Sunday, July 5, 2009

JPNN: Penularan, Bukan Pewarisan

Bagaimana Jawa Pos ke depan? Seperti otomatis, segala kemampuan manajemen yang selama 25 tahun ini saya terapkan di Jawa Pos sudah tertular dengan sendirinya kepada generasi baru. Bukan hanya di Jawa Pos, tapi juga ke seluruh grupnya. Sudah puluhan orang yang awalnya berkarir sebagai wartawan kini menjadi direktur utama atau direktur di anak-anak perusahaan grup Jawa Pos. Merekalah yang kini menularkan lagi semua itu kepada generasi yang lebih muda.

Puluhan orang itu, ratusan orang itu, kini sudah berkiprah di lingkungan apa yang kemudian kita dengar sebagai Jawa Pos News Network (JPNN).

Ini bukan soal waris-mewariskan, tapi soal tular-menularkan. Saya percaya entrepreneurship seperti itu tidak bisa diwariskan, tapi sangat bisa ditularkan.

Kalau kata "warisan" yang dipakai, tentu konotasinya pasif. Ada pihak yang mewariskan dan anak pihak yang sengaja diwarisi. Di sini seolah juga ada subjektivitas. Seolah pihak yang akan mewariskan mempunyai hak untuk menunjuk orang tertentu atau pihak tertentu yang harus menerima warisan itu.

Saya berkesimpulan entrepreneurship tidak bisa diwariskan seperti itu. Orang yang merasa bahwa entrepreneurship bisa diwariskan hanya akan menemukan warisannya berantakan. Tapi, saya percaya entrepreneurship sangat bisa ditularkan. Pewarisan dan penularan sangatlah tidak sama. Berbeda dengan warisan, dalam proses penularan harus ada unsur yang menulari dan unsur yang ditulari. Hasilnya belum tentu terjadi proses penularan. Mungkin bisa terjadi penularan, mungkin juga tidak.

Dalam proses waris-mewariskan terkesan bisa dilakukan secara mendadak, tiba-tiba, dan tanpa syarat. Dalam proses penularan tidak mungkin terjadi seperti itu. Harus ada proses yang panjang. Kadang sangat lama. Dalam proses ini bisa saja terjadi "penolakan" dari yang akan ditulari. Atau, orang yang akan ditulari ternyata sudah punya "kekebalan" tubuh sehingga meski dia sebenarnya sudah mau ditulari, penularan itu tidak sampai terjadi.

Bisa juga penularan itu gagal karena orang yang sedang ditulari tiba-tiba menjauh. Atau merasa bosan karena terlalu lamanya proses itu. Atau mendapat "suntikan" anti-penularan. "Suntikan" itu bisa berupa godaan finansial, bisa juga karena emosi. Misalnya, ketika tiba-tiba saja mendapat tawaran yang lebih menggiurkan di tempat lain.

Sebaliknya, yang akan menulari pun bisa-bisa berubah sikap. Misalnya, ternyata dia merasa bahwa pihak yang ditulari sangat "kebal virus".

Bahwa anak-anak pengusaha lebih banyak menjadi pengusaha, saya yakin bukan karena "darah" pengusahanya, tapi karena dalam keluarga pengusaha proses penularan itu bisa berlangsung lebih intensif dan lebih lama. Yang juga tidak kalah penting, dalam proses yang panjang itu sangat jarang terjadi "penolakan". Mungkin karena pada awalnya anak selalu takut kepada bapak -sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang bukan anak sendiri. Sedangkan yang bukan anak-bapak akan punya perasaan lebih mandiri dari perasaan takut itu.

Kalau soal darah ini benar, tentu tidak akan ada anak pengusaha yang gagal menjadi pengusaha. Tapi, kenyataannya, begitu banyak kegagalan itu. Maka, meski ada hubungan anak-bapak, tetap saja ada kemungkinan terjadinya "penolakan" akan "virus" kepengusahaan itu.

Dalam proses waris-mewaris, bisa saja setelah terjadi peristiwa pewarisan, hubungan antara keduanya terputus. Tapi, dalam proses tular-menulari hubungan itu tidak akan pernah putus. Dia akan abadi sampai mati.

Kadang saya merenungkan apakah angkatan setelah saya bisa membuat proses tular-menulari ini berlangsung kepada generasi yang lebih muda. Saya pun lega. Saya melihat rasanya hal itu masih terus terjadi. Saya lihat ratusan anak muda yang awal karirnya juga wartawan kini sangat tertarik ke bidang bisnis di grup Jawa Pos. Setiap bertemu mereka saya tidak perlu lagi menulari. Saya lihat mereka sudah tertulari dengan sendirinya.

Setiap bertemu generasi baru yang hebat-hebat itu, yang umurnya 30-36 tahun itu, biasanya saya hanya mengatakan ini:

Kalian ini sudah akan bisa jadi apa saja. Karir yang lebih hebat sudah terbuka luas. Kemungkinan jadi pengusaha besar sudah di depan mata. Ujian-ujian yang terpenting sudah Anda lewati dengan sukses. Misalnya, ujian tentang membuat produk yang kompetitif, ujian memasarkan produk, ujian kejujuran di bidang keuangan, ujian berhemat, ujian membuat segala aspek perusahaan menjadi income center, dan bahkan ujian bagaimana mengelola konflik.

