Saya seperti melihat kios playhouse yang besar.

Madrasah tersebut memang baru menempati gedung baru setelah 40 tahun menyewa gedung sekolah yang model lama. Di kompleks baru itu semua serbamodern. Di pojok depan ada masjid baru dua lantai yang bisa menampung jamaah hingga 2.000 orang. Di sisi kanan ada gedung MUIS (lembaga yang mengurus masyarakat Islam di Singapura) delapan lantai. Pengadilan agama, urusan haji, dan koordinasi masjid ada di gedung tersebut. Gandeng dengan gedung itu ada bangunan enam tingkat. Paling bawah difungsikan untuk lapangan terbuka. Karena itu, plafonnya sangat tinggi. Di atasnya ada kantin sekolah yang dilengkapi dengan dapur modern.

Di atas kantin terdapat satu ruang besar dengan penataan seperti ruang redaksi di Jawa Pos Surabaya. Itulah ruang guru. Setiap guru memiliki satu meja yang bentuknya mirip meja redaksi Jawa Pos. Ruang tersebut full AC dengan lantai karpet. Setiap guru juga memiliki locker sendiri. Ruang tersebut kelihatan amat ”gembira”. Masing-masing (terutama guru wanita) seperti menghias mejanya. Bunga, boneka kecil, mainan anak-anak terlihat di setiap meja. Saya membayangkan guru seperti itulah yang akan disenangi murid.

Di ruang itu pula guru akan membahas perencanaan dan persiapan mengajar. Juga membicarakan prestasi dan kekurangan santri-santrinya. Melihat ruang guru tersebut, saya langsung bermimpi bahwa madrasah yang lagi kami bangun di Magetan sekarang (International Islamic School Pesantren Sabilil Muttaqin) kelak juga harus punya ruang guru seperti itu. Ruang guru yang bagus tentulah menentukan suasana kejiwaan para guru. Guru yang jiwanya baik pada gilirannya akan bisa mengajar secara baik.

Di atas ruang guru tersebut masih ada gedung teater yang dipergunakan untuk pertunjukan atau acara-acara sejenis. Di teater itu pula malam itu diadakan upacara peresmian madrasah yang dihadiri oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Madrasahnya sendiri berada di kanan teater tersebut. Itulah madrasah Al Irsyad Al Islamiyah Singapura (Tidak ada hubungannya dengan Al Irsyad yang ada di Indonesia). Yakni bangunan empat lantai yang berbentuk U. Ada dua kelompok lift di sekolah tersebut, tapi hanya guru dan tamu atau murid yang memerlukan sarana khusus yang boleh lewat lift. Santri biasa harus turun naik lewat tangga.

Sebagai orang yang sejak kecil hidup di madrasah di pedesaan, tentu saya ngiler berada di madrasah yang sarananya, metode belajarnya, dan pemikirannya begitu modern. Jangan ditanya soal kebersihannya. Parit-paritnya saja sudah didesain secara khusus. Apalagi ruang wudu masjidnya. Inilah ruang wudlu yang di setiap pancurannya disediakan sarana permanen untuk sabun cair. Mirip dengan yang ada di bandara internasional atau di hotel bintang lima.

Demikian juga mukena untuk umumnya. Kain sembahyang untuk wanita itu ditaruh di hanger seperti di tempat laundry modern. Dengan sistem penggantungan seperti itu, tidak akan ada mukena yang berbau. Padahal, selama ini, saya selalu hanya melihat mukena yang justru dilipat, lalu dimasukkan ke lemari. Bisa dibayangkan mukena yang di bagian wajahnya pasti basah itu (karena dipakai oleh orang yang baru saja berwudu) menjadi apak dan berbau.

Saya sebenarnya malu harus “”impor” madrasah dari Singapura. Tapi, saya juga harus mengakui untuk zaman modern nanti, kita tidak bisa lagi tidak menyesuaikan diri. **

Sunday, July 5, 2009

JPNN: Penularan, Bukan Pewarisan

Bagaimana Jawa Pos ke depan? Seperti otomatis, segala kemampuan manajemen yang selama 25 tahun ini saya terapkan di Jawa Pos sudah tertular dengan sendirinya kepada generasi baru. Bukan hanya di Jawa Pos, tapi juga ke seluruh grupnya. Sudah puluhan orang yang awalnya berkarir sebagai wartawan kini menjadi direktur utama atau direktur di anak-anak perusahaan grup Jawa Pos. Merekalah yang kini menularkan lagi semua itu kepada generasi yang lebih muda.

