Friday, October 2, 2009

Kabut dan Kembang Api

Kabut dan Kembang Api, 60 tahun Tiongkok. Cuaca pun harus diubah kalau Beijing sedang punya hajat besar, seperti yang terjadi pada 1 Oktober pagi ini. Di Beijing perayaan 60 tahun kemerdekaan Tiongkok diperingati secara khusus bukan hanya karena angka 60 itu. Angka 60 tahun memang istimewa dalam kehidupan orang Tionghoa. Sebab, dalam sistem kalender Tiongkok 60 tahun adalah waktu yang sempurna untuk mencapai tepat satu putaran kalender. Keistimewaan yang lain adalah: tahun ini bertepatan dengan peringatan 30 tahun modernisasi.

Sebenarnya sudah lima hari ini Beijing sangat berkabut. Matahari praktis tidak pernah kelihatan. Inilah ciri khas kalau Beijing memasuki musim gugur yang udaranya amat sejuk dan nyaman. Tapi, hari ini, udara Beijing yang berkabut itu akan “dipaksa” cerah. Langit akan direkayasa agar perayaan yang amat penting hari ini bisa berlangsung dalam suasana yang sangat ceria. Teknologi rekayasa cuaca sudah disiapkan matang. Sebanyak 28 pesawat angkut diubah untuk bersama-sama 48 pesawat pengubah kabut bertugas mengurus cuaca hari ini.

”Waktu Olimpiade tahun lalu sudah bisa dibuktikan bahwa kami mampu merekayasa cuaca. Besok kami lakukan lagi,” tulis harian China Daily kemarin. Tentu tidak hanya cuaca Beijing yang harus tunduk pada pemerintah. Bandara internasional yang begitu sibuk pun harus ditutup selama tiga jam. Padahal, letak bandara itu berada satu jam perjalanan mobil di arah timur laut kota. Padahal, bandara tersibuk di Tiongkok ini terdiri atas lima terminal. Padahal, setiap menit harus ada pesawat yang turun dan naik. Padahal, ada 1.000 penerbangan setiap hari di bandara baru itu. Dari pengalaman saat penutupan bandara selama pembukaan Olimpiade tahun lalu, terdapat 300 pesawat yang harus tertunda. Tapi, yah harus terjadi. Kun fayakun.

Penduduk Kota Beijing sendiri dianjurkan untuk tidak perlu keluar rumah pagi ini. Cukup menonton siaran langsung dari televisi. Sebab, jalan-jalan utama di pusat kota akan ditutup total. Penutupan itu begitu luasnya sehingga praktis dalam radius ring road 3 lalu lintas akan terpengaruh. Di Kota Beijing sudah dibangun ring road sampai 6 lingkar sehingga bisa diartikan separo Kota Beijing harus bebas dari hambatan apa pun.

Saya sendiri yang mendapat undangan untuk menghadiri perayaan itu, sudah diminta bangun pukul 03.30 untuk berkumpul di lobi hotel pukul 04.00. Lalu harus berkumpul dulu di Press Centre untuk bersama-sama dengan tamu dari negara lain berangkat ke Tian An Men, pusat perayaan dan parade pagi ini. Padahal, acaranya baru dimulai pukul 10.00.

Kali ini Tiongkok memang mengundang dua pimpinan media dari setiap negara. Dari Indonesia Jawa Pos dan Antara. Saya lihat delegasi ini dari lebih 100 negara. Terutama negara-negara Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat, Afrika, dan Amerika Latin. Tiongkok seperti ingin memberikan contoh kepada negara-negara berkembang itu bahwa negara miskin dan terbelakang pun bisa mengalahkan negara Barat kalau bekerja dengan sungguh-sungguh. 30 tahun lalu, Tiongkok lebih miskin dari umumnya negara yang diundang ini. Tapi, hanya dalam tiga dekade semuanya lewat. Bahkan, kini Tiongkoklah yang bisa diandalkan untuk menjadi pemimpin baru dunia menggantikan Amerika atau setidaknya tidak lagi hanya Amerika.

Kapan peran sebagai pemimpin baru dunia itu tiba. Para pejabat tinggi Tiongkok yang bertemu dengan delegasi media ini selalu merendah. Khas timur. “Kami masih jauh untuk bisa disebut menjadi negara maju. Kami masih harus bekerja sangat keras. Kami masih punya banyak persoalan. Misalnya, ketimpangan antara kota-desa dan pantai-pedalaman. Tapi, kami yakin saat itu akan tiba,” ujar deputi menteri penerangan menjawab pertanyaan media dari Nepal.

Negara seperti Nepal yang baru merdeka dua tahun lalu tentu baru bisa bermimpi. Nepal masih penuh dengan persoalan. Mereka masih kisruh dalam merumuskan UUD setelah raja terakhir Nepal menyerahkan kerajaan kepada rakyat. Negara yang hanya berpenduduk 7 juta ini (sebesar Surabaya + Sidoarjo), masih berantem untuk mencari bentuk negara: kesatuan atau federasi. Setelah disepakati berbentuk federasi, mereka masih berantem lagi. Negara kecil itu akan terbagi dalam berapa negara bagian. Ada yang menginginkan 15 negara bagian ada yang minta 17 negara bagian. Maksudnya, agar satu suku kecil pun punya satu negara bagian sendiri. Lalu mereka juga masih berantem karena para pejuang komunis yang selama ini menuntut kemerdekaan dari kerajaan minta otomatis jadi tentara. Mirip sekali dengan apa yang dialami di Indonesia di awal kemerdekaan dulu. Tentara tidak mau menerima mereka karena ada sekitar 32.000 pejuang bersenjata yang kalau diterima, berarti komunis akan menguasai kemiliteran.

Negara-negara di sekitar Tiongkok masih seperti itu. Afghanistan masih ribut antarsuku yang saling berebut kekuasaan: Pastun, Tajik, dan Hazara. Padahal, mereka punya musuh bersama: Taliban. “Tapi, Afghanistan sekarang sudah lebih damai lho. Kabul sudah lebih aman daripada Islamabad, ibu kota Pakistan,” ujar Kazim al Gulzari, pemilik harian Daily Outlook yang sukunya Hazara. “Datanglah ke Kabul,” ujarnya kepada saya. “Memang kalau malam masih belum berani keluar, tapi sebenarnya aman,” tambahnya. Saya pun berjanji ke Afghanistan dalam waktu dekat karena dia juga berjanji ke Indonesia akhir bulan ini: untuk membeli kertas koran.

Para pimpinan media dari Afrika yang umumnya baru sekali ini melihat Tiongkok, tidak habis keheranannya melihat Tiongkok sekarang. “Makanya Tiongkok agresif sekali masuk pasar Afrika,” ujar salah satu dari mereka. Tiongkok kini memang memasuki Afrika secara besar-besaran, sampai-sampai membuat heran negara Barat. Kok mau Tiongkok masuk negara yang penuh dengan pergolakan. Perminyakan, telekomunikasi, infrasruktur di negara-negara Afrika kini memang dikuasai Tiongkok. Afrika memang penuh risiko, tapi rupanya justru itulah yang dilihat Tiongkok sebagai peluang.

Sebagaimana mi Sedaap dari Surabaya yang berani masuk Nigeria 10 tahun lalu dan kini sudah berhasil menguasai pasar mi di sana. Tentu dengan risiko ada pegawainya yang dirampok dan bahkan dibunuh.

Demikian juga delegasi dari Brazil, Argentina, Chili, Meksiko, Kolombia, dan seterusnya. Umumnya baru sekali ini ke Tiongkok. Mereka tidak menyangka bahwa Tiongkok sudah mencapai tahapan sekarang ini. “Bagaimana keadaan semaju ini masih dikatakan negara berkembang. Shanghai ini sudah melebihi New York,” ujar pemimpin media dari Kolombia. Sekali lagi, pejabat-pejabat tinggi Tiongkok merendah. “Kami masih punya banyak persoalan,” katanya.

Tidak hanya pagi ini perayaan kemerdekaan dilakukan secara spektakuler. Masih diteruskan lagi nanti malam. Pergelaran kesenian diadakan besar-besaran di lapangan Tian An Men yang letaknya di depan Istana Kota Terlarang itu. Kembang api yang akan dipergunakan untuk menghiasi langit Beijing nanti malam, misalnya, dua kali lipat dari yang digunakan saat pembukaan Olimpiade yang sudah mengagumkan dunia itu. Dan saya juga berada di situ nanti malam” (*)

Saturday, August 8, 2009

Adik-adik yang Membanggakan

Adik-adik yang Membanggakan
MINGGU, 09 AGUSTUS 2009

Menyaksikan siaran langsung penyerangan yang dilakukan polisi terhadap rumah yang dihuni buron teroris kakap Noordin M Top di Desa Beji, Temanggung, Jumat sore sampai Sabtu siang kemarin, perasaan saya campur aduk: mula-mula tegang, lalu menjengkelkan, berkembang ke rasa bangga dan berakhir agak kecewa.

Mula-mula, Jumat sore, saya pindah-pindah saluran antara TV-One dan Metro TV. Agak malam saya terus-menerus melihat Metro TV. Terasa sekali dua stasiun TV ini bersaing dalam menyajikan peliputan terbaik. Dan Metro TV saya nilai menang tipis malam itu. Hanya sesekali saya mengecek ke saluran TV-One, terutama kalau di Metro TV lagi siaran iklan.

Mengingat sampai jam 00.00 belum ada tanda-tanda akan ada penyelesaian, saya memutuskan untuk tidur. Hari itu (7/8) saya baru memperingati tepat dua tahun menjalani transplantasi hati.


Masih harus menjaga diri agar jangan tidak tidur semalam suntuk. Saya menduga, penyerangan finalnya baru akan dilakukan pukul 03.00 atau 04.00. Sebagai orang yang pernah lama jadi wartawan saya hafal: polisi sering melakukan penyergapan penting pada dini hari.

Tapi saya tidak bisa tidur nyenyak. Pesawat TV memang tidak saya matikan. Mata saya menutup tapi telinga membuka. Jam 04.00 kurang, mata saya kalah dengan telinga. Saya ingin segera tahu apa hasil penyerangan final yang saya perkirakan sudah selesai dilakukan. Saya lirikkan mata yang masih mengantuk itu ke layar TV. Ternyata masih sama dengan sebelum saya tidur. Metro TV hanya menampilkan wawancara kurang menarik dengan pengamat intelejen. Mata sudah terlanjur melek. Iseng-iseng saya coba pindah ke TV-One. Terbelalak. TV-One menyajikan gambar dari jarak dekat. Bahkan, tak lama kemudian, TV-One mereportasekan adanya robot yang disuruh keluar masuk ke rumah persembunyian Noordin M. Top itu.

Kian jelas TV-One mulai menang terhadap Metro TV. Bahkan menang telak. Sesekali saya pindah ke Metro TV, masih meneruskan wawancara kurang menarik itu. Saya kian tidak mau lagi pidah dari TV-One. Saya sangat memuji kegigihan TV-One dalam "membalas" kekalahan tipisnya menjadi kemenangan telak itu. Penjelasan mengenai dilibatkannya robot dalam operasi ini, sangat menarik. Meski pun saat itu gambar robotnya belum terlihat, namun penyebutan dikerahkannya robot dalam operasi ini sangat membangunkan saya.

Terus terang saya belum pernah melihat robot polisi atau polisi robot yang disebut-sebut oleh penyiar TV-One itu. Apalagi penyiar TV-One tidak pernah mendiskripsikan seperti apa bentuk robot polisi tersebut. Sambil memperhatikan gambar di layar saya terus membayangkan dengan imajinasi saya sendiri mengenai bentuk robot yang dimaksud. Yakni sebuah robot seperti boneka kecil yang matanya adalah kamera. Lama sekali saya membayangkan robot seperti itu karena di layar memang belum pernah terlihat bentuk robot yang dimaksud.

Baru jam 05.30 tepat terlihatlah di layar TV-One robot yang dimaksud. Ternyata seperti tank dalam bentuk lebih kecil. Yakni berukuran panjang sekitar 1 meter. Tangan-tangannya berada di atas kendaraan kecil itu. Tangan itulah yang membawa kamera dan benda-benda yang diperlukan untuk diletakkan di tempat sasaran.

Dari sinilah saya lantas menarik kesimpulan: rupanya penyerangan tidak dilakukan dini hari tersebut karena masih menunggu datangnya robot dari Jakarta. Kehadiran robot tersebut amat penting sebagai langkah hati-hati. Jangan sampai ada petugas yang jadi korban. Sebab berbagai pertanyaan mengenai apa saja yang ada di dalam rumah di sebelah bukit itu memang masih belum terjawab. Misalnya berapa orang sebenarnya yang ada di dalam rumah itu. Ada berapa senjata dan jenis apa saja. Adakah bom tersimpan di sana dan seberapa besar.

Pengintaian yang terbaik dan paling tidak membawa resiko adalah pengintaian cara modern dengan robot. Tapi saya tidak pernah menduga bahwa Densus 88 dilengkapi robot! Mendengar digunakannya robot ini dan kemudian melihat di layar kaca mengenai bentuknya, saya benar-benar bangga pada polisi Indonesia. Tidak sejelek yang banyak dikatakan orang.

