Tuesday, April 14, 2009

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (2)

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (2)
SENIN, 14 APRIL 2009



Mati Bersekongkol Lebih Baik daripada Mati Lapar

Kemiskinan yang berkarat mendorong 18 petani di Desa Xiao Gang berani melawan sistem pertanian komunis. Perlawanannya sangat cerdik lewat istilah yang dirumuskan dengan cermat. Berikut catatan lanjutan Chairman/CEO Jawa Pos Dahlan Iskan dari hasil kunjungannya ke sana.

---

SEKARANG semua petani di Tiongkok tidak perlu membayar pajak apa pun. Termasuk pajak bumi dan bangunan yang kalau di Indonesia disebut PBB. Bahkan, petani di sana kini menerima BLT (bantuan langsung tunai) yang dikirim langsung ke ATM mereka. Petani punya ATM? Begitulah di Tiongkok. Dalam 10 tahun terakhir penggunaan teknologi, mulai handphone, internet, TV kabel sampai GPS mendadak sangat meluas. Sudah sampai ke tingkat petani. Termasuk sistem listrik prabayar.

Semua itu tidak bisa dilepaskan dari jasa 18 petani miskin dari Desa Xiao Gang, Provinsi Anhui, ini.

Xiao Gang sebenarnya hanya sebuah desa yang amat kecil. Kalau desa-desa di Tiongkok terkenal miskin, Xiao Gang termasuk yang paling miskin. Waktu itu penduduknya hanya 20 KK. Hanya ada satu jalan di kampung itu. Rumah-rumah petaninya teronggok di kiri kanan jalan itu.

Jauhnya perjalanan saya ke Desa Xiao Gang membuat saya membayangkan bagaimana keadaan desa ini 30 tahun lalu. Yakni, saat 18 petani di sana membubuhkan cap jempol rahasia yang sangat berbahaya. Dua kepala keluarga yang lain tidak ikut cap jempol karena sudah lama berkelana menjadi pengemis.

Saya jadi tahu betapa terpencil dan terisolasinya desa ini. Jalan menuju ke sana pun berupa jalan tanah. Rumah-rumah mereka semuanya beratap daun dengan tembok tanah yang dicampur kulit padi. Lantai rumah mereka juga tanah (lihat foto yang dimuat kemarin).

Penduduk desa itu, sebagaimana umumnya petani di Tiongkok waktu itu, sudah dalam keadaan sekarat kurang makan. Mereka sudah sampai pada tingkat hanya bisa makan daun apa pun yang direbus. Bumbunya hanya satu: garam. Nasinya adalah batang pohon yang dilembutkan. Kalau musim dingin, ketika daun pun tidak ada, mereka pergi ke daerah lain untuk menjadi pengemis. Sudah sangat terkenal bahwa Provinsi Anhui adalah sumber pengemis. Sekarang pun masih ada satu-dua pengemis di kota-kota di Tiongkok, dan umumnya juga dari Anhui ini.

Anhui memang terkenal miskin. Sering kekeringan di daerah pegunungannya dan kebanjiran di dataran rendahnya. Pelosok Desa Xiao Gang adalah salah satu yang termiskin dari yang miskin itu. Kalaupun yang 18 orang itu kemudian berani membuat persekongkolan rahasia yang membahayakan nyawa mereka, itu adalah jalan yang sudah amat terpaksa. Daripada mati kelaparan. ''Sekarang tentu sulit membayangkan bagaimana rasanya kelaparan. Ketika itu seperti tidak ada gambaran untuk hidup. Sama-sama akhirnya harus mati, mencari cara lain untuk mati masih lebih baik,'' ujar Yan Hongchang, tokoh di desa itu.

Karena itu, Yan, yang juga sudah menyuruh anaknya mengemis di daerah lain, setiap malam mendatangi tetangganya. Kegiatan itu harus dilakukan malam hari untuk menghindari intaian mata-mata penguasa. Sebagai orang yang pendidikannya terbaik di desa itu (dia tamatan SMP), Yan sudah bisa menganalisis mengapa semua orang terancam mati kelaparan. (Data di kemudian hari menunjukkan di Kecamatan Fengyang saja yang terancam mati kelaparan mencapai 90.000 orang. Xiao Gang adalah salah satu desa di Kecamatan Fengyang).

Menurut analisis Yan, kelaparan masal itu bersumber dari kebijaksanaan pemerintah pusat mengenai sistem pertanian komunis (pertanian komunal). Yakni, sejak menjelang 1960-an ketika semua tanah harus dimiliki negara. Sejak itu petani harus menyerahkan semua tanahnya ke negara. Batas-batas tanah pun dihilangkan. Mereka memang tetap bekerja di sawah, namun sistem kerjanya komunal. Sebidang tanah dikerjakan bersama yang hasilnya harus sepenuhnya diserahkan kepada negara. Negaralah yang kemudian memberikan jatah makanan kepada rakyatnya. Jatah makanan ini tidak cukup. Petani, seperti di Xiao Gang itu, sudah menderita luar biasa hampir 20 tahun.

Meski begitu, harapan untuk membaik tidak pernah datang. Kian tahun hasil pertanian masih kian merosot. Orang-orang kaya mulai menjual perabot yang bisa mereka jual. Lama-lama perabot pun habis dan mereka jatuh miskin. Yang miskin hanya bisa menjual anak mereka. Tapi, setiap anak hanya bisa dijual sekali. Padahal, makan harus dilakukan setiap hari.

Sistem komunal ternyata membuat petani tidak produktif. Tidak ada semangat untuk menghasilkan panen yang setinggi-tingginya. Yan Hongchang sudah sampai pada kesimpulan itu. Tapi, semua orang di Tiongkok dalam keadaan takut dan tidak berdaya. Sistem pemerintahan ketika itu membuat siapa pun yang menentang kebijaksanaan pemerintah akan dianggap ''setan desa'' yang harus dibasmi. Memupuk kekayaan adalah kapitalisme yang dianggap sebagai pengisap darah petani.