Puluhan orang itu, ratusan orang itu, kini sudah berkiprah di lingkungan apa yang kemudian kita dengar sebagai Jawa Pos News Network (JPNN).

Ini bukan soal waris-mewariskan, tapi soal tular-menularkan. Saya percaya entrepreneurship seperti itu tidak bisa diwariskan, tapi sangat bisa ditularkan.

Kalau kata "warisan" yang dipakai, tentu konotasinya pasif. Ada pihak yang mewariskan dan anak pihak yang sengaja diwarisi. Di sini seolah juga ada subjektivitas. Seolah pihak yang akan mewariskan mempunyai hak untuk menunjuk orang tertentu atau pihak tertentu yang harus menerima warisan itu.

Saya berkesimpulan entrepreneurship tidak bisa diwariskan seperti itu. Orang yang merasa bahwa entrepreneurship bisa diwariskan hanya akan menemukan warisannya berantakan. Tapi, saya percaya entrepreneurship sangat bisa ditularkan. Pewarisan dan penularan sangatlah tidak sama. Berbeda dengan warisan, dalam proses penularan harus ada unsur yang menulari dan unsur yang ditulari. Hasilnya belum tentu terjadi proses penularan. Mungkin bisa terjadi penularan, mungkin juga tidak.

Dalam proses waris-mewariskan terkesan bisa dilakukan secara mendadak, tiba-tiba, dan tanpa syarat. Dalam proses penularan tidak mungkin terjadi seperti itu. Harus ada proses yang panjang. Kadang sangat lama. Dalam proses ini bisa saja terjadi "penolakan" dari yang akan ditulari. Atau, orang yang akan ditulari ternyata sudah punya "kekebalan" tubuh sehingga meski dia sebenarnya sudah mau ditulari, penularan itu tidak sampai terjadi.

Bisa juga penularan itu gagal karena orang yang sedang ditulari tiba-tiba menjauh. Atau merasa bosan karena terlalu lamanya proses itu. Atau mendapat "suntikan" anti-penularan. "Suntikan" itu bisa berupa godaan finansial, bisa juga karena emosi. Misalnya, ketika tiba-tiba saja mendapat tawaran yang lebih menggiurkan di tempat lain.

Sebaliknya, yang akan menulari pun bisa-bisa berubah sikap. Misalnya, ternyata dia merasa bahwa pihak yang ditulari sangat "kebal virus".

Bahwa anak-anak pengusaha lebih banyak menjadi pengusaha, saya yakin bukan karena "darah" pengusahanya, tapi karena dalam keluarga pengusaha proses penularan itu bisa berlangsung lebih intensif dan lebih lama. Yang juga tidak kalah penting, dalam proses yang panjang itu sangat jarang terjadi "penolakan". Mungkin karena pada awalnya anak selalu takut kepada bapak -sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang bukan anak sendiri. Sedangkan yang bukan anak-bapak akan punya perasaan lebih mandiri dari perasaan takut itu.

Kalau soal darah ini benar, tentu tidak akan ada anak pengusaha yang gagal menjadi pengusaha. Tapi, kenyataannya, begitu banyak kegagalan itu. Maka, meski ada hubungan anak-bapak, tetap saja ada kemungkinan terjadinya "penolakan" akan "virus" kepengusahaan itu.

Dalam proses waris-mewaris, bisa saja setelah terjadi peristiwa pewarisan, hubungan antara keduanya terputus. Tapi, dalam proses tular-menulari hubungan itu tidak akan pernah putus. Dia akan abadi sampai mati.

Kadang saya merenungkan apakah angkatan setelah saya bisa membuat proses tular-menulari ini berlangsung kepada generasi yang lebih muda. Saya pun lega. Saya melihat rasanya hal itu masih terus terjadi. Saya lihat ratusan anak muda yang awal karirnya juga wartawan kini sangat tertarik ke bidang bisnis di grup Jawa Pos. Setiap bertemu mereka saya tidak perlu lagi menulari. Saya lihat mereka sudah tertulari dengan sendirinya.

