Saturday, August 1, 2009

Berharap U Hanya Dapat L?

Berharap U Hanya Dapat L?
KAMIS, 16 JULI 2009

Semester I tahun 2009 sudah lewat. Kesimpulannya jelas: skenario ”U” dalam upaya pemulihan ekonomi tidak terjadi. Ketika negara-negara maju di seluruh dunia menggenjot stimulus ekonomi dengan dana yang luar biasa besar, dunia berharap perkembangan ekonomi akan mirip huruf ”U”. Yakni terjun ke bawah dengan sangat tajam tapi segera naik lagi, pulih seperti sedia kala. Huruf ”U” itu diharapkan sudah mulai kelihatan bentuknya di akhir semester I, 30 Juni 2009 lalu.

Kini para ahli sudah tidak berharap lagi akan mendapatkan ”U”. China sudah segera merumuskan strategi ekonomi yang lebih baru dalam bulan Juli ini. Langkah cepat dilakukan China setelah melihat bahwa tidak ada tanda-tanda kenaikan permintaan dari Amerika Serikat. China, yang tahun lalu memompa stimulus untuk proyek-proyek dalam negeri, kini akan lebih mempertajam lagi pengembangan ekonomi domestik. Jumlah penduduknya yang seperlima penduduk dunia dalam masa krisis ini bisa menjadi kekuatan pasar untuk industri dalam negerinya.

China mencatat stimulus yang mencapai 500 miliar dolar AS itu sebagian ternyata dinikmati pihak luar negeri. Singapura, misalnya, semester I tahun ini sudah jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Maklum pada semester II tahun lalu Singapura sampai minus 10 persen sehingga banyak yang pesimistis akan kondisi semester I tahun ini. Tapi, besarnya stimulus di China ternyata secara tidak langsung membawa berkah sampai ke Singapura. Permintaan China akan barang dan jasa dari Singapura ternyata amat besar untuk ukuran Singapura. Singapura yang perbaikan ekonominya lebih cepat dari negara maju lainnya, antara lain juga karena bisa memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang untuk ukuran sekarang termasuk yang terbaik di dunia.

Kita yang di Indonesia memang kurang merasakan pahitnya krisis. Apalagi ada pemilu yang bermacam-macam yang bisa menolong menggairahkan peredaran uang. China, India dan Indonesia memang lagi jadi bintang ekonomi dunia. Semula saya ikut berharap begitu selesai Pemilu ekonomi Indonesia langsung bisa tancap gas. Tapi, kenyataan yang ada menunjukkan keberhasilan Pemilu ternyata tidak memberikan kejutan apa-apa. Indeks harga saham gabungan justru sempat turun di bawah 2.000. Nilai rupiah juga biasa-biasa saja.

Dengan hilangnya harapan terhadap skenario ”U” dan tidak adanya lonjakan ekonomi apa-apa setelah pemilu, maka kita dihadapkan pada skenario-skenario berikutnya. Kita harus mewaspadai skenario yang mana yang akan terjadi. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk masing-masing pribadi, masing-masing perusahaan, dan masing-masing negara.

Secara global, kini tinggal tersedia dua jenis skenario: pertama skenario ”W-lama” dan kedua skenario “L”. Yang dimaksud dengan ”W-lama” adalah huruf W yang ketika menuliskan bagian tengahnya tidak perlu naik setinggi bagian depan dan bagian belakangnya. Maksudnya, ketika ekonomi anjlok drastis, lalu diadakan stimulus di seluruh dunia, ekonomi bisa naik sedikit. Tapi setelah itu segera anjlok lagi. Ini disebabkan bentuk stimulus yang kurang tepat.