Dengan melihat robot ini kejengkelan saya mengenai lamanya proses pengepungan tersebut hilang sama sekali. Semula saya bertanya-tanya mengapa proses ini begitu lama" Segitu kuatkah Noordin M. Top" Kurang merasa kuatkah Densus 88" Tapi dengan munculnya robot di pagi buta itu saya mengakui bahwa polisi memang perlu menggunakan adagium "lebih cepat lebih baik?.
Menunggu datangnya robot bisa dibilang "lambat tapi tepat?. Untuk apa juga cepat-cepat tapi ceroboh. Toh, sang buron tidak akan bisa lolos lagi. Pengepungan sudah dilakukan secara tepung-gelang. Posisi rumah "itu" juga sangat "enak" untuk dikepung. Bahkan banyak wartawan saya yang dengan guyon mengatakan "lebih baik pengepungan dilakukan satu minggu?. Lebih dramatik.

Menjelang fajar itu perkembangan memang sangat dramatis. Untuk memasukkan robot, pintu depan harus diledakkan dulu agar terbuka. Lalu robot masuk. Wartawan TV-One kelihatannya berhasil mengambil posisi bersama polisi yang membaca layar monitor hasil kerja kamera yang dipasang di robot. Karena itu wartawan TV-One bisa melaporkan mengenai keadaan di bagian depan rumah tersebut: tidak ada orang sama sekali di situ. "Mata" robot lantas bisa melihat ada pintu tertutup yang menghubungkan bagian depan dan bagian belakang rumah itu. Maka robot ditarik kembali ke luar.

Tugas robot rupanya masih panjang. Dia harus masuk lagi ke rumah tersebut dengan membawa bahan peledak. Yakni untuk ditempatkan di dekat pintu tertutup tersebut. Asumsinya, para teroris sudah pindah ke bagian belakang rumah. Mungkin sejak diledakkannya pintu depan. Bukankah sebelum itu masih ada perlawanan dari dalam rumah bagian depan" Yakni berupa tembakan beberapa kali, terutama antara jam 21.00 sampai 01.00?

Tugas meletakkan bom kecil di dekat pintu tertutup tersebut rupanya berhasil dilakukan robot dalam waktu cepat. Robot lantas ditarik keluar. Tak lama kemudian: blaaar! Ledakan berskala sedang terdengar. Jendela-jendela tergetar dan mengeluarkan percikan debu dan pecahan kaca. Pertanda pintu yang dimaksud mestinya sudah terbuka. Sang robot kembali ditugaskan melakukan pengintaian. Masuk ke bagian belakang rumah tersebut. "Mata" robot melihat ke sana kemari tapi tidak ada apa-apa. Kecuali barang yang berantakan. Berarti tidak ada kemungkinan lain kecuali satu ini: sang buron menyingkir ke kamar mandi. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 08.00. Saatnya semua orang menunaikan hajat?.

Apakah robot ditugaskan kembali untuk meledakkan pintu kamar mandi" Ataukah ditugaskan kembali membuka pintu belakang rumah itu" Ternyata tidak. Hasil perhitungan polisi tentu sudah final: Noordin M Top terpojok. Lebih gampang menyergapnya.

Tugas membuka pintu belakang rupanya diserahkan kepada juru tembak yang ada di bukit di belakang rumah tersebut. Puluhan polisi memang sudah bertengger di bukit yang hanya sedikit lebih tinggi dari atap rumah tersebut. Serentetan tembakan diarahkan tepat mengenai tembok di sekitar kusen pintu belakang tersebut. Rentetan tembakan itu begitu akuratnya sehingga seluruh dinding di sekitar kusen menganga. Pintu pun roboh beserta kusennya. Itulah sebabnya, meski tidak terlihat di layar TV, saat itu debu tembok bergumpal-gumpal seperti awal di bagian belakang rumah tersebut.

Selanjutnya penyerbuan dilakukan dari banyak arah. Pemirsa TV-One mengharapkan terjadinya klimaks yang dramatik. Pemirsa, seperti saya, berharap inilah untuk kali pertama dalam sejarah liputan langsung peristiwa seperti ini bisa ditonton secara live! Saya membayangkan seperti saat saya berada di AS dulu, yakni TV sedang melakukan siaran langsung pengejaran buron O.J. Simpson yang melarikan mobilnya di sepanjang jalan bebas hambatan No. 5. California. Klimaks dari pengejaran berjam-jam itu hebat sekali. Kita bisa melihat bagaimana polisi menaklukkan mobil O.J. Simpson, bintang American football yang legendaris itu.

Saya juga bisa berharap mengulangi menyaksikan siaran langsung pembajakan bus sekolah di Florida beberapa tahun kemudian. Berjam-jam kita bisa mengikuti perjalanan bus sekolah yang dibajak itu ke mana-mana sampai pada klimaksnya.

Dalam hal penyerangan rumah teroris di Temanggung kemarin itu, pemirsa tidak mendapatkan klimaks yang diharapkan itu. Ketika reporter TV-One melaporkan pandangan mata mengenai klimaks itu, yang muncul di layar adalah gambar-gambar yang diambil sebelumnya yang diulang-ulang. Yakni gambar beberapa polisi memasukkan pipa paralon yang ujungnya diberi pengait itu. Akibatnya imajinasi pemirsa tidak nyambung.

Klimaks peristiwa ini seperti laporan pandangan mata dari radio. Reporter memberitahukan dengan baik bahwa polisi yang baru saja masuk rumah tersebut sudah kembali keluar lagi dengan memperagakan toast kepada polisi yang lain. Ini pertanda penyerangan telah selesai dan polisi meraih sukses. Klimaks seperti ini bahkan lebih jelak dari siaran radio. Di radio pendengar bisa berimajinasi secara penuh. Di layar TV-One kemarin, imajinasi pemirsa terganggu oleh layangan gambar di layar. Di suara sudah menyebutkan selesainya penyerangan itu, tapi di layar masih menggambarkan upaya keras para polisi memasukkan pipa paralon. Gambar ini "merusak" imajinasi karena pemirsa terpengaruh oleh tulisan "langsung" di layar. Padahal yang dimaksud "langsung" adalah suaranya. Bukan gambarnya.

Apa pun TV-One harus diacungi jempol. Begitu telaknya kemenangan TV-One sampai-sampai reporter Metro TV perlu menyampaikan kepada permirsa bahwa Metro TV hanya bisa mengambil gambar dari jarak jauh karena ingin mematuhi etika peliputan. Maksudnya: TV-One telah melakukan pelanggaran.

Saya tidak mengomentari itu pelanggaran atau bukan. Yang jelas TV-One berhasil membina hubungan yang demikian hebatnya dengan pihak kepolisian sehingga bisa menitipkan juru wartanya bersama tim inti penyerangan yang bersejarah ini.

Dalam posisi Indonesia yang seperti sekarang, saya menilai siaran langsung kemarin membawa dampak yang amat baik. Terutama bagi tumbuhnya kepercayaan diri bahwa bangsa ini selalu mampu keluar dari kesulitan. Asal kita memang sungguh-sungguh. Dunia harus melihat itu. Sedang kita harus bertekad untuk lebih sering sungguh-sungguh.

Saya teringat akan kata-kata mantan Dandensus 88 Brigjen Surya Dharma juga di TV-One. "Berilah waktu. Adik-adik saya pasti mampu membongkar ini. Mereka itu hebat-hebat," katanya.

Saya pernah bepergian jauh selama empat hari bersama Brigjen Surya Dharma. Saya tahu kehebatannya. Saya juga tahu komitmennya yang benar-benar I love you full soal pemberantasan terorisme. Termasuk perhatiannya kepada orang-orang yang pernah terlibat terorisme. Waktu itu saya mendoakan agar dia tidak dipensiun. Saya kaget ketika tahu bahwa masa dinasnya ternyata tidak diperpanjang. Lebih menyesal lagi ketika tak lama kemudian terjadi peledakan bom di Marriott dan Ritz- Carlton. Saya agak ragu apakah "adik-adik saya" sebaik dia.

Ternyata dia benar. "Adik-adik saya" itu sangat membanggakan bangsa Indonesia. ***

Saturday, August 1, 2009

Berharap U Hanya Dapat L?

Berharap U Hanya Dapat L?
KAMIS, 16 JULI 2009

Semester I tahun 2009 sudah lewat. Kesimpulannya jelas: skenario ”U” dalam upaya pemulihan ekonomi tidak terjadi. Ketika negara-negara maju di seluruh dunia menggenjot stimulus ekonomi dengan dana yang luar biasa besar, dunia berharap perkembangan ekonomi akan mirip huruf ”U”. Yakni terjun ke bawah dengan sangat tajam tapi segera naik lagi, pulih seperti sedia kala. Huruf ”U” itu diharapkan sudah mulai kelihatan bentuknya di akhir semester I, 30 Juni 2009 lalu.

Kini para ahli sudah tidak berharap lagi akan mendapatkan ”U”. China sudah segera merumuskan strategi ekonomi yang lebih baru dalam bulan Juli ini. Langkah cepat dilakukan China setelah melihat bahwa tidak ada tanda-tanda kenaikan permintaan dari Amerika Serikat. China, yang tahun lalu memompa stimulus untuk proyek-proyek dalam negeri, kini akan lebih mempertajam lagi pengembangan ekonomi domestik. Jumlah penduduknya yang seperlima penduduk dunia dalam masa krisis ini bisa menjadi kekuatan pasar untuk industri dalam negerinya.

China mencatat stimulus yang mencapai 500 miliar dolar AS itu sebagian ternyata dinikmati pihak luar negeri. Singapura, misalnya, semester I tahun ini sudah jauh lebih baik dari yang diperkirakan. Maklum pada semester II tahun lalu Singapura sampai minus 10 persen sehingga banyak yang pesimistis akan kondisi semester I tahun ini. Tapi, besarnya stimulus di China ternyata secara tidak langsung membawa berkah sampai ke Singapura. Permintaan China akan barang dan jasa dari Singapura ternyata amat besar untuk ukuran Singapura. Singapura yang perbaikan ekonominya lebih cepat dari negara maju lainnya, antara lain juga karena bisa memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang untuk ukuran sekarang termasuk yang terbaik di dunia.

Kita yang di Indonesia memang kurang merasakan pahitnya krisis. Apalagi ada pemilu yang bermacam-macam yang bisa menolong menggairahkan peredaran uang. China, India dan Indonesia memang lagi jadi bintang ekonomi dunia. Semula saya ikut berharap begitu selesai Pemilu ekonomi Indonesia langsung bisa tancap gas. Tapi, kenyataan yang ada menunjukkan keberhasilan Pemilu ternyata tidak memberikan kejutan apa-apa. Indeks harga saham gabungan justru sempat turun di bawah 2.000. Nilai rupiah juga biasa-biasa saja.

Dengan hilangnya harapan terhadap skenario ”U” dan tidak adanya lonjakan ekonomi apa-apa setelah pemilu, maka kita dihadapkan pada skenario-skenario berikutnya. Kita harus mewaspadai skenario yang mana yang akan terjadi. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk masing-masing pribadi, masing-masing perusahaan, dan masing-masing negara.

Secara global, kini tinggal tersedia dua jenis skenario: pertama skenario ”W-lama” dan kedua skenario “L”. Yang dimaksud dengan ”W-lama” adalah huruf W yang ketika menuliskan bagian tengahnya tidak perlu naik setinggi bagian depan dan bagian belakangnya. Maksudnya, ketika ekonomi anjlok drastis, lalu diadakan stimulus di seluruh dunia, ekonomi bisa naik sedikit. Tapi setelah itu segera anjlok lagi. Ini disebabkan bentuk stimulus yang kurang tepat.

Kalau skenario ”W-lama” yang akan terjadi maka sekarang ini kita justru berada dalam posisi menjelang jatuh lagi. Ini yang sedang ramai dibicarakan di Amerika dan Inggris. Stimulus Obama dan Brown (PM Inggris Gordon Brown) dinilai kurang tepat sasaran. Tentu Obama menolak penilaian itu dengan mengatakan stimulusnya memang baru akan terlihat dalam jangka panjang. Namun, banyak pihak, terutama dari Partai Republik, yang sangat pesimistis. Bahkan pendukung utama Obama sendiri, bos Berkshire Hathaway Warren Buffet sudah menuntut agar Obama segera merancang stimulus kedua. Secara tidak langsung Buffet tentu ingin mengatakan bahwa dia tidak puas dengan hasil stimulus Obama. Obama tentu menolak usul itu karena tahun ini saja APBN Amerika sudah defisit lebih dari 1 triliun dolar AS, terbesar dalam sejarahnya.

Orang seperti Buffet masih mengupayakan agar skenario W-lama yang kurang baik itu bisa terjadi. Kita boleh anjlok lagi, tapi sebaiknya jangan terlalu lama dan harus naik kembali seperti huruf W. Kalau bisa huruf W itu sudah mulai kelihatan bentuknya pada awal 2010. Kalau tidak, maka yang akan terjadi adakah skenario ”L”. Dari krisis yang lalu tidak akan pernah bisa lagi naik kembali. Dari terjun ke bawah lantas jalan mendatar yang panjang.

Kalau saja tahun 2010 tidak terbentuk skenario ”W” maka dampak krisis ini akan sangat panjang. Bisa jadi di tahun 2011 akan terjadi banyak hal: banyak negara berlomba mengatasi krisis dengan mencetak uang. Tidak ada jalan lain lagi. Ini akan berarti inflasi terjadi di mana-mana. Hanya komoditi emas yang aman. Dunia akan sangat kacau.