Setiap bertemu generasi baru yang hebat-hebat itu, yang umurnya 30-36 tahun itu, biasanya saya hanya mengatakan ini:

Kalian ini sudah akan bisa jadi apa saja. Karir yang lebih hebat sudah terbuka luas. Kemungkinan jadi pengusaha besar sudah di depan mata. Ujian-ujian yang terpenting sudah Anda lewati dengan sukses. Misalnya, ujian tentang membuat produk yang kompetitif, ujian memasarkan produk, ujian kejujuran di bidang keuangan, ujian berhemat, ujian membuat segala aspek perusahaan menjadi income center, dan bahkan ujian bagaimana mengelola konflik.

Dalam posisi Anda seperti itu, tinggal tiga hambatan saja yang akan bisa menghalangi Anda jadi orang besar. Dari tiga hambatan itu, dua datang dari dirinya sendiri. Yang ketiga merupakan suratan takdir.

Dua yang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah: pertama, tergoda di bidang keuangan. Kedua, tergoda di bidang cinta hubungan wanita-pria.

Terlalu banyak kasus seseorang yang sudah lama teruji kejujurannya, suatu saat terpeleset juga di bidang keuangan. Istri sering juga menjadi penyebab datangnya godaan di bidang ini. Tapi, yang lebih sering adalah berubahnya gaya hidup. Tidak sedikit seseorang yang naik pangkat atau naik jabatan gaya hidupnya berubah drastis. Lama-lama penghasilannya tidak mencukupi untuk menopang gaya hidupnya yang baru. Lalu mulai terpikir untuk menyalahgunakan uang, atau paling sedikit main komisi.

Kalau sudah menyangkut uang, biarpun nilainya tidak berarti, tidak ada ampun lagi: harus diberhentikan! Ini sudah menyangkut persoalan yang paling hakiki dalam kehidupan sebuah perusahaan. Keuangan adalah "ummul-kitab"-nya perusahaan.

Bagaimana godaan wanita? Saya tidak pernah melarang teman-teman untuk tergoda. Namanya saja tergoda, kadang tidak direncanakan. Bahkan, kadang datang mendadak begitu saja. Apalagi kalau dasarnya benar-benar cinta. Saya sendiri pernah mengalaminya. Rasanya tidak ada gunanya untuk menasihati orang lain untuk "jangan pernah tergoda". Sebab, soal tergoda ini lebih sering bukan karena keinginan. Lebih sering karena naluri alamiah atau kemanusiaan. Atau apalah! Bahkan, saya pernah merenungkan, jangan-jangan ini juga bagian dari takdir. Bukankah cinta itu ciptaan Tuhan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan?

Maka yang sering saya kemukakan kepada mereka adalah: seandainya suatu saat godaan itu terjadi, yang terpenting adalah bagaimana harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Orang boleh tergoda, tapi harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Kadang diri sendiri sulit sekali menyadari itu. Menyadari saja sulit, apalagi menyelesaikannya. Kadang memang harus ada orang lain yang diminta membantu menyelesaikannya.

Saya sering mengatakan bahwa kemampuan menyelesaikan godaan itu juga bagian dari kemampuan manajemen. Bukankah kalau tidak lulus dalam menyelesaian godaan ini, berarti kemampuan manajemennya juga harus diragukan?

Faktor ketiga yang bisa menghalangi orang menuju puncak adalah takdir. Yakni, kalau tiba-tiba orang ditakdirkan sakit, atau kecelakaan mendadak. Meski tidak sampai mati, sakit yang fatal atau kecelakaan lalu lintas adalah bagian yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Orang kalau sudah terkena sakit parah, sesemangat-semangat apa pun harus segera "tahu diri". Sebaiknya harus segera konsentrasi pada bagaimana mengusahakan untuk sembuh. Bukan ketika sakit masih memikirkan ambisi-ambisi yang besar. Saya sendiri ketika tiba-tiba diketahui sakit kanker liver empat tahun lalu, saya langsung sumeleh: saya berserah diri. Kalau memang sudah tiba saatnya saya harus mengakhiri segala bentuk pengabdian di dunia ini, saya terima dengan sepenuh hati. Orang ada batasnya. Barangkali batas saya sampai di situ. Lalu saya konsentrasi bagaimana untuk sembuh. Bukan agar bisa terus mengejar ambisi, tapi agar bisa kembali sehat saja. Sikap seperti itu menurut pendapat saya justru membuat pikiran lebih longgar. Dan, dengan pikiran longgar sakit pun tidak semakin parah.