Dalam posisi Anda seperti itu, tinggal tiga hambatan saja yang akan bisa menghalangi Anda jadi orang besar. Dari tiga hambatan itu, dua datang dari dirinya sendiri. Yang ketiga merupakan suratan takdir.

Dua yang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah: pertama, tergoda di bidang keuangan. Kedua, tergoda di bidang cinta hubungan wanita-pria.

Terlalu banyak kasus seseorang yang sudah lama teruji kejujurannya, suatu saat terpeleset juga di bidang keuangan. Istri sering juga menjadi penyebab datangnya godaan di bidang ini. Tapi, yang lebih sering adalah berubahnya gaya hidup. Tidak sedikit seseorang yang naik pangkat atau naik jabatan gaya hidupnya berubah drastis. Lama-lama penghasilannya tidak mencukupi untuk menopang gaya hidupnya yang baru. Lalu mulai terpikir untuk menyalahgunakan uang, atau paling sedikit main komisi.

Kalau sudah menyangkut uang, biarpun nilainya tidak berarti, tidak ada ampun lagi: harus diberhentikan! Ini sudah menyangkut persoalan yang paling hakiki dalam kehidupan sebuah perusahaan. Keuangan adalah "ummul-kitab"-nya perusahaan.

Bagaimana godaan wanita? Saya tidak pernah melarang teman-teman untuk tergoda. Namanya saja tergoda, kadang tidak direncanakan. Bahkan, kadang datang mendadak begitu saja. Apalagi kalau dasarnya benar-benar cinta. Saya sendiri pernah mengalaminya. Rasanya tidak ada gunanya untuk menasihati orang lain untuk "jangan pernah tergoda". Sebab, soal tergoda ini lebih sering bukan karena keinginan. Lebih sering karena naluri alamiah atau kemanusiaan. Atau apalah! Bahkan, saya pernah merenungkan, jangan-jangan ini juga bagian dari takdir. Bukankah cinta itu ciptaan Tuhan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan?

Maka yang sering saya kemukakan kepada mereka adalah: seandainya suatu saat godaan itu terjadi, yang terpenting adalah bagaimana harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Orang boleh tergoda, tapi harus tahu bagaimana menyelesaikannya. Kadang diri sendiri sulit sekali menyadari itu. Menyadari saja sulit, apalagi menyelesaikannya. Kadang memang harus ada orang lain yang diminta membantu menyelesaikannya.

Saya sering mengatakan bahwa kemampuan menyelesaikan godaan itu juga bagian dari kemampuan manajemen. Bukankah kalau tidak lulus dalam menyelesaian godaan ini, berarti kemampuan manajemennya juga harus diragukan?

Faktor ketiga yang bisa menghalangi orang menuju puncak adalah takdir. Yakni, kalau tiba-tiba orang ditakdirkan sakit, atau kecelakaan mendadak. Meski tidak sampai mati, sakit yang fatal atau kecelakaan lalu lintas adalah bagian yang harus diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Orang kalau sudah terkena sakit parah, sesemangat-semangat apa pun harus segera "tahu diri". Sebaiknya harus segera konsentrasi pada bagaimana mengusahakan untuk sembuh. Bukan ketika sakit masih memikirkan ambisi-ambisi yang besar. Saya sendiri ketika tiba-tiba diketahui sakit kanker liver empat tahun lalu, saya langsung sumeleh: saya berserah diri. Kalau memang sudah tiba saatnya saya harus mengakhiri segala bentuk pengabdian di dunia ini, saya terima dengan sepenuh hati. Orang ada batasnya. Barangkali batas saya sampai di situ. Lalu saya konsentrasi bagaimana untuk sembuh. Bukan agar bisa terus mengejar ambisi, tapi agar bisa kembali sehat saja. Sikap seperti itu menurut pendapat saya justru membuat pikiran lebih longgar. Dan, dengan pikiran longgar sakit pun tidak semakin parah.

Untuk sukses ternyata memang tidak gampang. Pintar saja tidak cukup. Juga tidak bisa hanya karena mewarisi. Harus terjadi proses penularan yang intensif. Dalam waktu yang panjang. Setelah tertular pun masih harus lolos dari tiga hal di atas. Padahal, banyak juga kasus proses penularan belum terjadi, sudah terkena salah satu dari ketiganya dan tidak ada jalan keluarnya.

Saya bersyukur, dulu Ciputra menularkannya dengan sukses kepada Eric Samola yang kebetulan bersedia ditulari. Lalu Samola menularkannya kepada saya dan saya juga menyiapkan diri untuk ditulari. Lebih bersyukur lagi, saya pun giliran punya kesempatan yang cukup untuk menularkan entrepreneurship kepada puluhan orang --dan puluhan orang itu menularkannya kepada ratusan orang.

Eric Samola di akhir hayatnya masih sempat melihat hasil penularan ke-entrepreneur-annya kepada saya. Dan dia kelihatan bangga.

Saya tahu orang seperti Ciputra juga masih mengamati saya dari dekat karena dia diberi umur sangat panjang sampai sekarang. Tapi, saya tidak pernah bertanya apakah saya menjadi orang seperti yang dia harapkan. Saya tentu sering bertemu Ciputra. Tapi, soal itu akan saya biarkan menjadi pertanyaan yang tidak akan pernah saya dengar jawabnya. (*)

0 comments:

Post a Comment