Skenario ”U” sudah pasti tidak akan terjadi. Hasil semester I tahun 2009 sudah mengatakan hal itu. Kini kita tinggal berharap skenario ”W” yang lagi diusahakan bersama-sama. Kalau tidak dunia harus siap-siap memikul huruf “L”.

Bagaimana dengan Indonesia? Saya tidak tahu kecepatan memutuskan dan bertindak dari Presiden SBY. Apalagi sejumlah kambing hitam toh sudah tersedia. Misalnya bahwa pemerintah sekarang ini lagi dalam masa transisi. Tapi tidak ada salahnya kita segera mengamati apa yang dilakukan China akhir bulan Juli ini. Lalu, kalau malas berpikir, meng-copy-nya untuk disesuaikan dengan iklim Indonesia. Batubara dan gas benar-benar harus segera diatur untuk sebesar-besar kepentingan dalam negeri. Bukan karena JK (Jusuf Kalla) mengatakan itu dan Prabowo geregetan karena itu, tapi memang harus diakui ide itu sangat baik untuk dilaksanakan siapaun yang memenangi pemilu.

China , Indonesia, India dan ditambah Brasil dan beberapa negara Timteng memang berada dalam kondisi yang masih baik. Tapi, kekuatan seluruh negara ini hanya sekitar 30 persen kekuatan dunia. Tidak mungkin negara-negara yang masih baik ini bisa diharapkan untuk menolong negara maju. Ibarat katak tidak mungkin menggendong gajah. Negara-negara maju tahu hal itu dan tidak banyak berharap dari situ.

Lalu apa yang harus dilakukan para pengusaha dan perseorangan penduduk Indonesia? Kita harus kembali berkonsentrasi kepada nasib kita masing-masing. Sejelek-jelek keadaan tidak akan menimpa semua orang dan semua perusahaan. Sejelek-jelek keadaan tetap saja siapa yang bekerja lebih keras, hidup lebih terkontrol, dan pikiran lebih optimistis dialah yang akan terhindar dari kesulitan itu.

Lupakan janji-janji dari siapa pun, betapa indah dan kuatnya janji itu. Ujung-ujungnya kita sendiri, masing-masing pribadi dan perusahaan, yang akan menanggung segala akibat yang terjadi. Biarkan orang lain pro-L, kita sendiri harus pro-W. ***

Wednesday, July 15, 2009

Madrasah Serba Elektronis di Singapura

Dalam kapasitasnya sebagai partner di Indonesia, Dahlan Iskan, Sabtu lalu (11/7) diundang menghadiri peresmian gedung baru madrasah di Singapura. Madrasah itu sama sekali berbeda dengan madrasah tempat chairman/CEO Jawa Pos tersebut belajar di Magetan, Jatim, dulu. Berikut catatannya.

Madrasah itu punya sistem pembelajaran yang modern. Setiap bangku pada salah satu ruang kelas, misalnya, dilengkapi dengan alat elektronis.

Di depan kelas terdapat sebuah papan yang selain dapat ditulisi juga bisa jadi layar proyektor. Misalnya kalau seorang guru (ustad) suatu saat harus menampilkan pertanyaan. Di masa lalu para murid akan berebut angkat tangan (ngacung) untuk menunjukkan siap menjawab. Dalam kasus ada beberapa anak yang berbarengan mengangkat tangan, maka akan terjadi subjektivitas sang guru: mau memilih murid yang mana untuk menjawab lebih dulu? Pilihan subjektif itu bisa merusak mental si anak. Ada saja anak yang merasa dianaktirikan karena angkat tangannya diabaikan oleh guru.

Di madrasah Singapura tersebut tidak akan pernah terjadi hal seperti itu. Ketika di layar proyektor muncul pertanyaan, para siswa (santri) bisa langsung memijit alat elektronis yang ada di tangannya. Dari situ bisa diketahui siapa yang lebih dulu memijit tombol. Nah, dialah yang berhak menjawab lebih dulu.

Madrasah tersebut memang serbaelektronis. Di kelas pelajaran bahasa Arab, misalnya, papan tulisnya juga bisa jadi papan elektronis. Misalnya, ada enam pertanyaan di sebelah kanan. Lalu, ada pilihan jawaban di sebelah kiri. Maka, pilihan jawaban tersebut bisa digeser-geser untuk disesuaikan dengan pertanyaannya. Tulisan-tulisan di papan itu, yang dipancarkan dari proyektor, bisa dipindah ke bagian mana pun di papan itu tanpa harus menghapus dan menuliskannya lagi.
Saya mencoba menjadi siswa di situ. Saya memegang alat elektronis berbentuk seperti spidol. Alat itulah yang saya pakai menggeser kata ”hua (dia) Ustman bin Affan” agar sejajar dengan pertanyaan ”man hua (siapa dia)?.”

Demikian juga sarana di kelas bahasa Inggris atau matematika. Di kelas bahasa Inggris (dan juga Arab), digunakan software komik. Setiap siswa menghadap ke komputernya. Lalu, di layar masing-masing muncul komik yang tidak ada dialognya. Muridlah yang harus mengisi kolom-kolom kosong di komik itu sesuai dengan kalimat percakapan yang dia inginkan. Maka, saya lihat kelas bahasa itu seperti anak-anak lagi main game. Alangkah menyenangkan. Sebagian komik diambil dari server sekolah sendiri dan sebagian lagi diambil secara online lewat internet.

Di kelas matematika untuk kelas 1 ibtidaiyah/SD, alat peraganya juga elektronis. Di layar proyektor itu ada gambar timbangan. Di sisi kiri si guru menaruh gajah dengan berat 705 kg. Di pojok layar yang lain tersedia beberapa angka yang bisa dipindah-pindah dengan kursor. Tugas si murid menaruh angka-angka itu di timbangan sisi kanan. Kalau angka yang ditimbun di situ sudah sama dengan berat si gajah, timbangan akan seimbang. Kalau belum, masih terlihat njomplang. Begitulah. Saya tidak melihat pemandangan sekolah lagi. Saya seperti melihat kios playhouse yang besar.

Madrasah tersebut memang baru menempati gedung baru setelah 40 tahun menyewa gedung sekolah yang model lama. Di kompleks baru itu semua serbamodern. Di pojok depan ada masjid baru dua lantai yang bisa menampung jamaah hingga 2.000 orang. Di sisi kanan ada gedung MUIS (lembaga yang mengurus masyarakat Islam di Singapura) delapan lantai. Pengadilan agama, urusan haji, dan koordinasi masjid ada di gedung tersebut. Gandeng dengan gedung itu ada bangunan enam tingkat. Paling bawah difungsikan untuk lapangan terbuka. Karena itu, plafonnya sangat tinggi. Di atasnya ada kantin sekolah yang dilengkapi dengan dapur modern.

Di atas kantin terdapat satu ruang besar dengan penataan seperti ruang redaksi di Jawa Pos Surabaya. Itulah ruang guru. Setiap guru memiliki satu meja yang bentuknya mirip meja redaksi Jawa Pos. Ruang tersebut full AC dengan lantai karpet. Setiap guru juga memiliki locker sendiri. Ruang tersebut kelihatan amat ”gembira”. Masing-masing (terutama guru wanita) seperti menghias mejanya. Bunga, boneka kecil, mainan anak-anak terlihat di setiap meja. Saya membayangkan guru seperti itulah yang akan disenangi murid.

Di ruang itu pula guru akan membahas perencanaan dan persiapan mengajar. Juga membicarakan prestasi dan kekurangan santri-santrinya. Melihat ruang guru tersebut, saya langsung bermimpi bahwa madrasah yang lagi kami bangun di Magetan sekarang (International Islamic School Pesantren Sabilil Muttaqin) kelak juga harus punya ruang guru seperti itu. Ruang guru yang bagus tentulah menentukan suasana kejiwaan para guru. Guru yang jiwanya baik pada gilirannya akan bisa mengajar secara baik.

Di atas ruang guru tersebut masih ada gedung teater yang dipergunakan untuk pertunjukan atau acara-acara sejenis. Di teater itu pula malam itu diadakan upacara peresmian madrasah yang dihadiri oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Madrasahnya sendiri berada di kanan teater tersebut. Itulah madrasah Al Irsyad Al Islamiyah Singapura (Tidak ada hubungannya dengan Al Irsyad yang ada di Indonesia). Yakni bangunan empat lantai yang berbentuk U. Ada dua kelompok lift di sekolah tersebut, tapi hanya guru dan tamu atau murid yang memerlukan sarana khusus yang boleh lewat lift. Santri biasa harus turun naik lewat tangga.

Sebagai orang yang sejak kecil hidup di madrasah di pedesaan, tentu saya ngiler berada di madrasah yang sarananya, metode belajarnya, dan pemikirannya begitu modern. Jangan ditanya soal kebersihannya. Parit-paritnya saja sudah didesain secara khusus. Apalagi ruang wudu masjidnya. Inilah ruang wudlu yang di setiap pancurannya disediakan sarana permanen untuk sabun cair. Mirip dengan yang ada di bandara internasional atau di hotel bintang lima.

Demikian juga mukena untuk umumnya. Kain sembahyang untuk wanita itu ditaruh di hanger seperti di tempat laundry modern. Dengan sistem penggantungan seperti itu, tidak akan ada mukena yang berbau. Padahal, selama ini, saya selalu hanya melihat mukena yang justru dilipat, lalu dimasukkan ke lemari. Bisa dibayangkan mukena yang di bagian wajahnya pasti basah itu (karena dipakai oleh orang yang baru saja berwudu) menjadi apak dan berbau.

Saya sebenarnya malu harus “”impor” madrasah dari Singapura. Tapi, saya juga harus mengakui untuk zaman modern nanti, kita tidak bisa lagi tidak menyesuaikan diri. **

Sunday, July 5, 2009

JPNN: Penularan, Bukan Pewarisan

Bagaimana Jawa Pos ke depan? Seperti otomatis, segala kemampuan manajemen yang selama 25 tahun ini saya terapkan di Jawa Pos sudah tertular dengan sendirinya kepada generasi baru. Bukan hanya di Jawa Pos, tapi juga ke seluruh grupnya. Sudah puluhan orang yang awalnya berkarir sebagai wartawan kini menjadi direktur utama atau direktur di anak-anak perusahaan grup Jawa Pos. Merekalah yang kini menularkan lagi semua itu kepada generasi yang lebih muda.

Puluhan orang itu, ratusan orang itu, kini sudah berkiprah di lingkungan apa yang kemudian kita dengar sebagai Jawa Pos News Network (JPNN).

Ini bukan soal waris-mewariskan, tapi soal tular-menularkan. Saya percaya entrepreneurship seperti itu tidak bisa diwariskan, tapi sangat bisa ditularkan.

Kalau kata "warisan" yang dipakai, tentu konotasinya pasif. Ada pihak yang mewariskan dan anak pihak yang sengaja diwarisi. Di sini seolah juga ada subjektivitas. Seolah pihak yang akan mewariskan mempunyai hak untuk menunjuk orang tertentu atau pihak tertentu yang harus menerima warisan itu.

Saya berkesimpulan entrepreneurship tidak bisa diwariskan seperti itu. Orang yang merasa bahwa entrepreneurship bisa diwariskan hanya akan menemukan warisannya berantakan. Tapi, saya percaya entrepreneurship sangat bisa ditularkan. Pewarisan dan penularan sangatlah tidak sama. Berbeda dengan warisan, dalam proses penularan harus ada unsur yang menulari dan unsur yang ditulari. Hasilnya belum tentu terjadi proses penularan. Mungkin bisa terjadi penularan, mungkin juga tidak.

Dalam proses waris-mewariskan terkesan bisa dilakukan secara mendadak, tiba-tiba, dan tanpa syarat. Dalam proses penularan tidak mungkin terjadi seperti itu. Harus ada proses yang panjang. Kadang sangat lama. Dalam proses ini bisa saja terjadi "penolakan" dari yang akan ditulari. Atau, orang yang akan ditulari ternyata sudah punya "kekebalan" tubuh sehingga meski dia sebenarnya sudah mau ditulari, penularan itu tidak sampai terjadi.

Bisa juga penularan itu gagal karena orang yang sedang ditulari tiba-tiba menjauh. Atau merasa bosan karena terlalu lamanya proses itu. Atau mendapat "suntikan" anti-penularan. "Suntikan" itu bisa berupa godaan finansial, bisa juga karena emosi. Misalnya, ketika tiba-tiba saja mendapat tawaran yang lebih menggiurkan di tempat lain.

Sebaliknya, yang akan menulari pun bisa-bisa berubah sikap. Misalnya, ternyata dia merasa bahwa pihak yang ditulari sangat "kebal virus".

Bahwa anak-anak pengusaha lebih banyak menjadi pengusaha, saya yakin bukan karena "darah" pengusahanya, tapi karena dalam keluarga pengusaha proses penularan itu bisa berlangsung lebih intensif dan lebih lama. Yang juga tidak kalah penting, dalam proses yang panjang itu sangat jarang terjadi "penolakan". Mungkin karena pada awalnya anak selalu takut kepada bapak -sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang bukan anak sendiri. Sedangkan yang bukan anak-bapak akan punya perasaan lebih mandiri dari perasaan takut itu.

Kalau soal darah ini benar, tentu tidak akan ada anak pengusaha yang gagal menjadi pengusaha. Tapi, kenyataannya, begitu banyak kegagalan itu. Maka, meski ada hubungan anak-bapak, tetap saja ada kemungkinan terjadinya "penolakan" akan "virus" kepengusahaan itu.