Untuk sukses ternyata memang tidak gampang. Pintar saja tidak cukup. Juga tidak bisa hanya karena mewarisi. Harus terjadi proses penularan yang intensif. Dalam waktu yang panjang. Setelah tertular pun masih harus lolos dari tiga hal di atas. Padahal, banyak juga kasus proses penularan belum terjadi, sudah terkena salah satu dari ketiganya dan tidak ada jalan keluarnya.

Saya bersyukur, dulu Ciputra menularkannya dengan sukses kepada Eric Samola yang kebetulan bersedia ditulari. Lalu Samola menularkannya kepada saya dan saya juga menyiapkan diri untuk ditulari. Lebih bersyukur lagi, saya pun giliran punya kesempatan yang cukup untuk menularkan entrepreneurship kepada puluhan orang --dan puluhan orang itu menularkannya kepada ratusan orang.

Eric Samola di akhir hayatnya masih sempat melihat hasil penularan ke-entrepreneur-annya kepada saya. Dan dia kelihatan bangga.

Saya tahu orang seperti Ciputra juga masih mengamati saya dari dekat karena dia diberi umur sangat panjang sampai sekarang. Tapi, saya tidak pernah bertanya apakah saya menjadi orang seperti yang dia harapkan. Saya tentu sering bertemu Ciputra. Tapi, soal itu akan saya biarkan menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah saya dengar jawabnya. (*)

Buang Miliaran Ongkos Belajar

Terlalu banyak orang yang menanyakan "kisah sukses" Jawa Pos. "Bagaimana ceritanya?" tanya peserta sebuah seminar di mana saya jadi pembicaranya. "Apa saja yang dilakukan sehingga perusahaan yang hampir bangkrut pada 1982 itu bisa berjaya seperti wujudnya sekarang?" tanya yang lain. "Di mana kunci rahasianya?" pinta yang lain lagi. "Ceritakan dong kiat-kiatnya...."

Biasanya saya menolak untuk bercerita. Bukan karena pelit, tapi saya berkeyakinan bahwa cerita-cerita sukses masa lalu hanya akan membuat orang terlalu mengagung-agungkan masa silam. Lalu terlena untuk memikirkan masa depan. Sering juga cerita keberhasilan masa lalu itu dipergunakan untuk "meneror" generasi baru: agar meniru, agar menghormati, agar mengenang. Menurut saya, yang demikian itu sangat berbahaya.

Saya percaya, setiap generasi memilki zamannya sendiri. Dan, setiap zaman mempunyai generasinya sendiri. Apa yang di masa lalu sukses saya lakukan, belum tentu bisa sukses untuk dilaksanakan sekarang. Bahkan, saya bisa memastikannya: mustahil. Zamannya sudah berbeda, pasarnya sudah berbeda dan pelakunya sudah berbeda. Berarti tantangan dan peluangnya juga sudah berbeda.

Yang diperlukan generasi baru bukan warisan kisah-kisah sukses masa lalu, melainkan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab. Dan, itu hanya bisa terjadi kalau ada kerelaan generasi lama untuk secara bertahap menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada generasi baru. Sebuah penyerahan yang ikhlas. Bukan penyerahan dengan niat menghibur, mencoba, kasihan, apalagi menjebak.

Saya percaya bahwa sebuah tanggung jawab akan muncul dengan sendirinya manakala kepadanya diberikan sebuah kepercayaan. Mungkin memang ada risikonya. Misalnya, salah langkah.

Tapi itulah memang harga yang harus dibayar. Itulah "biaya sekolah" di dunia yang sebenarnya. Saya selalu mengatakan, "Memangnya saya dulu tidak pernah salah?" Sekarang, di ruang ini, di kesempatan yang berharga ini, saya harus bertestimoni: saya pun telah membuat begitu banyak kesalahan. Di masa lalu, dan mungkin masih juga akan terjadi di masa yang akan datang.

Sayangnya, seminar-seminar yang diadakan sering meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Sukses Dahlan Iskan". Belum pernah ada seminar yang meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Kesalahan dan Kegagalan Dahlan Iskan".