Tiap malam Yan menyampaikan analisisnya itu kepada para tetangga. Dia tahu risikonya yang berat. Apalagi kalau sampai ada satu orang saja di desa itu yang menjadi kaki tangan pihak penguasa. Pasti Yan sudah dilaporkan sebagai orang yang melakukan subversi. Untungnya, mayoritas penduduk di situ masih memiliki hubungan keluarga. Lebih separo bermarga Yan.

Tapi, tidak ada pilihan bagi Yan. Ancaman mati kelaparan terlihat di mana-mana. Semua orang dalam keadaan kurus, lunglai, dan kekurangan gizi. Demikian juga seluruh penduduk Desa Xiao Gang. Kenyataan itulah yang membuat Yan meneguhkan diri untuk mengambil risiko.

Namun, Yan sungguh orang yang bijaksana. Dia mencari istilah yang kelihatannya tidak menentang kebijaksanaan negara, tapi sebenarnya menentang juga. Yan ingin tanah di situ dibagi-bagi menjadi 20 petak dan masing-masing KK bertanggung jawab atas petak ''milik''-nya. Masing-masing juga harus bertanggung jawab menyerahkan hasil panen sesuai dengan target negara, lalu dikumpulkan seolah-olah sebagai hasil komunal. Yan menginginkan hasil panen jauh di atas target itu sehingga masing-masing masih bisa memperoleh kelebihan dari target negara untuk diambil sendiri.

Karena ketentuan yang ada mengharuskan petani menyerahkan semua hasil ke negara, sangat sulit menemukan cara untuk menghindarinya. Karena itu, semua petani di situ harus sepakat menjaga rahasia bahwa hasil panen mereka sebenarnya melebihi target. Ada satu orang saja yang berkhianat, tamatlah riwayat gerakan itu.

Semula saya heran mengapa perjanjian rahasia itu bisa tidak bocor. Bukankah sistem mata-mata waktu itu sangat kuat mengawasi segala gerak-gerik penduduk? Termasuk penduduk di desa sekali pun? Bagaimana mereka bisa menjaga rahasia itu? Setelah saya ke Xiao Gang, barulah saya tahu. Pertama, mayoritas mereka masih ada hubungan keluarga. Kedua, desa ini benar-benar terpencil. Sebuah kampung kecil dengan hanya 20 rumah reot yang berada di tengah-tengah lautan sawah.

Akhirnya Yan berhasil menemukan satu istilah yang unik. Gerakannya itu akan dia beri nama da bao gan (.........). Istilah da bao gan saya nilai unik karena bisa memiliki multitafsir. Lalu Yan berusaha meyakinkan para tetangganya bahwa dengan istilah da bao gan kemungkinan besar bisa selamat. Maka, pada puncak musim dingin akhir Desember 1978, mereka menyepakati sebuah perjanjian rahasia itu.

Sebenarnya sulit menjelaskan istilah da bao gan dalam bahasa Indonesia. Tidak bisa diterjemahkan dengan gotong royong, juga tidak bisa diartikan borongan.

Intinya adalah: mereka akan menggarap bersama-sama sawah itu untuk memenuhi kewajiban bersama. "Menggarap bersama-sama" adalah istilah yang aman di mata penguasa. Orang bisa menilai menggarap bersama-sama adalah sama dengan komunal. Tapi, petani sendiri bisa saja menafsirkan dengan "menggarap bersama-sama di kavlingnya sendiri-sendiri". Demikian juga istilah "memenuhi kebutuhan bersama". Istilah ini sangat aman di mata penguasa. Artinya, kebutuhan target penguasa pasti terpenuhi. Padahal, petani juga boleh menafsirkan "kebutuhan bersama itu termasuk kebutuhan petani sendiri yang juga harus dipenuhi".

Istilah bao gan, semua orang yang bisa berbahasa Mandarin pasti tahu: artinya borongan. Tapi, da bao gan terasa aneh. Arti letter lijk-nya adalah: borongan besar. Tapi, tidak pernah ada istilah seperti itu sebelumnya. Yan Hongchang dari Xiao Ganglah yang menciptakannya. Kelak, setelah ide penduduk Xiao Gang itu diterima oleh negara dan menjadi kebijaksanaan nasional, istilah da bao gan menjadi amat populer. Di mana-mana orang bicara hebatnya da bao gan. Bahkan, ada lagu da bao gan segala.

Orang Tiongkok memang pandai menciptakan istilah yang bisa membuat persoalan rumit menjadi mudah. Ketika Hongkong harus masuk ke Tiongkok, mestinya juga sulit. Yang satu (Tiongkok) komunis dan yang satunya (Hongkong) demokrasi penuh. Bagaimana dua wilayah yang bertolak belakang ideologinya itu bisa jadi satu negara. Di negara lain persoalan ideologi demikian bisa menjadi ketegangan yang gawat. Tapi, Tiongkok memecahkan persoalan rumit itu dengan menciptakan istilah baru: satu negara dua sistem. Beres.

Demikian juga ketika tahun lalu para pimpinan Tiongkok harus bertemu para pimpinan Taiwan. Apa dong nama pertemuan itu. Pertemuan pimpinan dua negara? Pasti Tiongkok marah. Sebab, Taiwan masih tetap dianggap salah satu provinsinya. Ini harga mati. Tapi, kalau disebut pertemuan pusat-daerah, Taiwan pasti marah. Taiwan merasa sudah menjadi negara sendiri.

Ternyata pertemuan itu bisa berlangsung dengan sangat sukses, tanpa menyebut Taiwan itu negara atau provinsi. Pertemuan itu diberi nama dengan sangat unik: liang bian (.......). Dua pantai. Artinya, pertemuan itu adalah pertemuan para pimpinan dari dua pantai. Maklum, dua wilayah ini sama-sama punya pantai yang saling berhadapan. Dengan menyebut istilah dua pantai, terhindarlah penyebutan Taiwan itu negara atau provinsi.

Begitu seringnya saya menyaksikan fleksibilitas seperti itu, saya tertawa ketika belum lama ini membaca perdebatan di koran Surabaya: sepeda motor akan boleh melintasi jembatan Madura atau tidak?

Ada yang beralasan bahwa sebaiknya sepeda motor dilarang melewati jembatan yang hampir jadi itu karena status jembatan Madura adalah tol. Orang itu sama sekali tidak mengemukakan alasan yang ilmiah. Alasan yang dikemukakan hanyalah: UU mengatakan sepeda motor dilarang lewat jalan tol. Kalau memang mau, UU-nya harus diubah dulu. Atau jembatannya yang jangan dijadikan jembatan tol.