Dalam proses waris-mewaris, bisa saja setelah terjadi peristiwa pewarisan, hubungan antara keduanya terputus. Tapi, dalam proses tular-menulari hubungan itu tidak akan pernah putus. Dia akan abadi sampai mati.

Kadang saya merenungkan apakah angkatan setelah saya bisa membuat proses tular-menulari ini berlangsung kepada generasi yang lebih muda. Saya pun lega. Saya melihat rasanya hal itu masih terus terjadi. Saya lihat ratusan anak muda yang awal karirnya juga wartawan kini sangat tertarik ke bidang bisnis di grup Jawa Pos. Setiap bertemu mereka saya tidak perlu lagi menulari. Saya lihat mereka sudah tertulari dengan sendirinya.

Setiap bertemu generasi baru yang hebat-hebat itu, yang umurnya 30-36 tahun itu, biasanya saya hanya mengatakan ini:

Kalian ini sudah akan bisa jadi apa saja. Karir yang lebih hebat sudah terbuka luas. Kemungkinan jadi pengusaha besar sudah di depan mata. Ujian-ujian yang terpenting sudah Anda lewati dengan sukses. Misalnya, ujian tentang membuat produk yang kompetitif, ujian memasarkan produk, ujian kejujuran di bidang keuangan, ujian berhemat, ujian membuat segala aspek perusahaan menjadi income center, dan bahkan ujian bagaimana mengelola konflik.

Dalam posisi Anda seperti itu, tinggal tiga hambatan saja yang akan bisa menghalangi Anda jadi orang besar. Dari tiga hambatan itu, dua datang dari dirinya sendiri. Yang ketiga merupakan suratan takdir.

Dua yang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah: pertama, tergoda di bidang keuangan. Kedua, tergoda di bidang cinta hubungan wanita-pria.

Terlalu banyak kasus seseorang yang sudah lama teruji kejujurannya, suatu saat terpeleset juga di bidang keuangan. Istri sering juga menjadi penyebab datangnya godaan di bidang ini. Tapi, yang lebih sering adalah berubahnya gaya hidup. Tidak sedikit seseorang yang naik pangkat atau naik jabatan gaya hidupnya berubah drastis. Lama-lama penghasilannya tidak mencukupi untuk menopang gaya hidupnya yang baru. Lalu mulai terpikir untuk menyalahgunakan uang, atau paling sedikit main komisi.

Kalau sudah menyangkut uang, biarpun nilainya tidak berarti, tidak ada ampun lagi: harus diberhentikan! Ini sudah menyangkut persoalan yang paling hakiki dalam kehidupan sebuah perusahaan. Keuangan adalah "ummul-kitab"-nya perusahaan.

Bagaimana godaan wanita? Saya tidak pernah melarang teman-teman untuk tergoda. Namanya saja tergoda, kadang tidak direncanakan. Bahkan, kadang datang mendadak begitu saja. Apalagi kalau dasarnya benar-benar cinta. Saya sendiri pernah mengalaminya. Rasanya tidak ada gunanya untuk menasihati orang lain untuk "jangan pernah tergoda". Sebab, soal tergoda ini lebih sering bukan karena keinginan. Lebih sering karena naluri alamiah atau kemanusiaan. Atau apalah! Bahkan, saya pernah merenungkan, jangan-jangan ini juga bagian dari takdir. Bukankah cinta itu ciptaan Tuhan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan?

Maka yang sering saya kemukakan kepada mereka adalah: seandainya suatu saat godaan itu terjadi, yang terpenting adalah bagaimana harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Orang boleh tergoda, tapi harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Kadang diri sendiri sulit sekali menyadari itu. Menyadari saja sulit, apalagi menyelesaikannya. Kadang memang harus ada orang lain yang diminta membantu menyelesaikannya.

Saya sering mengatakan bahwa kemampuan menyelesaikan godaan itu juga bagian dari kemampuan manajemen. Bukankah kalau tidak lulus dalam menyelesaian godaan ini, berarti kemampuan manajemennya juga harus diragukan?

Faktor ketiga yang bisa menghalangi orang menuju puncak adalah takdir. Yakni, kalau tiba-tiba orang ditakdirkan sakit, atau kecelakaan mendadak. Meski tidak sampai mati, sakit yang fatal atau kecelakaan lalu lintas adalah bagian yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Orang kalau sudah terkena sakit parah, sesemangat-semangat apa pun harus segera "tahu diri". Sebaiknya harus segera konsentrasi pada bagaimana mengusahakan untuk sembuh. Bukan ketika sakit masih memikirkan ambisi-ambisi yang besar. Saya sendiri ketika tiba-tiba diketahui sakit kanker liver empat tahun lalu, saya langsung sumeleh: saya berserah diri. Kalau memang sudah tiba saatnya saya harus mengakhiri segala bentuk pengabdian di dunia ini, saya terima dengan sepenuh hati. Orang ada batasnya. Barangkali batas saya sampai di situ. Lalu saya konsentrasi bagaimana untuk sembuh. Bukan agar bisa terus mengejar ambisi, tapi agar bisa kembali sehat saja. Sikap seperti itu menurut pendapat saya justru membuat pikiran lebih longgar. Dan, dengan pikiran longgar sakit pun tidak semakin parah.

Untuk sukses ternyata memang tidak gampang. Pintar saja tidak cukup. Juga tidak bisa hanya karena mewarisi. Harus terjadi proses penularan yang intensif. Dalam waktu yang panjang. Setelah tertular pun masih harus lolos dari tiga hal di atas. Padahal, banyak juga kasus proses penularan belum terjadi, sudah terkena salah satu dari ketiganya dan tidak ada jalan keluarnya.

Saya bersyukur, dulu Ciputra menularkannya dengan sukses kepada Eric Samola yang kebetulan bersedia ditulari. Lalu Samola menularkannya kepada saya dan saya juga menyiapkan diri untuk ditulari. Lebih bersyukur lagi, saya pun giliran punya kesempatan yang cukup untuk menularkan entrepreneurship kepada puluhan orang --dan puluhan orang itu menularkannya kepada ratusan orang.

Eric Samola di akhir hayatnya masih sempat melihat hasil penularan ke-entrepreneur-annya kepada saya. Dan dia kelihatan bangga.

Saya tahu orang seperti Ciputra juga masih mengamati saya dari dekat karena dia diberi umur sangat panjang sampai sekarang. Tapi, saya tidak pernah bertanya apakah saya menjadi orang seperti yang dia harapkan. Saya tentu sering bertemu Ciputra. Tapi, soal itu akan saya biarkan menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah saya dengar jawabnya. (*)

Buang Miliaran Ongkos Belajar

Terlalu banyak orang yang menanyakan "kisah sukses" Jawa Pos. "Bagaimana ceritanya?" tanya peserta sebuah seminar di mana saya jadi pembicaranya. "Apa saja yang dilakukan sehingga perusahaan yang hampir bangkrut pada 1982 itu bisa berjaya seperti wujudnya sekarang?" tanya yang lain. "Di mana kunci rahasianya?" pinta yang lain lagi. "Ceritakan dong kiat-kiatnya...."

Biasanya saya menolak untuk bercerita. Bukan karena pelit, tapi saya berkeyakinan bahwa cerita-cerita sukses masa lalu hanya akan membuat orang terlalu mengagung-agungkan masa silam. Lalu terlena untuk memikirkan masa depan. Sering juga cerita keberhasilan masa lalu itu dipergunakan untuk "meneror" generasi baru: agar meniru, agar menghormati, agar mengenang. Menurut saya, yang demikian itu sangat berbahaya.

Saya percaya, setiap generasi memilki zamannya sendiri. Dan, setiap zaman mempunyai generasinya sendiri. Apa yang di masa lalu sukses saya lakukan, belum tentu bisa sukses untuk dilaksanakan sekarang. Bahkan, saya bisa memastikannya: mustahil. Zamannya sudah berbeda, pasarnya sudah berbeda dan pelakunya sudah berbeda. Berarti tantangan dan peluangnya juga sudah berbeda.

Yang diperlukan generasi baru bukan warisan kisah-kisah sukses masa lalu, melainkan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab. Dan, itu hanya bisa terjadi kalau ada kerelaan generasi lama untuk secara bertahap menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada generasi baru. Sebuah penyerahan yang ikhlas. Bukan penyerahan dengan niat menghibur, mencoba, kasihan, apalagi menjebak.

Saya percaya bahwa sebuah tanggung jawab akan muncul dengan sendirinya manakala kepadanya diberikan sebuah kepercayaan. Mungkin memang ada risikonya. Misalnya, salah langkah.

Tapi itulah memang harga yang harus dibayar. Itulah "biaya sekolah" di dunia yang sebenarnya. Saya selalu mengatakan, "Memangnya saya dulu tidak pernah salah?" Sekarang, di ruang ini, di kesempatan yang berharga ini, saya harus bertestimoni: saya pun telah membuat begitu banyak kesalahan. Di masa lalu, dan mungkin masih juga akan terjadi di masa yang akan datang.

Sayangnya, seminar-seminar yang diadakan sering meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Sukses Dahlan Iskan". Belum pernah ada seminar yang meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Kesalahan dan Kegagalan Dahlan Iskan".

Ini tidak fair. Saya pernah menghitung lebih dari 1.000 kesalahan yang saya perbuat. Kalau mau dinilai dengan uang, kesalahan itu melebihi Rp 150 miliar. Artinya, kalau dikumpulkan, saya pernah menghilangkan uang sebanyak itu. Hanya, karena perusahaan yang saya pimpin juga menghasilkan uang triliunan rupiah, jadinya nilai kesalahan itu kurang terlihat.

Tapi kalau direnungkan, uang Rp 150 miliar tidaklah kecil. Itulah biaya sekolah yang harus dipikul perusahaan untuk "menyekolahkan" saya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Apakah itu karena saya seorang yang hanya lulus madrasah aliyah (setingkat SMA)? Pernah kuliah, tapi hanya sampai tahun kedua? Dari desa? Dan belum pernah memimpin perusahaan sebelumnya?

Mula-mula saya punya perasaan seperti itu. Tapi, di masa-masa awal pembangunan Jawa Pos, kami belum bisa merekrut tenaga yang lulusan perguruan tinggi terkemuka atau yang pengalamannya sudah luas. Standar gaji Jawa Pos kala itu belum bisa dipakai bersaing dengan perusahaan besar lain. Tapi, saya punya semacam "dendam" bahwa kalau suatu saat Jawa Pos sudah mampu, kami akan merekrut tenaga-tenaga yang hebat. Begitulah. Dari tahun ke tahun, kualifikasi tenaga baru Jawa Pos kian meningkat.

Enam tahun lalu, kami sudah bisa merekrut tenaga lulusan Amerika Serikat dengan nilai yang hebat, berpengalaman kerja di sana beberapa tahun, percaya dirinya sangat besar karena dari keluarga kaya, kemampuan bahasa asingnya tidak hanya satu dan ketika dites lulusnya sempurna. Setelah kami coba beberapa bulan, hasilnya sangat baik. Dalam waktu tiga tahun kami sudah memberikan beberapa tanggung jawab yang besar. Sampai pada saatnya kami menyerahkan satu tanggung jawab yang lebih besar, dan hasilnya: gagal. Lulusan USA yang hebat itu, yang bukan sekadar lulusan aliyah itu, ternyata juga masih memerlukan "biaya sekolah" lagi hampir Rp 10 miliar.

Apakah dia kami pecat? Tidak! Mengapa? Karena dia juga sudah menghasilkan puluhan miliar! Juga karena dia tidak mengambil uang itu untuk dirinya. Dia memang "hanya" salah dalam mengambil strategi bisnis. Yang disebut "salah" itu sendiri sebenarnya juga belum tentu salah. Tahunya bahwa itu "salah" adalah setelah kejadian. Sebelumnya, apa yang dia lakukan adalah sebuah "kebenaran". Bahkan, kalau saja situasi tidak menyebabkan itu "salah", dia akan tercatat sebagai orang yang "amat benar".

Begitulah di sebuah perusahaan: benar atau salah kadang baru bisa diketahui dari hasilnya. Sesuatu yang diyakini benar, hasilnya bisa salah. Sesuatu yang dikira salah, ternyata benar. Tapi, memang sering juga sesuatu yang semula benar, akhirnya memang sangat benar.

Jadi, di HUT Ke-60 Jawa Pos ini, masih perlukah saya menceritakan kisah sukses masa lalu, sebagai mana yang diminta panitia yang umumnya masih muda-muda itu? Rasanya benar-benar tidak perlu. Kecuali sekadar untuk mengagung-agungkan masa lalu agar tetap dihormati di masa kini dan terus dikenang di masa yang akan datang. Wassalam!

Saya Pernah Minta Dia Transplan Ulang

Saya Pernah Minta Dia Transplan Ulang

Selamat jalan, Angky Camaro. Tepat setahun tiga hari setelah menjalani transplantasi ginjal, teman dekat saya itu meninggal dunia. Sebenarnya tanda-tanda bahwa transplantasinya gagal sudah terlihat tak lama setelah presiden komisaris PT HM Sampoerna Tbk yang juga direktur Indofood Sukses Makmur Tbk itu kembali ke Jakarta.