Ini tidak fair. Saya pernah menghitung lebih dari 1.000 kesalahan yang saya perbuat. Kalau mau dinilai dengan uang, kesalahan itu melebihi Rp 150 miliar. Artinya, kalau dikumpulkan, saya pernah menghilangkan uang sebanyak itu. Hanya, karena perusahaan yang saya pimpin juga menghasilkan uang triliunan rupiah, jadinya nilai kesalahan itu kurang terlihat.

Tapi kalau direnungkan, uang Rp 150 miliar tidaklah kecil. Itulah biaya sekolah yang harus dipikul perusahaan untuk "menyekolahkan" saya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Apakah itu karena saya seorang yang hanya lulus madrasah aliyah (setingkat SMA)? Pernah kuliah, tapi hanya sampai tahun kedua? Dari desa? Dan belum pernah memimpin perusahaan sebelumnya?

Mula-mula saya punya perasaan seperti itu. Tapi, di masa-masa awal pembangunan Jawa Pos, kami belum bisa merekrut tenaga yang lulusan perguruan tinggi terkemuka atau yang pengalamannya sudah luas. Standar gaji Jawa Pos kala itu belum bisa dipakai bersaing dengan perusahaan besar lain. Tapi, saya punya semacam "dendam" bahwa kalau suatu saat Jawa Pos sudah mampu, kami akan merekrut tenaga-tenaga yang hebat. Begitulah. Dari tahun ke tahun, kualifikasi tenaga baru Jawa Pos kian meningkat.

Enam tahun lalu, kami sudah bisa merekrut tenaga lulusan Amerika Serikat dengan nilai yang hebat, berpengalaman kerja di sana beberapa tahun, percaya dirinya sangat besar karena dari keluarga kaya, kemampuan bahasa asingnya tidak hanya satu dan ketika dites lulusnya sempurna. Setelah kami coba beberapa bulan, hasilnya sangat baik. Dalam waktu tiga tahun kami sudah memberikan beberapa tanggung jawab yang besar. Sampai pada saatnya kami menyerahkan satu tanggung jawab yang lebih besar, dan hasilnya: gagal. Lulusan USA yang hebat itu, yang bukan sekadar lulusan aliyah itu, ternyata juga masih memerlukan "biaya sekolah" lagi hampir Rp 10 miliar.

Apakah dia kami pecat? Tidak! Mengapa? Karena dia juga sudah menghasilkan puluhan miliar! Juga karena dia tidak mengambil uang itu untuk dirinya. Dia memang "hanya" salah dalam mengambil strategi bisnis. Yang disebut "salah" itu sendiri sebenarnya juga belum tentu salah. Tahunya bahwa itu "salah" adalah setelah kejadian. Sebelumnya, apa yang dia lakukan adalah sebuah "kebenaran". Bahkan, kalau saja situasi tidak menyebabkan itu "salah", dia akan tercatat sebagai orang yang "amat benar".

Begitulah di sebuah perusahaan: benar atau salah kadang baru bisa diketahui dari hasilnya. Sesuatu yang diyakini benar, hasilnya bisa salah. Sesuatu yang dikira salah, ternyata benar. Tapi, memang sering juga sesuatu yang semula benar, akhirnya memang sangat benar.

Jadi, di HUT Ke-60 Jawa Pos ini, masih perlukah saya menceritakan kisah sukses masa lalu, sebagai mana yang diminta panitia yang umumnya masih muda-muda itu? Rasanya benar-benar tidak perlu. Kecuali sekadar untuk mengagung-agungkan masa lalu agar tetap dihormati di masa kini dan terus dikenang di masa yang akan datang. Wassalam!

Saya Pernah Minta Dia Transplan Ulang

Saya Pernah Minta Dia Transplan Ulang

Selamat jalan, Angky Camaro. Tepat setahun tiga hari setelah menjalani transplantasi ginjal, teman dekat saya itu meninggal dunia. Sebenarnya tanda-tanda bahwa transplantasinya gagal sudah terlihat tak lama setelah presiden komisaris PT HM Sampoerna Tbk yang juga direktur Indofood Sukses Makmur Tbk itu kembali ke Jakarta.

Tiba-tiba saja dia mengeluh sesak napas sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ternyata paru-parunya berair. Orang yang baru transplan memang harus benar-benar menjaga paru-parunya karena organ penting ini memang paling sering terkena dampak dari transplantasi.
Menurut saya, ada tiga kemungkinan yang menyebabkan gagalnya transplantasi pada Angky.