Saya tertegun: betapa rumitnya negeri ini. Untuk membuat sepeda motor boleh lewat jembatan saja tidak bisa menemukan jalannya! Maka, kalau saja nanti pemda tidak bisa menemukan istilah yang bisa membuat sepeda motor boleh lewat jembatan Madura, saya akan memberikan anjuran ini: agar semua sepeda motor ditambahi dua roda (roda pura-pura juga boleh) agar kendaraan itu bisa disebut roda empat sesuai dengan undang-undang jalan tol. (bersambung)

Monday, April 13, 2009

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (1)

Ke Xiao Gang, Desa Pelopor Kemakmuran Petani Tiongkok (1)
on Catatan Dahlan Iskan
SENIN, 13 APRIL 2009

Bisnis GPS Ambil Alih Tugas Joki Pemandu Tol

Setelah 30 tahun berlalu, Xiao Gang, desa tempat lahir reformasi pedesaan yang mengubah sejarah Tiongkok, termasuk belasan petani penggagasnya, masih menjadi inspirator pesatnya kemajuan petani dan modernisasi pertanian di Tiongkok. Inilah catatan Chairman/CEO Jawa Pos DAHLAN ISKAN yang baru kembali dari sana.

Inilah perjalanan menuju Xiao Gang, sebuah desa terpencil yang telah diakui sebagai pelopor kemakmuran petani di seluruh Tiongkok sekarang ini. Di desa inilah pernah terjadi 18 orang penduduknya, di tengah malam yang sunyi, di sebuah kamar yang tersembunyi, membubuhkan cap jempol untuk melawan sistem nasional yang berlaku saat itu dengan taruhan nyawa mereka. Berkat keberanian petani itulah, sistem kepemilikan sawah di seluruh Tiongkok akhirnya dirombak total.

Meski nama mereka kini menjadi buah bibir di seluruh negeri, mereka masih tetap tinggal di desa itu. Kecuali empat orang yang sudah meninggal dunia. Saya begitu ingin menemui mereka untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi malam itu.

Maka, meski harus saya tempuh dengan perjalanan darat selama enam jam (dari Hangzhou), saya senang bisa sampai di sana. Kunjungan ini merupakan keinginan lama yang selalu tertunda. Mula-mula karena tidak mudah menuju ke sana. Apalagi ketika belum ada jalan tol. Jarak itu sama dengan dari Surabaya ke Bandung. Setelah ada jalan tol, ganti saya yang sakit. Maka, ketika Senin lalu saya harus rapat di Hangzhou dan Shanghai, di antara hari kejepit itu saya manfaatkan untuk ke Xiao Gang.

Sebenarnya bisa saja dari Hangzhou saya naik pesawat dulu ke Nanjing (ibu kota Provinsi Jiangshu) atau ke Hefei (ibu kota Provinsi Anhui). Baru dari sini jalan darat ke desa itu selama dua jam. Namun, kalau ditotal-total, sama saja. Menuju airport dan menunggu pesawatnya juga memakan waktu. Toh, saya sudah mulai terbiasa jalan darat jarak jauh di Tiongkok. Sejak jaringan jalan tol telah meluas di sana, ke mana-mana rasanya sangat mudah.

Apalagi, di sepanjang perjalanan saya tetap bisa membicarakan banyak hal dengan teman-teman di sana. Mulai soal rencana pembangunan tahap II PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) di Kaltim hingga soal bagaimana mempercepat penyelesaian PLTU di Lampung. Yang terakhir itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan saya. Namun, saya diminta ikut memperlancar urusan ruwet mereka dengan pihak di Tiongkok.

Di sepanjang jalan tol, membaca berbagai dokumen (yang tercetak maupun di laptop) juga tidak ada masalah. Jalan yang relatif lurus dan rata membuat tubuh tidak bergoyang-goyang. Sambil membaca pun tidak membuat kepala pusing. Demikian juga, meski kami belum pernah menempuh jalur tersebut, tidak perlu khawatir kesasar. Kini sudah ada GPS (global positioning system) di sana, sebagaimana yang sudah agak lama digunakan di AS atau Eropa.

Bahkan, daya serap GPS di Tiongkok langsung melebihi apa yang terjadi di negara maju. Begitu masuk pasar tiga tahun lalu, populasi pengguna GPS langsung meluas. Membeli GPS di Tiongkok bukan hanya karena fungsinya, melainkan sudah seperti mode. Sudah seperti membeli handphone.

Memang, mobil-mobil baru sudah banyak yang sekalian dilengkapi layar GPS. Namun, mereka yang telanjur punya mobil pun bisa membeli GPS sendiri. Tinggal memasang tumpuan di dashboard, lalu meletakkan layar GPS di situ. Toh, barangnya tidak besar. Hanya layar tipis sebesar setengah buku tulis. Layar itulah yang menerima peta dari satelit mengenai jalur perjalanan kita hari itu.

Agar sopir tidak perlu selalu melihat GPS, salah seorang di antara kami menjadi co-pilot: mencopot GPS itu dan memegangnya secara gantian. Sebenarnya juga tidak perlu dipegang. Ditaruh begitu saja juga tidak apa-apa. Toh, di samping menampilkan jalur-jalur jalan, alat ini juga bersuara: selalu memberi tahu kita apa saja yang segera kita lewati. Misalnya, 500 meter lagi akan ada jembatan (lengkap menyebut nama jembatan itu), 1 kilometer lagi akan ada jalan bercabang dan Anda harus belok ke kanan. Sesekali suara itu seperti menegur kita: Anda telah melebihi kecepatan yang diperbolehkan. Suara itu bisa dikeraskan (kalau mau) sampai seluruh penumpang bisa mendengar jelas. Tentu dalam bahasa Mandarin.