Tiba-tiba saja dia mengeluh sesak napas sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Ternyata paru-parunya berair. Orang yang baru transplan memang harus benar-benar menjaga paru-parunya karena organ penting ini memang paling sering terkena dampak dari transplantasi.
Menurut saya, ada tiga kemungkinan yang menyebabkan gagalnya transplantasi pada Angky.

Pertama, karena memang sudah takdir. Kedua, karena almarhum adalah penderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus) sehingga gula darahnya sulit dikendalikan. Ketiga, karena terserang virus ganas bernama citomegali (CMV), yang biasa menyerang orang-orang yang menjalani transplantasi.

Dari pengalaman saya yang baru menjalani transplan hati dua tahun lalu, penyebab kedua dan ketiga bisa dikendalikan kalau pasien transplan masih tinggal di rumah sakit. Namun, Pak Angky sudah kembali ke Indonesia hanya tiga minggu setelah transplantasi.

Waktu dia menelepon, memberi tahu bahwa dia sudah kembali ke Jakarta, saya kaget sekali. Belum satu bulan kok sudah kembali. Padahal, sudah berkali-kali saya berpesan agar tetap di rumah sakit. Minimal 2,5 bulan setelah transplantasi. Saya sendiri setiap tiga bulan masih memeriksakan diri ke rumah sakit di Tianjin.

Dia berani segera pulang karena menggunakan pesawat pribadi yang aman dari penularan virus. Dua minggu setelah transplantasi, kebanyakan pasien memang sudah langsung merasa sehat. Inilah biasanya yang membuat keinginan pasien untuk pulang menjadi sangat besar. Selain sudah bosan tinggal di rumah sakit, juga lantaran merasa toh sudah sehat.

Itu keputusan yang sangat membahayakan diri sendiri. Terutama kalau tiba-tiba terjadi masalah kesehatan, seperti infeksi. Baik akibat bakteri maupun virus. Bila ini terjadi, dokter mana pun akan kesulitan mengatasinya.

Kondisi itu sangat mungkin terjadi, karena semua pasien transplan harus minum obat yang disebut immunosuppressant. Fungsi obat ini untuk menekan ketahanan tubuh agar tidak terjadi rejeksi atau penolakan terhadap organ yang baru ditransplankan. Ketika Angky meninggal kemarin, saya sedang berada di Tianjin. Namun, saya sempat menyarankan agar almarhum menjalani transplan ulang dan pindah ke rumah sakit yang mentransplankan hati barunya.

Namun, kondisi Angky terus memburuk dan hampir sepanjang sisa hidupnya habis untuk keluar masuk ICU di Jakarta dan Singapura. Transplantasi Angky sebenarnya tergolong sukses besar. Buktinya, dua hari setelah transplantasi, dia sudah bisa kirim SMS mengenai kondisi badannya yang langsung sehat. Juga tentang kreatininnya yang langsung normal, padahal sebelumnya sangat tinggi.

Di SMS itu dia juga bercerita tentang berat badannya yang langsung turun 20 kilogram lebih. Sebab, ternyata yang membuatnya (sebelum transplantasi) sangat gemuk itu sebenarnya hanya air. Angky, sebagaimana yang pernah dia tuturkan ke harian Business Today, tak pernah tahu bahwa fungsi ginjalnya sudah tidak normal. Dia baru tahu itu pada awal April 2005. Yakni, ketika tiba-tiba dia menemukan bisul yang bernanah di pantatnya. Bisul itu membuat Angky tidak bisa duduk karena pantatnya bengkak dan sakit luar biasa.

Dari situlah dia tahu bahwa gula darahnya 500 mg/dl dan kreatininnya sudah 3,5 mg/dl. Ini keadaan yang sudah sangat parah, sebenarnya. Sebab, normalnya, gula darah orang (dalam keadaan puasa) tak boleh lebih dari 100 mg/dl. Sedangkan kreatinin orang sehat antara 0,5 sampai 0,9 mg/dl. Tetapi, itulah hebatnya Angky. Meski kondisinya sudah seperti itu, dia tetap bekerja seperti biasa. Andai pantatnya tidak bisulan dan bengkak, bisa dipastikan Angky tidak akan berobat.

Karena tidak tahan lagi dengan rasa sakit itu, Angky tidak membantah ketika dokter menyuruhnya opname. Sebab, selain nanah di bisulnya harus dikeluarkan lewat operasi, rawat inap di rumah sakit itu juga untuk mengatasi gula darah dan kreatininnya

Menikmati Sistem Baru Penerbangan Cathay Pacific (2-Habis)

Kursi Mencong-mencong Memudahkan ke Toilet,

Ada lagi yang baru dalam penerbangan Cathay Pasific (CX) selain aturan menggunakan HP sejak roda pesawat menjejak bumi. Setidaknya, baru buat saya. Setidaknya lagi, baru sekali itu saya mengalaminya, meski saya sudah agak lama mendengarnya: susunan kursi di dalam pesawat tidak menghadap ke depan. Semua kursi dibuat menghadap serong 45 derajat dengan tujuan khusus: agar semua penumpang memiliki akses yang sama terhadap koridor. Selama ini, dengan susunan kursi 3-3 (Boeing 737 atau Airbus 319/320) atau 2-4-2 (Boeing 777) atau 2-5-2 (Boeing 747 atau Airbus 340), selalu terjadi ketidakadilan. Penumpang yang berada di dekat jendela atau yang berada di tengah selalu harus melewati penumpang lain kalau ingin ke toilet.


Untuk penerbangan jangka pendek, itu tentu tidak apa-apa. Ke toilet bisa ditahan. Tapi, untuk penerbangan jauh, mau tidak mau harus ”mengganggu” penumpang yang dilewati. Akibatnya, deretan kursi di pinggir koridor paling habis dipesan duluan. Apalagi untuk penerbangan yang bisa check-in dari handphone atau internet. Kursi-kursi di sebelah koridor cenderung sudah habis di-block secara online. Terutama untuk kursi kelas bisnis yang susunan kursinya 2-3-2. Sering sekali, kursi-kursi yang kosong adalah yang ada di jepitan. Kita yang pergi berdua atau bertiga sering harus duduk terpisah. Atau kadang harus negosiasi dengan penumpang lain setelah tiba di atas pesawat. Kadang ada penumpang yang rela diajak tukar tempat duduk, kadang tidak bisa.


Problem seperti itu terpecahkan oleh sistem pengaturan kursi yang mencong-mencong di CX tersebut. Semua kursi punya akses langsung ke koridor. Jumlah tempat duduk pun tidak berkurang. Susunan kursi baru seperti itu memang hanya bisa dilakukan di kelas bisnis. Rasanya masih akan sulit untuk kelas ekonomi. Itu disebabkan di kelas bisnis ”jatah” satu kursi lebih besar daripada kelas ekonomi. Sebagai orang yang baru pertama menemukan sistem pengaturan tempat duduk seperti itu, semula saya agak kikuk. Setiap penumpang mendapatkan satu kursi, yang karena kanan-kirinya disekat, rasanya seperti berada di dalam satu bilik yang sempit. Kita tidak bisa melihat penumpang yang ada di sebelah kita. Bagi yang bepergian sendirian, rasanya tidak mengapa. Tapi, bagi yang pergi berdua, rasanya aneh. Tidak berkomunikasi dengan istri atau teman perjalanan. Padahal, sering kita ingin berbicara panjang dengan teman bisnis justru ketika di dalam pesawat. Tidak ada yang mengganggu selama berjam-jam. Ketika pertama duduk di kursi itu, rasanya juga aneh oleh perasaan ini: tidak menghadap ke depan.


Perasaan aneh itu berkurang manakala melihat ada tumpangan kaki di ujung ”bilik? Ah, ini dia, kaki bisa selonjor. Kesempatan selonjor seperti itu biasanya baru bisa didapat (untuk kelas bisnis) kalau pesawat sudah mengudara cukup tinggi. Yakni, ketika sudah diperbolehkan menaikkan sandaran kaki. Sejak kita pertama duduk di kursi sampai diperbolehkan menaikkan sandaran kaki itu biasanya memakan waktu sampai setengah jam. Tapi dengan sistem baru itu, begitu kita duduk pun, kaki sudah bisa selonjor.


Penemuan sistem baru itu juga menarik: di sisi kiri ada tempat untuk menaruh bahan-bahan bacaan. Di sisi kanan ada tombol-tombol berbagai macam keperluan. Ada tombol untuk membuka meja makan. Ada tombol untuk mengeluarkan layar TV/video. Layarnya pun bisa lebih lebar. Lalu, ada tombol untuk menggerakkan kursi agar posisi kursi bisa seperti tempat tidur. Boleh tidur sambil nonton video atau sambil membaca koran. Atau tidur mengorok.


Dari sisi privasi, sistem baru itu sangat cocok. Tidak terganggu atau mengganggu penumpang lain. Mau ke toilet kapan pun bisa langsung ke koridor. Juga tidak perlu sungkan apa pun dengan tetangga. Tapi, bagi yang menginginkan bisa ngobrol dengan teman, sistem ini benar-benar tidak memberi peluang. Saya sampai terpikir mengapa tidak disediakan di beberapa kursi saja yang sekatnya itu dibuat lebih pendek. Mungkin diperkirakan bisa mengurangi tempat penyimpanan layar video, namun untuk dikurangi sekadar 10 sentimeter, rasanya masih bisa. Setidaknya masih bisa bicara dengan ”kamar sebelah” meski harus dengan posisi agak melongok.


Akhirnya, kalau saya disuruh memilih apakah menyukai sistem baru ini atau sistem yang lama, jawabnya: bergantung. Kalau bepergian sendirian dan jarak jauh, saya menyukai sistem ini. Kalau jarak pendek, apalagi harus ada yang dibicarakan selama dalam penerbangan, saya pilih sistem yang lama. Tapi, kita sebagai penumpang tidak bisa banyak memilih. Kita tidak tahu pesawat CX yang mana dan jurusan ke mana yang menggunakan sistem baru tersebut. Berkali-kali saya ke Hongkong, baik dari Jakarta maupun dari Surabaya, menggunakan CX, tapi baru hari itu ”menemukan” kursi sistem baru tersebut.

Menikmati Sistem Baru Penerbangan Cathay Pacific (1)

Lega, Bisa On-kan HP Begitu Pesawat Mendarat,

Rasanya baru yang satu ini memperbolehkan penumpang langsung menghidupkan handphone (HP) begitu pesawat sudah mendarat: Cathay Pacific (kode penerbangan CX).

Pada Penerbangan lainnya masih tetap mengumumkan bahwa penumpang dilarang menghidupkan HP, meski pesawat sudah mendarat, sampai tiba di dalam gedung terminal. Sebuah larangan yang saya lihat hampir 100 persen dilanggar.

Kecenderungan penumpang pesawat saat ini adalah: begitu pesawat mendarat, pekerjaan pertama yang dilakukan justru menghidupkan HP. Kalau toh ada yang sungkan melakukannya, paling hanya yang duduk di deretan kursi pertama. Itu karena mereka, sebagaimana saya, sungkan kepada pramugari yang baru saja membuat pengumuman. Lagi pula, sesekali pramugari masih mau menegur kalau ada penumpang yang sudah menghidupkan HP ketika pesawat baru mendarat.

Saya pernah ditegur seperti itu dan saya merasa malu. Tapi, bagi penumpang di deretan kursi belakang, semuanya tidak mau lagi menghiraukan pengumuman itu. Logikanya: toh pesawat sudah mendarat, tidak mungkin lagi bisa jatuh.

Ketika minggu lalu saya ke Hongkong, dalam perjalanan ke China, saya tidak perlu malu lagi. Saya justru mendengar, pramugari CX mengumumkan bahwa, ”para penumpang sudah diperbolehkan menghidupkan handphone”. Padahal, pesawat baru saja mendarat dan masih dalam perjalanan menuju terminal.

Mula-mula saya agak ragu dengan isi pengumuman itu. Maklum, sudah sekian lama yang biasa terdengar adalah larangan. Kok ini malah dipersilakan menghidupkan handphone.

Lalu, saya bertanya, apakah pendengaran saya tidak salah. ”Tidak,” kata pramugari. ”Kan, pesawat sudah mendarat,” tambahnya. Benar saja, dalam perjalanan pulang, ketika pesawat sudah mendarat di Bandara Juanda, Surabaya, saya dengarkan hati-hati pengumuman pramugari. Memang benar: penumpang dipersilakan menghidupkan handphone.

Saya benar-benar lega melihat perkembangan ini. Akal sehat mulai ditegakkan. Logika mulai diluruskan. Sebenarnya, larangan menghidupkan handphone ketika pesawat sudah mendarat benar-benar tidak masuk akal. Apalagi kalau alasannya untuk keselamatan penerbangan. Akibatnya, kita semua sudah tahu: larangan itu dilanggar hampir 100 persen oleh penumpang. Apalagi pramugari tidak berdaya untuk menegakkan larangan tersebut: dalam posisi pesawat baru mendarat, pramugari tidak mungkin bangkit dari tempat duduknya untuk mengontrol penumpang yang sudah menghidupkan handphone.

Kalau larangan itu bermotif lain, malah lebih bisa diterima. Misalnya, agar jangan berisik. Sebab, kalau semua penumpang menghidupkan handphone dan semuanya berbicara keras-keras, bisa dibayangkan berisiknya. Namun, dalam praktik, saya lihat hanya satu-dua orang yang berbicara di handphone. Mayoritas hanya ingin mengecek SMS yang masuk. Begitu tidak sabarnya pemilik handphone untuk segera melihat SMS, seperti penerbangan satu jam itu telah memutus hidupnya.