Pertama, karena memang sudah takdir. Kedua, karena almarhum adalah penderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus) sehingga gula darahnya sulit dikendalikan. Ketiga, karena terserang virus ganas bernama citomegali (CMV), yang biasa menyerang orang-orang yang menjalani transplantasi.

Dari pengalaman saya yang baru menjalani transplan hati dua tahun lalu, penyebab kedua dan ketiga bisa dikendalikan kalau pasien transplan masih tinggal di rumah sakit. Namun, Pak Angky sudah kembali ke Indonesia hanya tiga minggu setelah transplantasi.

Waktu dia menelepon, memberi tahu bahwa dia sudah kembali ke Jakarta, saya kaget sekali. Belum satu bulan kok sudah kembali. Padahal, sudah berkali-kali saya berpesan agar tetap di rumah sakit. Minimal 2,5 bulan setelah transplantasi. Saya sendiri setiap tiga bulan masih memeriksakan diri ke rumah sakit di Tianjin.

Dia berani segera pulang karena menggunakan pesawat pribadi yang aman dari penularan virus. Dua minggu setelah transplantasi, kebanyakan pasien memang sudah langsung merasa sehat. Inilah biasanya yang membuat keinginan pasien untuk pulang menjadi sangat besar. Selain sudah bosan tinggal di rumah sakit, juga lantaran merasa toh sudah sehat.

Itu keputusan yang sangat membahayakan diri sendiri. Terutama kalau tiba-tiba terjadi masalah kesehatan, seperti infeksi. Baik akibat bakteri maupun virus. Bila ini terjadi, dokter mana pun akan kesulitan mengatasinya.

Kondisi itu sangat mungkin terjadi, karena semua pasien transplan harus minum obat yang disebut immunosuppressant. Fungsi obat ini untuk menekan ketahanan tubuh agar tidak terjadi rejeksi atau penolakan terhadap organ yang baru ditransplankan. Ketika Angky meninggal kemarin, saya sedang berada di Tianjin. Namun, saya sempat menyarankan agar almarhum menjalani transplan ulang dan pindah ke rumah sakit yang mentransplankan hati barunya.

Namun, kondisi Angky terus memburuk dan hampir sepanjang sisa hidupnya habis untuk keluar masuk ICU di Jakarta dan Singapura. Transplantasi Angky sebenarnya tergolong sukses besar. Buktinya, dua hari setelah transplantasi, dia sudah bisa kirim SMS mengenai kondisi badannya yang langsung sehat. Juga tentang kreatininnya yang langsung normal, padahal sebelumnya sangat tinggi.

Di SMS itu dia juga bercerita tentang berat badannya yang langsung turun 20 kilogram lebih. Sebab, ternyata yang membuatnya (sebelum transplantasi) sangat gemuk itu sebenarnya hanya air. Angky, sebagaimana yang pernah dia tuturkan ke harian Business Today, tak pernah tahu bahwa fungsi ginjalnya sudah tidak normal. Dia baru tahu itu pada awal April 2005. Yakni, ketika tiba-tiba dia menemukan bisul yang bernanah di pantatnya. Bisul itu membuat Angky tidak bisa duduk karena pantatnya bengkak dan sakit luar biasa.

Dari situlah dia tahu bahwa gula darahnya 500 mg/dl dan kreatininnya sudah 3,5 mg/dl. Ini keadaan yang sudah sangat parah, sebenarnya. Sebab, normalnya, gula darah orang (dalam keadaan puasa) tak boleh lebih dari 100 mg/dl. Sedangkan kreatinin orang sehat antara 0,5 sampai 0,9 mg/dl. Tetapi, itulah hebatnya Angky. Meski kondisinya sudah seperti itu, dia tetap bekerja seperti biasa. Andai pantatnya tidak bisulan dan bengkak, bisa dipastikan Angky tidak akan berobat.

Karena tidak tahan lagi dengan rasa sakit itu, Angky tidak membantah ketika dokter menyuruhnya opname. Sebab, selain nanah di bisulnya harus dikeluarkan lewat operasi, rawat inap di rumah sakit itu juga untuk mengatasi gula darah dan kreatininnya