Sebelum berangkat, sopir kami memang sudah men-set-up alat itu: mau pergi ke mana. Di situ ada tombol-tombol pilihan: provinsi apa, kota apa, jalan apa, dan mau ke bangunan nomor berapa. Setelah itu, secara otomatis, jalan-jalan yang akan dilewati berwarna merah. Kita tinggal menuruti saja jalur merah itu. Maka, biarpun di depan ada persimpangan yang banyak, atau interchange yang ruwet, tidak perlu takut salah arah. Alat ini juga memberi tahu masih berapa kilometer jarak tempuh kita dan masih perlu berapa menit atau jam lagi. Perkiraan waktu tersebut tentu disesuaikan dengan kecepatan saat itu.

Tidak disangka bahwa pengembangan jalan tol di Tiongkok telah menimbulkan bisnis yang semula tidak masuk perencanaan: mode menggunakan GPS.

Saya masih ingat ketika Tiongkok baru mulai memiliki jalan tol (Indonesia sebenarnya lebih dulu punya jalan tol di Jagorawi). Saya melihat waktu itu tiba-tiba saja ada wabah baru: bepergian ke kota lain dengan mobil sendiri. Tentu ada problem baru: banyak sekali mobil yang kesasar. Maklum belum mengenal jalur-jalur di kota lain itu. Banyaknya kasus salah jalan itu ternyata bukan saja membuat penjualan buku peta meledak, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru: profesi penunjuk jalan. Saya selalu melihat di setiap mulut jalan tol berjajar orang-orang yang menawarkan jasa sebagai penunjuk jalan. Mereka memegang tulisan berbahasa Mandarin ''pemandu jalan''. Seperti joki di Jakarta, tapi dengan tugas yang benar-benar fungsional.

Banyaknya penjual jasa di mulut-mulut jalan tol itu rupanya dilihat sebagai peluang baru oleh pihak lain. Terutama oleh perusahaan komunikasi dan penerbit peta. Dua pihak itu berkolaborasi menciptakan GPS. Harganya Rp 700.000 hingga Rp 5.000.000, bergantung mutunya.

Merasakan begitu jauhnya perjalanan ini, saya bayangkan betapa terpencilnya Desa Xiao Gang sebelum jaringan jalan tol dibuat. Juga betapa sulitnya mencapai desa itu. Pasti jalannya sempit, padat, dan berbelok-belok. Banyak sekali gunung, sungai, dan danau. Dengan jalan tol, semua itu diterabas. Gunung ditembus, sungai besar seperti Yang Tze (Chang Jiang), danau sebesar Dai Hu dilompati. Tentu kami juga lapar. Karena itu, sekali waktu kami keluar jalan tol masuk ke kota Nanjing untuk makan siang. Ketika kami berbelok ke arah kota, tiba-tiba ada suara melengking: Anda salah jalan. Rupanya itu suara GPS. Kami memang lupa men-set-up kalau di tengah jalan harus mampir untuk makan.

Saya benar-benar membayangkan betapa terpencilnya desa itu. Saya juga membayangkan bagaimana para petani di desa yang begitu terpelosok berani berinisiatif untuk melakukan perubahan yang kemudian diakui sangat menentukan arah negara. Mereka bukan saja berani, tapi juga sangat bijaksana: tidak demo, tidak mengamuk, tidak ngambek, tapi juga tidak menyerah. Mereka melakukan sesuatu yang amat mendasar: da bao gan! (bersambung)

Thursday, April 9, 2009

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina "CATATAN DAHLAN ISKAN DAN PETER F GONTHA"

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina
on Catatan Dahlan Iskan dan Peter.F. Gontha
JUMAT, 13 PEBRUARI 2009

Jalan Cepat Kelas Dunia untuk Pertamina
          Cita-cita direktur utama Pertamina yang baru dan cantik itu, Karen Agustiawan Galaila, antara lain ingin membuat Pertamina menjadi perusahaan kelas dunia. Mungkinkah? Semua orang akan mengatakan ‘’mungkin saja’’ atau ‘’sangat mungkin’’ atau bahkan ‘’harus bisa’’. Tapi, kalau ditanya apa dasarnya, paling hanya akan menyebutkan bahwa Indonesia ini negara besar yang sumber Migasnya luar biasa.

Atau, ‘’Petronas Malaysia saja yang dulu belajar ke Pertamina kini sudah mengalahkan gurunya itu dan sudah menjadi perusahaan kelas dunia’’. Bahkan, Singapore Petroleum yang negerinya hanya satu pulau kecil yang tidak punya sumur minyak, sudah mengalahkan Pertamina.

Semua bentuk kekalahan Pertamina itu umumnya hanya dipikulkan kepada manajemen yang dinilai lemah dan belum kelas dunia. Atau karena manajemennya yang sering diintervensi kekuatan politik.

Tapi, jarang yang melihatnya dari sudut yang lebih mendasar, yang kalau itu tidak diatasi, maka jangankan manajemen kelas dunia, yang kelas akhirat pun tidak akan bisa membuat cita-cita Karen itu tercapai.

Pokok persoalannya sangat mendasar. Bahkan, berada di landasan negara yang paling dasar: UUD 45. Khususnya pasal 33 ayat (3) yang menyebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kalau tidak ingin mempersoalkan ayat itu, setidak-tidaknya ada masalah yang terletak pada penjelasan pasal 33 ayat (3) itu yang hanya menyebutkan bahwa pasal tersebut ‘’Sudah cukup jelas’’.

Mungkin, ketika ekonomi global belum sehebat sekarang dan sistem akuntansi belum secanggih saat ini, bunyi pasal itu memang bisa saja ‘’Sudah cukup jelas’’. Tapi, dalam konteks perekonomian global saat ini, apalagi kalau untuk menjadi yang kelas dunia, kita juga harus menerapkan sistem akuntansi internasional. Maka pasal itu sangat tidak jelas.

Orang politik akan mengatakan apanya lagi yang kurang jelas. Tapi, orang akuntansi akan secara tegas mengatakan pasal itu tidak bisa dipegang.

Padahal, untuk menjadi perusahaan kelas dunia, pengurusannya harus disesuaikan dengan ‘’bahasa’’ akuntansi, bukan dengan bahasa politik.