Kalau skenario ”W-lama” yang akan terjadi maka sekarang ini kita justru berada dalam posisi menjelang jatuh lagi. Ini yang sedang ramai dibicarakan di Amerika dan Inggris. Stimulus Obama dan Brown (PM Inggris Gordon Brown) dinilai kurang tepat sasaran. Tentu Obama menolak penilaian itu dengan mengatakan stimulusnya memang baru akan terlihat dalam jangka panjang. Namun, banyak pihak, terutama dari Partai Republik, yang sangat pesimistis. Bahkan pendukung utama Obama sendiri, bos Berkshire Hathaway Warren Buffet sudah menuntut agar Obama segera merancang stimulus kedua. Secara tidak langsung Buffet tentu ingin mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hasil stimulus Obama. Obama tentu menolak usul itu karena tahun ini saja APBN Amerika sudah defisit lebih dari 1 triliun dolar AS, terbesar dalam sejarahnya.

Orang seperti Buffet masih mengupayakan agar skenario W-lama yang kurang baik itu bisa terjadi. Kita boleh anjlok lagi, tapi sebaiknya jangan terlalu lama dan harus naik kembali seperti huruf W. Kalau bisa huruf W itu sudah mulai kelihatan bentuknya pada awal 2010. Kalau tidak, maka yang akan terjadi adakah skenario ”L”. Dari krisis yang lalu tidak akan pernah bisa lagi naik kembali. Dari terjun ke bawah lantas jalan mendatar yang panjang.

Kalau saja tahun 2010 tidak terbentuk skenario ”W” maka dampak krisis ini akan sangat panjang. Bisa jadi di tahun 2011 akan terjadi banyak hal: banyak negara berlomba mengatasi krisis dengan mencetak uang. Tidak ada jalan lain lagi. Ini akan berarti inflasi terjadi di mana-mana. Hanya komoditi emas yang aman. Dunia akan sangat kacau.

Skenario ”U” sudah pasti tidak akan terjadi. Hasil semester I tahun 2009 sudah mengatakan hal itu. Kini kita tinggal berharap skenario ”W” yang lagi diusahakan bersama-sama. Kalau tidak dunia harus siap-siap memikul huruf “L”.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya tidak tahu kecepatan memutuskan dan bertindak dari Presiden SBY. Apalagi sejumlah kambing hitam toh sudah tersedia. Misalnya bahwa pemerintah sekarang ini lagi dalam masa transisi. Tapi tidak ada salahnya kita segera mengamati apa yang dilakukan China akhir bulan Juli ini. Lalu, kalau malas berpikir, meng-copy-nya untuk disesuaikan dengan iklim Indonesia. Batubara dan gas benar-benar harus segera diatur untuk sebesar-besar kepentingan dalam negeri. Bukan karena JK (Jusuf Kalla) mengatakan itu dan Prabowo geregetan karena itu, tapi memang harus diakui ide itu sangat baik untuk dilaksanakan siapaun yang memenangi pemilu.

China , Indonesia, India dan ditambah Brasil dan beberapa negara Timteng memang berada dalam kondisi yang masih baik. Tapi, kekuatan seluruh negara ini hanya sekitar 30 persen kekuatan dunia. Tidak mungkin negara-negara yang masih baik ini bisa diharapkan untuk menolong negara maju. Ibarat katak tidak mungkin menggendong gajah. Negara-negara maju tahu hal itu dan tidak banyak berharap dari situ.

Lalu apa yang harus dilakukan para pengusaha dan perseorangan penduduk Indonesia? Kita harus kembali berkonsentrasi kepada nasib kita masing-masing. Sejelek-jelek keadaan tidak akan menimpa semua orang dan semua perusahaan. Sejelek-jelek keadaan tetap saja siapa yang bekerja lebih keras, hidup lebih terkontrol, dan pikiran lebih optimistis dialah yang akan terhindar dari kesulitan itu.

Lupakan janji-janji dari siapa pun, betapa indah dan kuatnya janji itu. Ujung-ujungnya kita sendiri, masing-masing pribadi dan perusahaan, yang akan menanggung segala akibat yang terjadi. Biarkan orang lain pro-L, kita sendiri harus pro-W. ***

0 comments:

Post a Comment