Thursday, May 21, 2009

Susu Sapi Bukan untuk Manusia

Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi perilaku yang alami seperti itu?

"Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme (Keajaiban Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. Padahal, katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya minum susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.

Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi penyebab osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih mudah terkena osteoporosis.

Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor di usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter terus mondar-mandir di antara dua negara itu.

Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging.

Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.

Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.

Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia hanya menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk ke perut.

Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, dia minta kita menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari seluruh makanan yang kita perlukan.

Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.

Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, tulisnya, sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih dulu.

Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak akan gembrot.

Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di dalam "lumbung enzim-induk". Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros menguras lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung masing-masing.

Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. Semua makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.

Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan itu sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim yang banyak.

Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.

Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan makanan yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau terlalu sering.

Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan dengan "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang dokter yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah yang menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.

Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan ke depan.

Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah senang dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat enzim-induk bertambah. Nah..... gan pei!

SBY-JK; Memuaskan dan Tidak Memuaskan

PASANGAN SBY-JK sebenarnya tetaplah yang terbaik. Bahkan, terbaik dalam sejarah hubungan presiden dan wakil presiden kita. Memang ada sedikit kesan negatif, yaitu kurang kompak. Tapi, juga muncul banyak kesan positif, yaitu citra berjalannya saling kontrol dan saling mengisi.

Intinya, pemerintahan selama lima tahun ini terbukti bisa berjalan sangat stabil. Bukan stabil-beku, tapi stabil dinamis yang antara lain lahir dari kekurangkompakan itu. Hubungan SBY-JK boleh dikata ibarat hubungan dua orang yang sama-sama dewasa.

Mungkin, memang ada beberapa program yang kurang berjalan karena kesan kurang kompak itu. Tapi, juga banyak program yang berjalan lebih baik karena proses saling isi itu. Masyarakat nasional dan internasional sudah terbiasa dengan apa yang berjalan stabil-dinamis selama lima tahun terakhir.


Adanya perubahan memerlukan waktu transisi lagi. Bukan transisi di kalangan pemerintahan, tapi transisi di luar pemerintah. Sebuah transisi yang bisa jadi di luar kontrol pemerintah. Respons melemahnya pasar modal dan pasar uang setelah hubungan SBY-JK resmi pisah adalah salah satu petunjuk nyatanya. Meski mungkin saja itu respons sementara, tetap saja masa transisi tersebut menghilangkan momentum yang seharusnya bisa untuk start agar Indonesia bisa langsung terbang.

Kalau toh pasangan itu kurang memuaskan SBY secara pribadi (yang sebenarnya juga kurang memuaskan JK secara pribadi), hal-hal yang pribadi seperti itu mestinya dikalahkan oleh kepentingan bangsa yang lebih luas. Apalagi keduanya sudah membuktikan mampu memerankan sebagai orang yang sama-sama dewasa.

Realitas politik hasil pemilu legislatif memang membuat SBY bisa punya posisi tawar yang jauh lebih besar. Termasuk bisa melakukan apa pun yang lebih dia inginkan. SBY barangkali akan memilih pasangan yang akan bisa sangat memuaskan dirinya. Tentu pilihan itu secara pribadi akan lebih memuaskan. Tapi, kalau kepuasan tersebut mirip dengan kepuasan orang yang mabuk kemenangan, itu bisa tidak memuaskan bangsa.

Momentum stabilnya politik dan keamanan selama lima tahun terakhir mestinya bisa berlanjut setidaknya lima tahun lagi. Kalau toh Indonesia perlu guncangan, sebaiknya guncangan itu jangan datang terlalu cepat seperti ini. Kalau guncangan itu datangnya lima tahun lagi, barangkali tidak perlu dirisaukan karena posisi terbang ”pesawat jumbo jet Indonesia” sudah lebih tinggi.

Keinginan SBY untuk tidak lagi menggandeng JK sudah tentu diharapkan tidak sekadar berasal dari keinginan untuk hanya memuaskan pribadinya. Realitas di lapangan sering tidak sejalan dengan keinginan seseorang sebaik apa pun keinginan itu. Tentu masih ada peluang bahwa pasangan baru nanti lebih baik daripada SBY-JK. Hanya saja, untuk membuktikannya, orang masih harus melihat hasilnya lima tahun lagi. ***

Tuesday, April 14, 2009

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (2)

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (2)
SENIN, 14 APRIL 2009



Mati Bersekongkol Lebih Baik daripada Mati Lapar

Kemiskinan yang berkarat mendorong 18 petani di Desa Xiao Gang berani melawan sistem pertanian komunis. Perlawanannya sangat cerdik lewat istilah yang dirumuskan dengan cermat. Berikut catatan lanjutan Chairman/CEO Jawa Pos Dahlan Iskan dari hasil kunjungannya ke sana.

---

SEKARANG semua petani di Tiongkok tidak perlu membayar pajak apa pun. Termasuk pajak bumi dan bangunan yang kalau di Indonesia disebut PBB. Bahkan, petani di sana kini menerima BLT (bantuan langsung tunai) yang dikirim langsung ke ATM mereka. Petani punya ATM? Begitulah di Tiongkok. Dalam 10 tahun terakhir penggunaan teknologi, mulai handphone, internet, TV kabel sampai GPS mendadak sangat meluas. Sudah sampai ke tingkat petani. Termasuk sistem listrik prabayar.

Semua itu tidak bisa dilepaskan dari jasa 18 petani miskin dari Desa Xiao Gang, Provinsi Anhui, ini.

Xiao Gang sebenarnya hanya sebuah desa yang amat kecil. Kalau desa-desa di Tiongkok terkenal miskin, Xiao Gang termasuk yang paling miskin. Waktu itu penduduknya hanya 20 KK. Hanya ada satu jalan di kampung itu. Rumah-rumah petaninya teronggok di kiri kanan jalan itu.

Jauhnya perjalanan saya ke Desa Xiao Gang membuat saya membayangkan bagaimana keadaan desa ini 30 tahun lalu. Yakni, saat 18 petani di sana membubuhkan cap jempol rahasia yang sangat berbahaya. Dua kepala keluarga yang lain tidak ikut cap jempol karena sudah lama berkelana menjadi pengemis.

Saya jadi tahu betapa terpencil dan terisolasinya desa ini. Jalan menuju ke sana pun berupa jalan tanah. Rumah-rumah mereka semuanya beratap daun dengan tembok tanah yang dicampur kulit padi. Lantai rumah mereka juga tanah (lihat foto yang dimuat kemarin).

Penduduk desa itu, sebagaimana umumnya petani di Tiongkok waktu itu, sudah dalam keadaan sekarat kurang makan. Mereka sudah sampai pada tingkat hanya bisa makan daun apa pun yang direbus. Bumbunya hanya satu: garam. Nasinya adalah batang pohon yang dilembutkan. Kalau musim dingin, ketika daun pun tidak ada, mereka pergi ke daerah lain untuk menjadi pengemis. Sudah sangat terkenal bahwa Provinsi Anhui adalah sumber pengemis. Sekarang pun masih ada satu-dua pengemis di kota-kota di Tiongkok, dan umumnya juga dari Anhui ini.

Anhui memang terkenal miskin. Sering kekeringan di daerah pegunungannya dan kebanjiran di dataran rendahnya. Pelosok Desa Xiao Gang adalah salah satu yang termiskin dari yang miskin itu. Kalaupun yang 18 orang itu kemudian berani membuat persekongkolan rahasia yang membahayakan nyawa mereka, itu adalah jalan yang sudah amat terpaksa. Daripada mati kelaparan. ''Sekarang tentu sulit membayangkan bagaimana rasanya kelaparan. Ketika itu seperti tidak ada gambaran untuk hidup. Sama-sama akhirnya harus mati, mencari cara lain untuk mati masih lebih baik,'' ujar Yan Hongchang, tokoh di desa itu.

Karena itu, Yan, yang juga sudah menyuruh anaknya mengemis di daerah lain, setiap malam mendatangi tetangganya. Kegiatan itu harus dilakukan malam hari untuk menghindari intaian mata-mata penguasa. Sebagai orang yang pendidikannya terbaik di desa itu (dia tamatan SMP), Yan sudah bisa menganalisis mengapa semua orang terancam mati kelaparan. (Data di kemudian hari menunjukkan di Kecamatan Fengyang saja yang terancam mati kelaparan mencapai 90.000 orang. Xiao Gang adalah salah satu desa di Kecamatan Fengyang).

Menurut analisis Yan, kelaparan masal itu bersumber dari kebijaksanaan pemerintah pusat mengenai sistem pertanian komunis (pertanian komunal). Yakni, sejak menjelang 1960-an ketika semua tanah harus dimiliki negara. Sejak itu petani harus menyerahkan semua tanahnya ke negara. Batas-batas tanah pun dihilangkan. Mereka memang tetap bekerja di sawah, namun sistem kerjanya komunal. Sebidang tanah dikerjakan bersama yang hasilnya harus sepenuhnya diserahkan kepada negara. Negaralah yang kemudian memberikan jatah makanan kepada rakyatnya. Jatah makanan ini tidak cukup. Petani, seperti di Xiao Gang itu, sudah menderita luar biasa hampir 20 tahun.

Meski begitu, harapan untuk membaik tidak pernah datang. Kian tahun hasil pertanian masih kian merosot. Orang-orang kaya mulai menjual perabot yang bisa mereka jual. Lama-lama perabot pun habis dan mereka jatuh miskin. Yang miskin hanya bisa menjual anak mereka. Tapi, setiap anak hanya bisa dijual sekali. Padahal, makan harus dilakukan setiap hari.

Sistem komunal ternyata membuat petani tidak produktif. Tidak ada semangat untuk menghasilkan panen yang setinggi-tingginya. Yan Hongchang sudah sampai pada kesimpulan itu. Tapi, semua orang di Tiongkok dalam keadaan takut dan tidak berdaya. Sistem pemerintahan ketika itu membuat siapa pun yang menentang kebijaksanaan pemerintah akan dianggap ''setan desa'' yang harus dibasmi. Memupuk kekayaan adalah kapitalisme yang dianggap sebagai pengisap darah petani.

Tiap malam Yan menyampaikan analisisnya itu kepada para tetangga. Dia tahu risikonya yang berat. Apalagi kalau sampai ada satu orang saja di desa itu yang menjadi kaki tangan pihak penguasa. Pasti Yan sudah dilaporkan sebagai orang yang melakukan subversi. Untungnya, mayoritas penduduk di situ masih memiliki hubungan keluarga. Lebih separo bermarga Yan.

Tapi, tidak ada pilihan bagi Yan. Ancaman mati kelaparan terlihat di mana-mana. Semua orang dalam keadaan kurus, lunglai, dan kekurangan gizi. Demikian juga seluruh penduduk Desa Xiao Gang. Kenyataan itulah yang membuat Yan meneguhkan diri untuk mengambil risiko.

Namun, Yan sungguh orang yang bijaksana. Dia mencari istilah yang kelihatannya tidak menentang kebijaksanaan negara, tapi sebenarnya menentang juga. Yan ingin tanah di situ dibagi-bagi menjadi 20 petak dan masing-masing KK bertanggung jawab atas petak ''milik''-nya. Masing-masing juga harus bertanggung jawab menyerahkan hasil panen sesuai dengan target negara, lalu dikumpulkan seolah-olah sebagai hasil komunal. Yan menginginkan hasil panen jauh di atas target itu sehingga masing-masing masih bisa memperoleh kelebihan dari target negara untuk diambil sendiri.

Karena ketentuan yang ada mengharuskan petani menyerahkan semua hasil ke negara, sangat sulit menemukan cara untuk menghindarinya. Karena itu, semua petani di situ harus sepakat menjaga rahasia bahwa hasil panen mereka sebenarnya melebihi target. Ada satu orang saja yang berkhianat, tamatlah riwayat gerakan itu.

Semula saya heran mengapa perjanjian rahasia itu bisa tidak bocor. Bukankah sistem mata-mata waktu itu sangat kuat mengawasi segala gerak-gerik penduduk? Termasuk penduduk di desa sekali pun? Bagaimana mereka bisa menjaga rahasia itu? Setelah saya ke Xiao Gang, barulah saya tahu. Pertama, mayoritas mereka masih ada hubungan keluarga. Kedua, desa ini benar-benar terpencil. Sebuah kampung kecil dengan hanya 20 rumah reot yang berada di tengah-tengah lautan sawah.

Akhirnya Yan berhasil menemukan satu istilah yang unik. Gerakannya itu akan dia beri nama da bao gan (.........). Istilah da bao gan saya nilai unik karena bisa memiliki multitafsir. Lalu Yan berusaha meyakinkan para tetangganya bahwa dengan istilah da bao gan kemungkinan besar bisa selamat. Maka, pada puncak musim dingin akhir Desember 1978, mereka menyepakati sebuah perjanjian rahasia itu.

Sebenarnya sulit menjelaskan istilah da bao gan dalam bahasa Indonesia. Tidak bisa diterjemahkan dengan gotong royong, juga tidak bisa diartikan borongan.