Tegasnya, secara akuntansi kalau hanya dengan senjata kata ‘’dikuasai’’ Pertamina tidak bisa memasukkan kekayaan alam itu di buku aset. Bahasa akuntansi menuntut kata yang jelas: dimiliki. ‘’Dikuasai’’ dan ‘’dimiliki’’ secara politik kelihatannya tidak ada bedanya, tapi secara akuntansi kata ‘’dikuasai’’ itu tidak ada artinya apa-apa.

Kami tidak cukup ahli untuk memahami asal-usul lahirnya kata ‘’dikuasai’’ itu. Kami juga tidak cukup waktu untuk melakukan riset mengapa dan apa latar belakangnya bahwa para pendiri republik dulu memilih kata ‘’dikuasai’’ (yang tidak ada artinya apa-apa dari sudut akuntansi) dan bukan memilih kata ‘’dimiliki’’.

Mungkinkah ini hanya karena para pendiri republik dan para anggota parlemen yang melakukan amandemen-amandemen UUD 45 berikutnya bukan orang akuntansi. Atau memang punya maksud tertentu, misalnya agar segera terjadi kompromi atas perdebatan krusial saat itu.

Apa pun latar belakangnya, kenyataannya sekarang bahwa kata ‘’dikuasai’’ itu tidak ada nilainya apa-apa di mata akuntansi. Bahkan, secara politik juga menimbulkan kerawanan. Yang pro privatisasi akan berkeras bahwa kata ‘’dikuasai’’ tidak sama dengan dimiliki. Sedangkan yang antiprivatisasi akan mengatakan sebaliknya. Singkat cerita, kata ‘’dikuasai’’ itu akan cenderung diterjemahkan sesuai dengan keinginan yang lagi berkuasa ?dan itu tidak bisa disalahkan.

Apa hubungannya dengan Pertamina yang ingin menjadi perusahaan kelas dunia? Hubungan itu sangat erat, seperti eratnya hubungan nyawa dan jantung manusia. Kalau soal ‘’dikuasai’’ dan ‘’dimiliki’’ ini bisa diperjelas, bukan saja Pertamina yang akan menjadi perusahaan kelas dunia, tapi juga Aneka Tambang, PN Gas, PLN, PTP, dan banyak lagi. Mereka akan sejajar dengan perusahaan sejenis yang ada di Malaysia, bahkan Tiongkok. Perusahaan Singapura akan dengan mudah dikalahkan.

Namun, penjelasan ini memang hanya akan dimengerti oleh orang-orang yang menekuni perusahaan dan mengerti akuntansi. Sayangnya, yang harus memutuskan ‘’ya tidaknya’’ adalah politisi. Di sini terjadilah kerumitan itu: yang mengerti tidak bisa memutuskan, yang memutuskan tidak bisa mengerti.

Bahkan, kalau masalah ini bisa diselesaikan, bukan hanya perusahaan-perusahaan kita yang bisa menjadi perusahaan kelas dunia.

Dampaknya lebih jauh lagi: apa yang diamanatkan UUD 45 itu bisa segera terlaksana. Yakni, menggunakan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Siapa tahu inilah jalan yang harus ditempuh agar pada 2030 nanti, Indonesia bisa menjadi negara terbesar kelima di dunia, sebagaimana yang sudah mulai diramalkan para ahli internasional.

Tegasnya, kata ‘’dikuasai’’ dalam UUD 45 itu harus diperjelas maksudnya. MPR-lah yang bisa melakukannya. Ini sejarah besar yang harus dibuat. Apakah kata ‘’dikuasai’’ itu memang sengaja akan terus dipakai agar tetap tidak jelas, atau yang dimaksud ‘’dikuasai’’ itu tidak lain adalah ‘’dimiliki’’.

Memang terlalu berat untuk mengamandemen UUD 45 lagi. Sudah banyak yang alergi. Bahkan, jangan-jangan, kalau soal amandemen dibahas, banyak yang minta atret: kembali saja ke UUD 45 aslinya.

Karena itu, kami tidak mengusulkan amandemen UUD 45, tapi hanya mengusulkan perumusan baru penjelasan UUD 45 saja. Dalam penjelasan UUD 45 yang mengatakan, ‘’Sudah cukup jelas’’ itu perlu diperbaiki, atau diperjelas.

Ada dua hal yang harus diperjelas dari pasal ini. Pertama kata ‘’negara’’. Kedua kata ‘’dikuasai’’. Dalam penjelasan UUD 45 yang baru nanti sebaiknya dirinci apa yang dimaksud dengan ‘’negara’’. Apakah BUMN? Atau kementerian? Atau siapa? Kalau BUMN, harus BUMN yang bagaimana? Yang sahamnya minimal 80 persen dimiliki negara? Atau lebih? Terserahlah MPR yang memutuskan, dengan mempertimbangkan aspek ketentuan akuntansinya.

Sedangkan kata ‘’dikuasai’’ sebaiknya langsung diperjelas dengan penjelasan ‘’yang dimaksud dikuasai adalah dimiliki’’.

Dengan kejelasan itu, secara akuntansi, perusahaan seperti Pertamina akan langsung berubah. Apalagi, kalau manajemennya sekelas Karen yang pasti mampu mendayagunakan ‘’modal’’ baru dari UUD 45 yang penjelasannya diperbarui itu.

Kejelasan maksud pasal 33 tersebut menjadi sangat penting karena bukan hanya kita akan bisa menghindarkan salah tafsir, tapi juga bisa dipakai dengan nyata untuk kemajuan dan kemakmuran bangsa dengan cara yang belum banyak dipikirkan orang. Bahkan, cara ini sekaligus bisa dipakai bangsa kita untuk mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Pada gilirannya, harkat dan martabat bangsa kita akan terangkat di dunia. Bukan saja kita bisa mengalahkan Petronas atau Singapore Petroleum Corporation, tapi kita juga bisa membuat harga diri seluruh rakyat kita meningkat.

Harga diri itulah yang belakangan dimiliki kaum Melayu di Malaysia. Setiap kali kami ke Malaysia, saya selalu bisa menangkap betapa rakyat di sana bangga akan negaranya, sambil meremehkan bangsa kita. Sekarang kita memang sudah punya kebanggaan baru: demokrasi. Tapi, demokrasi harus tetap diisi dengan kesejahteraan.

Karena yang kami usulkan ini bukan amandemen tentang bagi-bagi atau rebutan kekuasaan, melainkan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara langsung, mestinya tidak ada satu pihak atau satu partai pun yang keberatan.***

Catatan Kaki :
Di samping sebagai chairman/CEO Jawa Pos Group, Dahlan Iskan adalah juga ketua Kadin Komite Tiongkok Jatim.
Di samping mengurus banyak sekali perusahaan, Peter F. Gontha adalah juga Ketua Kadin Komite Amerika Serikat

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (3-Habis)

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (3-Habis)
JUMAT, 03 APRIL 2009

Bernostalgia dengan Foto-foto Hitam Putih Bung Karno

Usai mandi, saya ingin turun ke lobi. Teman saya sudah menunggu di lobi Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini. Begitu keluar kamar, saya kembali terpikir bagaimana bisa membuat koridor ini lebih nyaman. Saya pun menyusuri koridor itu dengan perhatian penuh ke jendela-jendela tipuan yang terbuat dari kaca itu.

Sampai tiba di lift terdekat, tetap saja tidak keluar ide bagaimana membuat koridor itu terasa lebih lapang. Saya langsung masuk ke salah satu dari dua lift yang berjajar di situ. Lalu saya pencet tombol ”L” yang dugaan saya pasti singkatan dari lobby. Eh, ternyata bukan. Tiba di lantai itu saya tidak mendapatkan lobby.

Saya naik kembali ke lantai enam. Keluar dari lift saya perhatikan tanda-tanda, jangan-jangan saya salah memilih lift. Logika saya mestinya tidak salah. Semua orang, menurut akal sehat, tentu akan selalu mencari lift terdekat. Maka itulah lift terdekat. Jadi, akal saya sebenarnya masih sehat. Apalagi, tidak ada petunjuk sama sekali bahwa penghuni tidak boleh menggunakan lift terdekat itu.

Saya pun mencari-cari lift yang lain. Oh, di sebelahnya ada dua lift lagi yang juga berjajar. Saya pun masuk. Kali ini saya merasa pasti inilah lift yang benar. Ternyata saya salah lagi. Lift ini lift barang yang juga tidak bisa dipakai ke lobi. Sekali lagi saya tidak melihat tanda apa pun bahwa lift itu lift barang, kecuali dinding-dindingnya yang tahan benturan. Apalagi, saya juga baru melihat banyak orang keluar dari lift itu. Logika saya: ini bukan lift barang.

Saya pun naik lagi ke lantai 6. Barulah saya benar di langkah ketiga. Saya gunakan lift yang benar-benar benar. Di lokasi itu ternyata ada enam lift, berjajar dua-dua. Tidak ada petunjuk apa pun mana lift yang ke mana. Setelah bertanya, barulah saya tahu, jajaran lift terdekat tadi adalah lift untuk apartemen. Jajaran lift yang tengah untuk barang. Sedangkan jajaran yang satunya lagi barulah untuk penghuni hotel.

Besok paginya, ketika akan makan pagi, saya tidak salah lagi. Saya sudah bisa memilih lift dengan benar. Bukan karena sudah ada petunjuknya, melainkan karena saya selalu mengingat-ingatnya sejak sebelum tidur. Besok pagi saya tidak boleh salah lagi dalam memilih lift yang mana. Sampai-sampai terbawa ke mimpi. Saya ingat ketika menjadi anggota MPR dulu, pernah diinapkan di Hotel Indonesia. Rasanya waktu itu memang banyak sekali lift di situ. Rupanya lift-lift tersebut masih sama tempatnya, hanya kali ini dibeda-bedakan penggunaannya.

Pagi itu sebenarnya saya mengharapkan bisa makan pagi agak banyak. Maklum, harganya juga Rp350.000 per orang. Tapi, makanan yang ada sangat standar untuk ukuran hotel dengan tarif Rp2,5 juta semalam. Jadi, tidak banyak pilihan. Tidak apa-apa. Toh saya harus segera ke bandara menuju ke Balikpapan. Baik makanan maupun tata ruang coffee shop itu sangat biasa. Kecuali ada beberapa kursi yang ditata di luar ruang sehingga ada pilihan bagi orang yang mau udara bebas atau barangkali mau merokok. Tapi, karena kolam airnya belum selesai, kursi-kursi itu hanya menghadap plester-plester semen di sana-sini.

Oh, ada yang mengesankan. Ada tiga foto besar hitam putih yang menghiasi dinding coffee shop itu. Foto-foto itu pun bisa menimbulkan nostalgia yang jauh. Paling kiri ada foto Bung Karno dengan kegagahan uniform kepresidenannya dan tongkat komandonya. Bung Karno dalam foto itu lagi dalam posisi seperti berbisik kepada gadis cantik berambut pirang. Ya, semua orang tahu: dialah Marilyn Monroe. Bintang film simbol seks yang mati bunuh diri justru ketika masih seksi-seksinya.

Melihat foto itu kesan yang muncul adalah: siapa yang sebenarnya jago seks? Yang berbisik atau yang lagi mendengarkan?
Di bagian tengah barulah foto yang menimbulkan kesan bertemunya dua jagoan dunia: Bung Karno dan Kennedy.

Sayangnya, Kennedy mati tertembak tidak lama setelah itu dan presiden AS berikutnya tidak mau meneruskan komitmen Kennedy kepada Indonesia. Jadilah Bung Karno ”patah hati” dan berpaling ke Uni Soviet dan memusuhi Amerika. Lalu Amerika memusuhi Bung Karno dan kelak pada 1965 ikut menggulingkannya.

Foto yang paling kanan adalah Bung Karno dengan para penari cilik dari Bali. Tiga-tiganya menimbulkan kesan sendiri-sendiri yang sangat jauh.