Intinya adalah: mereka akan menggarap bersama-sama sawah itu untuk memenuhi kewajiban bersama. "Menggarap bersama-sama" adalah istilah yang aman di mata penguasa. Orang bisa menilai menggarap bersama-sama adalah sama dengan komunal. Tapi, petani sendiri bisa saja menafsirkan dengan "menggarap bersama-sama di kavlingnya sendiri-sendiri". Demikian juga istilah "memenuhi kebutuhan bersama". Istilah ini sangat aman di mata penguasa. Artinya, kebutuhan target penguasa pasti terpenuhi. Padahal, petani juga boleh menafsirkan "kebutuhan bersama itu termasuk kebutuhan petani sendiri yang juga harus dipenuhi".

Istilah bao gan, semua orang yang bisa berbahasa Mandarin pasti tahu: artinya borongan. Tapi, da bao gan terasa aneh. Arti letter lijk-nya adalah: borongan besar. Tapi, tidak pernah ada istilah seperti itu sebelumnya. Yan Hongchang dari Xiao Ganglah yang menciptakannya. Kelak, setelah ide penduduk Xiao Gang itu diterima oleh negara dan menjadi kebijaksanaan nasional, istilah da bao gan menjadi amat populer. Di mana-mana orang bicara hebatnya da bao gan. Bahkan, ada lagu da bao gan segala.

Orang Tiongkok memang pandai menciptakan istilah yang bisa membuat persoalan rumit menjadi mudah. Ketika Hongkong harus masuk ke Tiongkok, mestinya juga sulit. Yang satu (Tiongkok) komunis dan yang satunya (Hongkong) demokrasi penuh. Bagaimana dua wilayah yang bertolak belakang ideologinya itu bisa jadi satu negara. Di negara lain persoalan ideologi demikian bisa menjadi ketegangan yang gawat. Tapi, Tiongkok memecahkan persoalan rumit itu dengan menciptakan istilah baru: satu negara dua sistem. Beres.

Demikian juga ketika tahun lalu para pimpinan Tiongkok harus bertemu para pimpinan Taiwan. Apa dong nama pertemuan itu. Pertemuan pimpinan dua negara? Pasti Tiongkok marah. Sebab, Taiwan masih tetap dianggap salah satu provinsinya. Ini harga mati. Tapi, kalau disebut pertemuan pusat-daerah, Taiwan pasti marah. Taiwan merasa sudah menjadi negara sendiri.

Ternyata pertemuan itu bisa berlangsung dengan sangat sukses, tanpa menyebut Taiwan itu negara atau provinsi. Pertemuan itu diberi nama dengan sangat unik: liang bian (.......). Dua pantai. Artinya, pertemuan itu adalah pertemuan para pimpinan dari dua pantai. Maklum, dua wilayah ini sama-sama punya pantai yang saling berhadapan. Dengan menyebut istilah dua pantai, terhindarlah penyebutan Taiwan itu negara atau provinsi.

Begitu seringnya saya menyaksikan fleksibilitas seperti itu, saya tertawa ketika belum lama ini membaca perdebatan di koran Surabaya: sepeda motor akan boleh melintasi jembatan Madura atau tidak?

Ada yang beralasan bahwa sebaiknya sepeda motor dilarang melewati jembatan yang hampir jadi itu karena status jembatan Madura adalah tol. Orang itu sama sekali tidak mengemukakan alasan yang ilmiah. Alasan yang dikemukakan hanyalah: UU mengatakan sepeda motor dilarang lewat jalan tol. Kalau memang mau, UU-nya harus diubah dulu. Atau jembatannya yang jangan dijadikan jembatan tol.

Saya tertegun: betapa rumitnya negeri ini. Untuk membuat sepeda motor boleh lewat jembatan saja tidak bisa menemukan jalannya! Maka, kalau saja nanti pemda tidak bisa menemukan istilah yang bisa membuat sepeda motor boleh lewat jembatan Madura, saya akan memberikan anjuran ini: agar semua sepeda motor ditambahi dua roda (roda pura-pura juga boleh) agar kendaraan itu bisa disebut roda empat sesuai dengan undang-undang jalan tol. (bersambung)

Monday, April 13, 2009

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (1)

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (1)
on Catatan Dahlan Iskan
SENIN, 13 APRIL 2009

Bisnis GPS Ambil Alih Tugas Joki Pemandu Tol

Setelah 30 tahun berlalu, Xiao Gang, desa tempat lahir reformasi pedesaan yang mengubah sejarah Tiongkok, termasuk belasan petani penggagasnya, masih menjadi inspirator pesatnya kemajuan petani dan modernisasi pertanian di Tiongkok. Inilah catatan Chairman/CEO Jawa Pos DAHLAN ISKAN yang baru kembali dari sana.

Inilah perjalanan menuju Xiao Gang, sebuah desa terpencil yang telah diakui sebagai pelopor kemakmuran petani di seluruh Tiongkok sekarang ini. Di desa inilah pernah terjadi 18 orang penduduknya, di tengah malam yang sunyi, di sebuah kamar yang tersembunyi, membubuhkan cap jempol untuk melawan sistem nasional yang berlaku saat itu dengan taruhan nyawa mereka. Berkat keberanian petani itulah, sistem kepemilikan sawah di seluruh Tiongkok akhirnya dirombak total.

Meski nama mereka kini menjadi buah bibir di seluruh negeri, mereka masih tetap tinggal di desa itu. Kecuali empat orang yang sudah meninggal dunia. Saya begitu ingin menemui mereka untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi malam itu.

Maka, meski harus saya tempuh dengan perjalanan darat selama enam jam (dari Hangzhou), saya senang bisa sampai di sana. Kunjungan ini merupakan keinginan lama yang selalu tertunda. Mula-mula karena tidak mudah menuju ke sana. Apalagi ketika belum ada jalan tol. Jarak itu sama dengan dari Surabaya ke Bandung. Setelah ada jalan tol, ganti saya yang sakit. Maka, ketika Senin lalu saya harus rapat di Hangzhou dan Shanghai, di antara hari kejepit itu saya manfaatkan untuk ke Xiao Gang.

Sebenarnya bisa saja dari Hangzhou saya naik pesawat dulu ke Nanjing (ibu kota Provinsi Jiangshu) atau ke Hefei (ibu kota Provinsi Anhui). Baru dari sini jalan darat ke desa itu selama dua jam. Namun, kalau ditotal-total, sama saja. Menuju airport dan menunggu pesawatnya juga memakan waktu. Toh, saya sudah mulai terbiasa jalan darat jarak jauh di Tiongkok. Sejak jaringan jalan tol telah meluas di sana, ke mana-mana rasanya sangat mudah.

Apalagi, di sepanjang perjalanan saya tetap bisa membicarakan banyak hal dengan teman-teman di sana. Mulai soal rencana pembangunan tahap II PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) di Kaltim hingga soal bagaimana mempercepat penyelesaian PLTU di Lampung. Yang terakhir itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan saya. Namun, saya diminta ikut memperlancar urusan ruwet mereka dengan pihak di Tiongkok.

Di sepanjang jalan tol, membaca berbagai dokumen (yang tercetak maupun di laptop) juga tidak ada masalah. Jalan yang relatif lurus dan rata membuat tubuh tidak bergoyang-goyang. Sambil membaca pun tidak membuat kepala pusing. Demikian juga, meski kami belum pernah menempuh jalur tersebut, tidak perlu khawatir kesasar. Kini sudah ada GPS (global positioning system) di sana, sebagaimana yang sudah agak lama digunakan di AS atau Eropa.

Bahkan, daya serap GPS di Tiongkok langsung melebihi apa yang terjadi di negara maju. Begitu masuk pasar tiga tahun lalu, populasi pengguna GPS langsung meluas. Membeli GPS di Tiongkok bukan hanya karena fungsinya, melainkan sudah seperti mode. Sudah seperti membeli handphone.

Memang, mobil-mobil baru sudah banyak yang sekalian dilengkapi layar GPS. Namun, mereka yang telanjur punya mobil pun bisa membeli GPS sendiri. Tinggal memasang tumpuan di dashboard, lalu meletakkan layar GPS di situ. Toh, barangnya tidak besar. Hanya layar tipis sebesar setengah buku tulis. Layar itulah yang menerima peta dari satelit mengenai jalur perjalanan kita hari itu.

Agar sopir tidak perlu selalu melihat GPS, salah seorang di antara kami menjadi co-pilot: mencopot GPS itu dan memegangnya secara gantian. Sebenarnya juga tidak perlu dipegang. Ditaruh begitu saja juga tidak apa-apa. Toh, di samping menampilkan jalur-jalur jalan, alat ini juga bersuara: selalu memberi tahu kita apa saja yang segera kita lewati. Misalnya, 500 meter lagi akan ada jembatan (lengkap menyebut nama jembatan itu), 1 kilometer lagi akan ada jalan bercabang dan Anda harus belok ke kanan. Sesekali suara itu seperti menegur kita: Anda telah melebihi kecepatan yang diperbolehkan. Suara itu bisa dikeraskan (kalau mau) sampai seluruh penumpang bisa mendengar jelas. Tentu dalam bahasa Mandarin.

Sebelum berangkat, sopir kami memang sudah men-set-up alat itu: mau pergi ke mana. Di situ ada tombol-tombol pilihan: provinsi apa, kota apa, jalan apa, dan mau ke bangunan nomor berapa. Setelah itu, secara otomatis, jalan-jalan yang akan dilewati berwarna merah. Kita tinggal menuruti saja jalur merah itu. Maka, biarpun di depan ada persimpangan yang banyak, atau interchange yang ruwet, tidak perlu takut salah arah. Alat ini juga memberi tahu masih berapa kilometer jarak tempuh kita dan masih perlu berapa menit atau jam lagi. Perkiraan waktu tersebut tentu disesuaikan dengan kecepatan saat itu.

Tidak disangka bahwa pengembangan jalan tol di Tiongkok telah menimbulkan bisnis yang semula tidak masuk perencanaan: mode menggunakan GPS.

Saya masih ingat ketika Tiongkok baru mulai memiliki jalan tol (Indonesia sebenarnya lebih dulu punya jalan tol di Jagorawi). Saya melihat waktu itu tiba-tiba saja ada wabah baru: bepergian ke kota lain dengan mobil sendiri. Tentu ada problem baru: banyak sekali mobil yang kesasar. Maklum belum mengenal jalur-jalur di kota lain itu. Banyaknya kasus salah jalan itu ternyata bukan saja membuat penjualan buku peta meledak, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru: profesi penunjuk jalan. Saya selalu melihat di setiap mulut jalan tol berjajar orang-orang yang menawarkan jasa sebagai penunjuk jalan. Mereka memegang tulisan berbahasa Mandarin ''pemandu jalan''. Seperti joki di Jakarta, tapi dengan tugas yang benar-benar fungsional.

Banyaknya penjual jasa di mulut-mulut jalan tol itu rupanya dilihat sebagai peluang baru oleh pihak lain. Terutama oleh perusahaan komunikasi dan penerbit peta. Dua pihak itu berkolaborasi menciptakan GPS. Harganya Rp 700.000 hingga Rp 5.000.000, bergantung mutunya.

Merasakan begitu jauhnya perjalanan ini, saya bayangkan betapa terpencilnya Desa Xiao Gang sebelum jaringan jalan tol dibuat. Juga betapa sulitnya mencapai desa itu. Pasti jalannya sempit, padat, dan berbelok-belok. Banyak sekali gunung, sungai, dan danau. Dengan jalan tol, semua itu diterabas. Gunung ditembus, sungai besar seperti Yang Tze (Chang Jiang), danau sebesar Dai Hu dilompati. Tentu kami juga lapar. Karena itu, sekali waktu kami keluar jalan tol masuk ke kota Nanjing untuk makan siang. Ketika kami berbelok ke arah kota, tiba-tiba ada suara melengking: Anda salah jalan. Rupanya itu suara GPS. Kami memang lupa men-set-up kalau di tengah jalan harus mampir untuk makan.

Saya benar-benar membayangkan betapa terpencilnya desa itu. Saya juga membayangkan bagaimana para petani di desa yang begitu terpelosok berani berinisiatif untuk melakukan perubahan yang kemudian diakui sangat menentukan arah negara. Mereka bukan saja berani, tapi juga sangat bijaksana: tidak demo, tidak mengamuk, tidak ngambek, tapi juga tidak menyerah. Mereka melakukan sesuatu yang amat mendasar: da bao gan! (bersambung)

Thursday, April 9, 2009

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina "CATATAN DAHLAN ISKAN DAN PETER F GONTHA"

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina
on Catatan Dahlan Iskan dan Peter.F. Gontha
JUMAT, 13 PEBRUARI 2009

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina
          Cita-cita direktur utama Pertamina yang baru dan cantik itu, Karen Agustiawan Galaila, antara lain ingin membuat Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia. Mungkinkah? Semua orang akan mengatakan ‘’mungkin saja’’ atau ‘’sangat mungkin’’ atau bahkan ‘’harus bisa’’. Tapi, kalau ditanya apa dasarnya, paling hanya akan menyebutkan bahwa Indonesia ini negara besar yang sumber Migasnya luar biasa.

Atau, ‘’Petronas Malaysia saja yang dulu belajar ke Pertamina kini sudah mengalahkan gurunya itu dan sudah menjadi perusahaan kelas dunia’’. Bahkan, Singapore Petroleum yang negerinya hanya satu pulau kecil yang tidak punya sumur minyak, sudah mengalahkan Pertamina.

Semua bentuk kekalahan Pertamina itu umumnya hanya dipikulkan kepada manajemen yang dinilai lemah dan belum kelas dunia. Atau karena manajemennya yang sering diintervensi kekuatan politik.