Saya sempat berfoto di dekat situ. Itulah, bagi saya, bagian yang paling mengesankan dari hotel baru yang asal usulnya dibangun dengan harta pampasan perang dari Jepang itu. ***

Sunday, April 5, 2009

Safety Box Lebih Aman daripada Deposito

Safety Box Lebih Aman daripada Deposito
MINGGU, 05 APRIL 2009 on Catatan Dahla Iskan

Dalam perjalanan dari Hongkong ke Hanzhou tadi malam saya bisa tahu apa yang dilakukan sebagian pemilik uang di masa krisis seperti ini. Misalnya seperti yang diceritakan teman yang seperjalanan dengan saya ini. Dia orang Hongkong bekerja sebagai eksekutif di beberapa perusahaan. Umurnya kira-kira 60 tahun dan mengaku memiliki anak tiga yang sudah dewasa semua. Dia bercerita bagaimana harus menyelamatkan uangnya ketika krisis mulai melanda dunia (termasuk Hongkong) delapan bulan yang lalu. Dia buru-buru mencairkan uangnya yang ada di beberapa bank. Lalu membawanya pulang dalam keadaan cash. Melihat perkembangan krisis yang gawat saat itu, ia tidak percaya bahwa uangnya akan selamat di bank-bank tersebut.

Tapi dengan tindakannya itu dia belum juga merasa tenang. Dia merasa apakah dengan menyimpan uang di rumah seperti itu juga akan selamat. Baru beberapa hari menyimpan uang di rumah, dia memutuskan untuk kembali ke bank.


Bukan untuk mendepositokan atau menabungkan uangnya, melainkan untuk menyewa safety box, kotak penyimpan barang berharga. Uangnya lalu dia masukkan ke kotak itu. Dia kunci. Sebagaimana aturan yang berlaku dia memegang satu kunci dan kunci satunya lagi dipegang oleh pihak bank. Safety box lantas disimpan di bagian penyimpanan yang biasanya tahan api di gedung bank tersebut.

"Kami melakukan itu karena waktu itu tidak tahu bank mana yang masih bisa dipercaya," katanya. "Bayangkan bank sebesar Lehman Brothers saja bangkrut," tambahnya. "Karena itu lebih baik saya amankan sendiri saja dulu," lanjutnya. Setiap bulan dia lantas datang ke bank tersebut. Dia minta untuk bisa melihat kotak itu, membukanya, melihat isinya dan menutupnya kembali. Begitulah selama delapan bulan, setiap bulan dia menengok "bayi"-nya itu. Juga untuk membayar sewa serta mengurus perpanjangan masa penyimpanannya.

Dia menyewa safety box yang besarnya dua kali kotak sepatu. "Mula-mula mau menyewa yang kecil saja tapi tidak cukup. Lalu menyewa yang agak besar," katanya. Untuk itu dia membayar sekitar Rp 100.000 sebulan.

"Kalau ekonomi sudah stabil dan perbankan sudah baik, pasti saya akan mendepositokan kembali uang itu," katanya. "Tapi biar dululah di situ. Lihat-lihat perkembangannya," tambahnya. Dia tahu dengan cara begitu dia tidak bisa mendapat bunga. Bahkan justru harus keluar biaya penyimpanan. Namun dia merasa itu masih lebih baik daripada uangnya "menguap".
Satu-satunya harapan adalah kalau nilai tukar uang tersebut membaik. Meski tidak memperoleh bunga tapi bisa dapat selisih kurs. Tapi bisa juga kursnya justru melemah sehingga secara kurs pun dia merugi. "Kalau rugi tidaklah," katanya.

"Saya menyimpannya kan dalam bentuk tiga mata uang. Saya kira-kira sendiri saja mana mata uang yang aman dan nilainya masih akan terus meningkat," katanya. "Salah satunya pasti renminbi," tambahnya. Dengan demikian maka kalau salah satu mata uang itu turun dan satunya naik masih bisa impas. "Kalau tiga-tiganya turun semua, ya sudah nasib. Tapi turunnya kan tidak akan banyak," tambahnya.

Berapa banyak orang yang melakukan penyelamatan uang seperti itu" "Banyak sekali. Setiap bulan saya bertemu dengan orang-orang yang juga sedang mengecek kotak penyimpanan uangnya," katanya. Dia tidak mau menyebut berapa nilai uang yang dia simpan di situ, namun dia mengatakan itulah satu-satunya harta yang akan menjamin hari tuanya. Dia memang punya sejumlah saham dan bond, tapi dengan ambruknya haga saham dia berharap uang cashnya tidak ikut hilang.

Setiap hari orang Hongkong yang mengaku sering bepergian di Tiongkok-daratan itu terus mengikuti perkembangan perekonomian dunia. Termasuk kabar terbaru mengenai dimasukkannya Hongkong dan Macau ke dalam daftar hitam negara-negara yang tidak koperatif dalam pelaksanaan sistem pajak yang baik. Artinya negara-negara itu (termasuk Cayman Island dan Malaysia) sering dipergunakan oleh orang-orang yang mau menghindari pajak. Malaysia dimasukkan ke dalam daftar itu karena memiliki pulau kecil bernama Labuan (di lepas pantai Sabah) yang dijadikan pusat keuangan offshore. Yakni orang bisa secara administratif mendirikan perusahaan di situ tanpa harus membayar pajak. Beberapa perusahaan Indonesia juga memilih berpusat di Labuan meski lebih banyak memilih berpusat di Mauritius, British Virgin Island atau Cayman Island.

China, sebagai pemilik baru Hongkong dan Macau "mengamuk" dimasukkannya dua wilayah itu ke dalam daftar hitam. Ketika saya transit di Hongkong kemarin sore, soal ini jadi pembahasan talk show yang ramai. Juga jadi berita koran yang hot. "Hongkong itu paling bagus dan terbuka pajaknya. Kok dimasukkan daftar hitam," ujar Donald Tsang, pemimpin tertimnggi wilayah Hongkong. Yang benar, Hongkong memang mengenakan pajak yang rendah. Tapi soal sistemnya sangat baik.

Ternyata Presiden Prancis, Sarkozy, yang ngotot bahwa Hongkong harud dimasukkan ke dalam daftar hitam "sorga pajak" itu. Ini diketahui ketika pertemuan puncak kepala-kepala negara G-20 di London membahas soal perlunya menertiban sistem perpajakan di negara-negara yang selama ini dianggap "sorga pajak". Mereka itulah yang dinilai ikut menjadi penyebab terjadinya krisis global sekarang ini.