Tapi, jarang yang melihatnya dari sudut yang lebih mendasar, yang kalau itu tidak diatasi, maka jangankan manajemen kelas dunia, yang kelas akhirat pun tidak akan bisa membuat cita-cita Karen itu tercapai.

Pokok persoalannya sangat mendasar. Bahkan, berada di landasan negara yang paling dasar: UUD 45. Khususnya pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kalau tidak ingin mempersoalkan ayat itu, setidak-tidaknya ada masalah yang terletak pada penjelasan pasal 33 ayat (3) itu yang hanya menyebutkan bahwa pasal tersebut ‘’Sudah cukup jelas’’.

Mungkin, ketika ekonomi global belum sehebat sekarang dan sistem akuntansi belum secanggih saat ini, bunyi pasal itu memang bisa saja ‘’Sudah cukup jelas’’. Tapi, dalam konteks perekonomian global saat ini, apalagi kalau untuk menjadi yang kelas dunia, kita juga harus menerapkan sistem akuntansi internasional. Maka pasal itu sangat tidak jelas.

Orang politik akan mengatakan apanya lagi yang kurang jelas. Tapi, orang akuntansi akan secara tegas mengatakan pasal itu tidak bisa dipegang.

Padahal, untuk menjadi perusahaan kelas dunia, pengurusannya harus disesuaikan dengan ‘’bahasa’’ akuntansi, bukan dengan bahasa politik.

Tegasnya, secara akuntansi kalau hanya dengan senjata kata ‘’dikuasai’’ Pertamina tidak bisa memasukkan kekayaan alam itu di buku aset. Bahasa akuntansi menuntut kata yang jelas: dimiliki. ‘’Dikuasai’’ dan ‘’dimiliki’’ secara politik kelihatannya tidak ada bedanya, tapi secara akuntansi kata ‘’dikuasai’’ itu tidak ada artinya apa-apa.

Kami tidak cukup ahli untuk memahami asal-usul lahirnya kata ‘’dikuasai’’ itu. Kami juga tidak cukup waktu untuk melakukan riset mengapa dan apa latar belakangnya bahwa para pendiri republik dulu memilih kata ‘’dikuasai’’ (yang tidak ada artinya apa-apa dari sudut akuntansi) dan bukan memilih kata ‘’dimiliki’’.

Mungkinkah ini hanya karena para pendiri republik dan para anggota parlemen yang melakukan amandemen-amandemen UUD 45 berikutnya bukan orang akuntansi. Atau memang punya maksud tertentu, misalnya agar segera terjadi kompromi atas perdebatan krusial saat itu.

Apa pun latar belakangnya, kenyataannya sekarang bahwa kata ‘’dikuasai’’ itu tidak ada nilainya apa-apa di mata akuntansi. Bahkan, secara politik juga menimbulkan kerawanan. Yang pro privatisasi akan berkeras bahwa kata ‘’dikuasai’’ tidak sama dengan dimiliki. Sedangkan yang antiprivatisasi akan mengatakan sebaliknya. Singkat cerita, kata ‘’dikuasai’’ itu akan cenderung diterjemahkan sesuai dengan keinginan yang lagi berkuasa ?dan itu tidak bisa disalahkan.

Apa hubungannya dengan Pertamina yang ingin menjadi perusahaan kelas dunia? Hubungan itu sangat erat, seperti eratnya hubungan nyawa dan jantung manusia. Kalau soal ‘’dikuasai’’ dan ‘’dimiliki’’ ini bisa diperjelas, bukan saja Pertamina yang akan menjadi perusahaan kelas dunia, tapi juga Aneka Tambang, PN Gas, PLN, PTP, dan banyak lagi. Mereka akan sejajar dengan perusahaan sejenis yang ada di Malaysia, bahkan Tiongkok. Perusahaan Singapura akan dengan mudah dikalahkan.

Namun, penjelasan ini memang hanya akan dimengerti oleh orang-orang yang menekuni perusahaan dan mengerti akuntansi. Sayangnya, yang harus memutuskan ‘’ya tidaknya’’ adalah politisi. Di sini terjadilah kerumitan itu: yang mengerti tidak bisa memutuskan, yang memutuskan tidak bisa mengerti.

Bahkan, kalau masalah ini bisa diselesaikan, bukan hanya perusahaan-perusahaan kita yang bisa menjadi perusahaan kelas dunia.

Dampaknya lebih jauh lagi: apa yang diamanatkan UUD 45 itu bisa segera terlaksana. Yakni, menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Siapa tahu inilah jalan yang harus ditempuh agar pada 2030 nanti, Indonesia bisa menjadi negara terbesar kelima di dunia, sebagaimana yang sudah mulai diramalkan para ahli internasional.

Tegasnya, kata ‘’dikuasai’’ dalam UUD 45 itu harus diperjelas maksudnya. MPR-lah yang bisa melakukannya. Ini sejarah besar yang harus dibuat. Apakah kata ‘’dikuasai’’ itu memang sengaja akan terus dipakai agar tetap tidak jelas, atau yang dimaksud ‘’dikuasai’’ itu tidak lain adalah ‘’dimiliki’’.

Memang terlalu berat untuk mengamandemen UUD 45 lagi. Sudah banyak yang alergi. Bahkan, jangan-jangan, kalau soal amandemen dibahas, banyak yang minta atret: kembali saja ke UUD 45 aslinya.

Karena itu, kami tidak mengusulkan amandemen UUD 45, tapi hanya mengusulkan perumusan baru penjelasan UUD 45 saja. Dalam penjelasan UUD 45 yang mengatakan, ‘’Sudah cukup jelas’’ itu perlu diperbaiki, atau diperjelas.

Ada dua hal yang harus diperjelas dari pasal ini. Pertama kata ‘’negara’’. Kedua kata ‘’dikuasai’’. Dalam penjelasan UUD 45 yang baru nanti sebaiknya dirinci apa yang dimaksud dengan ‘’negara’’. Apakah BUMN? Atau kementerian? Atau siapa? Kalau BUMN, harus BUMN yang bagaimana? Yang sahamnya minimal 80 persen dimiliki negara? Atau lebih? Terserahlah MPR yang memutuskan, dengan mempertimbangkan aspek ketentuan akuntansinya.

Sedangkan kata ‘’dikuasai’’ sebaiknya langsung diperjelas dengan penjelasan ‘’yang dimaksud dikuasai adalah dimiliki’’.

Dengan kejelasan itu, secara akuntansi, perusahaan seperti Pertamina akan langsung berubah. Apalagi, kalau manajemennya sekelas Karen yang pasti mampu mendayagunakan ‘’modal’’ baru dari UUD 45 yang penjelasannya diperbarui itu.

Kejelasan maksud pasal 33 tersebut menjadi sangat penting karena bukan hanya kita akan bisa menghindarkan salah tafsir, tapi juga bisa dipakai dengan nyata untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa dengan cara yang belum banyak dipikirkan orang. Bahkan, cara ini sekaligus bisa dipakai bangsa kita untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Pada gilirannya, harkat dan martabat bangsa kita akan terangkat di dunia. Bukan saja kita bisa mengalahkan Petronas atau Singapore Petroleum Corporation, tapi kita juga bisa membuat harga diri seluruh rakyat kita meningkat.

Harga diri itulah yang belakangan dimiliki kaum Melayu di Malaysia. Setiap kali kami ke Malaysia, saya selalu bisa menangkap betapa rakyat di sana bangga akan negaranya, sambil meremehkan bangsa kita. Sekarang kita memang sudah punya kebanggaan baru: demokrasi. Tapi, demokrasi harus tetap diisi dengan kesejahteraan.

Karena yang kami usulkan ini bukan amandemen tentang bagi-bagi atau rebutan kekuasaan, melainkan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara langsung, mestinya tidak ada satu pihak atau satu partai pun yang keberatan.***

Catatan Kaki :
Di samping sebagai chairman/CEO Jawa Pos Group, Dahlan Iskan adalah juga ketua Kadin Komite Tiongkok Jatim.
Di samping mengurus banyak sekali perusahaan, Peter F. Gontha adalah juga Ketua Kadin Komite Amerika Serikat

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (3-Habis)

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (3-Habis)
JUMAT, 03 APRIL 2009

Bernostalgia dengan Foto-foto Hitam Putih Bung Karno

Usai mandi, saya ingin turun ke lobi. Teman saya sudah menunggu di lobi Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini. Begitu keluar kamar, saya kembali terpikir bagaimana bisa membuat koridor ini lebih nyaman. Saya pun menyusuri koridor itu dengan perhatian penuh ke jendela-jendela tipuan yang terbuat dari kaca itu.

Sampai tiba di lift terdekat, tetap saja tidak keluar ide bagaimana membuat koridor itu terasa lebih lapang. Saya langsung masuk ke salah satu dari dua lift yang berjajar di situ. Lalu saya pencet tombol ”L” yang dugaan saya pasti singkatan dari lobby. Eh, ternyata bukan. Tiba di lantai itu saya tidak mendapatkan lobby.

Saya naik kembali ke lantai enam. Keluar dari lift saya perhatikan tanda-tanda, jangan-jangan saya salah memilih lift. Logika saya mestinya tidak salah. Semua orang, menurut akal sehat, tentu akan selalu mencari lift terdekat. Maka itulah lift terdekat. Jadi, akal saya sebenarnya masih sehat. Apalagi, tidak ada petunjuk sama sekali bahwa penghuni tidak boleh menggunakan lift terdekat itu.

Saya pun mencari-cari lift yang lain. Oh, di sebelahnya ada dua lift lagi yang juga berjajar. Saya pun masuk. Kali ini saya merasa pasti inilah lift yang benar. Ternyata saya salah lagi. Lift ini lift barang yang juga tidak bisa dipakai ke lobi. Sekali lagi saya tidak melihat tanda apa pun bahwa lift itu lift barang, kecuali dinding-dindingnya yang tahan benturan. Apalagi, saya juga baru melihat banyak orang keluar dari lift itu. Logika saya: ini bukan lift barang.

Saya pun naik lagi ke lantai 6. Barulah saya benar di langkah ketiga. Saya gunakan lift yang benar-benar benar. Di lokasi itu ternyata ada enam lift, berjajar dua-dua. Tidak ada petunjuk apa pun mana lift yang ke mana. Setelah bertanya, barulah saya tahu, jajaran lift terdekat tadi adalah lift untuk apartemen. Jajaran lift yang tengah untuk barang. Sedangkan jajaran yang satunya lagi barulah untuk penghuni hotel.

Besok paginya, ketika akan makan pagi, saya tidak salah lagi. Saya sudah bisa memilih lift dengan benar. Bukan karena sudah ada petunjuknya, melainkan karena saya selalu mengingat-ingatnya sejak sebelum tidur. Besok pagi saya tidak boleh salah lagi dalam memilih lift yang mana. Sampai-sampai terbawa ke mimpi. Saya ingat ketika menjadi anggota MPR dulu, pernah diinapkan di Hotel Indonesia. Rasanya waktu itu memang banyak sekali lift di situ. Rupanya lift-lift tersebut masih sama tempatnya, hanya kali ini dibeda-bedakan penggunaannya.

Pagi itu sebenarnya saya mengharapkan bisa makan pagi agak banyak. Maklum, harganya juga Rp350.000 per orang. Tapi, makanan yang ada sangat standar untuk ukuran hotel dengan tarif Rp2,5 juta semalam. Jadi, tidak banyak pilihan. Tidak apa-apa. Toh saya harus segera ke bandara menuju ke Balikpapan. Baik makanan maupun tata ruang coffee shop itu sangat biasa. Kecuali ada beberapa kursi yang ditata di luar ruang sehingga ada pilihan bagi orang yang mau udara bebas atau barangkali mau merokok. Tapi, karena kolam airnya belum selesai, kursi-kursi itu hanya menghadap plester-plester semen di sana-sini.

Oh, ada yang mengesankan. Ada tiga foto besar hitam putih yang menghiasi dinding coffee shop itu. Foto-foto itu pun bisa menimbulkan nostalgia yang jauh. Paling kiri ada foto Bung Karno dengan kegagahan uniform kepresidenannya dan tongkat komandonya. Bung Karno dalam foto itu lagi dalam posisi seperti berbisik kepada gadis cantik berambut pirang. Ya, semua orang tahu: dialah Marilyn Monroe. Bintang film simbol seks yang mati bunuh diri justru ketika masih seksi-seksinya.

Melihat foto itu kesan yang muncul adalah: siapa yang sebenarnya jago seks? Yang berbisik atau yang lagi mendengarkan?
Di bagian tengah barulah foto yang menimbulkan kesan bertemunya dua jagoan dunia: Bung Karno dan Kennedy.

Sayangnya, Kennedy mati tertembak tidak lama setelah itu dan presiden AS berikutnya tidak mau meneruskan komitmen Kennedy kepada Indonesia. Jadilah Bung Karno ”patah hati” dan berpaling ke Uni Soviet dan memusuhi Amerika. Lalu Amerika memusuhi Bung Karno dan kelak pada 1965 ikut menggulingkannya.

Foto yang paling kanan adalah Bung Karno dengan para penari cilik dari Bali. Tiga-tiganya menimbulkan kesan sendiri-sendiri yang sangat jauh.

Saya sempat berfoto di dekat situ. Itulah, bagi saya, bagian yang paling mengesankan dari hotel baru yang asal usulnya dibangun dengan harta pampasan perang dari Jepang itu. ***