Harian South China Morning Post, koran berbahasa Inggris terbesar di Hongkong, menceritakan bahwa Presiden China Hu Jintao sampai bersitegang selama 1 jam. Keduanya melakukan pembicaraan yang tegang itu di salah satu pojok dari arena pertemuan puncak itu. Menurut harian tersebut, begitu tegang dan lamanya pertentangan itu, Presiden AS Barack Obama sampai mendatangi pojokan tersebut. Obama yang kemudian menengahi. Hu Jintao rupanya berhasil. Dalam keputusan yang dibacakan tersebut China (termasuk Hongkong dan Macau) dinyatakan tidak masuk dalam daftar hitam tersebut.

Pemilik uang di safety box di Hongkong tersebut sependapat dengan Sarkozy bahwa peraturan di bidang keuangan harus ditetapkan dulu sebelum dilakukan penggerojokan uang ke masyarakat dunia. Kalau tidak maka uang yang digerojokkan tersebut akan banyak yang masuk ke sektor spekulasi lagi.

Saya baru sadar bahwa pemilik uang satu box di sebuah bank di Hongkong ternyata terkait langsung dengan sidang-sidang para kepala negara G-20 di London itu. Buktinya dia mengaku baru akan mengembalikan uang tersebut ke sistem keuangan di perbankan setelah cukup kepercayaan pada bank. Padahal kalau aturan sistem keuangan belum dituntaskan, kepercayaan kepada bank (terutama bank-bank di negara maju) belum akan pulih. ***

Thursday, April 2, 2009

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (2)

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (2)
KAMIS, 02 APRIL 2009

Kamar Bersih dan Nyaman, Sayang Sulit Buang Kulit Pisang

Begitu masuk kamar, bau cat masih terasa. Tidak apa-apa. Memang Hotel Kempinski Indonesia ini (d/h Hotel Indonesia) masih belum genap satu bulan. Semuanya masih serba baru.

Begitu membuka pintu saya langsung terpana oleh lantainya yang kinclong. Seirama dengan hal-hal yang serba kaca di luarnya. Lantai kamar yang terbuat dari kayu itu juga sangat menyenangkan. Di samping nyaman, kesannya juga sangat bersih. Apalagi di sekitar ranjang dilapisi karpet. Saya suka lantai kamar seperti ini. TV-setnya juga sangat besar. Meja dan kursi kerjanya juga simple dan enak. Patung-patung kecil putih yang menjadi hiasan di kamar itu juga cocok sekali.

Tapi adanya dua lampu di samping tempat tidur itu terasa berlebihan. Di sisi kiri ada lampu duduk yang besar sekali, tapi masih juga ada lampu baca yang tangkai besinya terasa amat panjang. Di sisi kanan juga sama. Jadi, ada empat lampu di sisi ranjang. Apalagi lampu duduknya besar sekali. Begitu besarnya lampu duduk itu sampai menutup hiasan grafis (gambar beca susun dua) yang ditempelkan di dinding. Menurut saya lampu baca saja sebenarnya sudah cukup. Meja kecil di samping ranjang itu bisa digunakan untuk menaruh koran, majalah, kacamata atau barang-barang pribadi lainnya yang biasanya harus dilepas sebelum tidur.

Ranjang dan bantalnya sudah cukup enak, meski belum sangat enak seperti yang pernah saya alami di hotel lain dengan tarif yang sama. Sandalnya bagus, alat cukurnya dipilih dari merk yang baik yang cukup tajam (banyak hotel yang alat cukurnya tumpul!), dan jarak antara ranjang dan TV-nya juga ideal.

Penataan kamarnya juga enak, kecuali lampu duduk di sebelah ranjang tadi. Tapi saya kesulitan membuang kulit pisang. Ternyata tidak ada tempat sampah di kamar itu. Padahal ke mana-mana saya selalu membawa pisang kepok, sebagai salah satu pengendali mekanisme pencernaan saya setelah ganti hati hampir dua tahun lalu.

Saya lantas mencoba membuka gordin untuk melihat pemandangan apa yang ada di luar sana. Ternyata sama sekali tidak ada pemandangan yang menarik. Hanya dinding-dinding dan lantai bangunan lain di komplek itu. Bahkan sebagian lantai yang terlihat dari kamar itu masih belum bersih. Masih berupa semen polos. Mungkin karena bagian ini memang belum disentuh. Maklum masih baru ujicoba.

Kelak saya kira pemandangan di situ akan dibenahi dengan tipuan-tipuan yang bisa menyenangkan. Sebelum itu dilakukan, apa yang terlihat dari kamar justru pemandangan yang ”kejam” Maka saya tutup kembali gordin itu dan tidak pernah saya buka lagi sampai saya check out keesokan harinya.

Bagaimana dengan kamar mandinya? Posisi pintu kamar mandi itu cukup enak. Model wastafelnya yang segi panjang itu tidak ada masalah. Cocok saja dengan desain sekelilingnya. Bahwa warna dominan kamar ini (termasuk kamar mandi) adalah coklat, juga tidak masalah.

Toiletnya dipilih toilet paling modern yang pakai elektronik kontrol itu. Tutupnya membuka sendiri, dudukannya selalu hangat dan untuk cuci buang air besar cukup memencet-mencet tombol. Tapi gerakan membukanya kurang cepat. Sehingga bagi yang kebelet sekali, atau yang sakit perut, bisa kececeran. Memang penutupnya bisa dibuka dengan tangan sehingga sebenarnya ”kalau kesusu” juga tidak ada masalah. Mungkin karena posisi toilet itu yang menyamping (orang yang akan menggunakannya datang dari arah samping toilet) sehingga sensornya harus menunggu dulu sampai orangnya tiba di arah depannya. Lain kali, kalau posisi toiletnya seperti itu baiknya menggunakan sensor yang bisa ”melirik” ke kiri. Dengan demikian, ketika orangnya sudah tiba di sisi kiri toilet, sensornya sudah bisa membaca: lalu tutup toilet itu bisa cepat membuka.

Bak mandi kamar ini sangat besar dan menonjol. Bentuknya oval cembung yang ukurannya benar-benar besar. Saking besarnya sampai-sampai menghalangi pintu masuk ke kamar mandi shower. Akibatnya pintu ke shower ini hanya bisa dibuka separonya saja. Membukanya pun harus hati-hati agar pintunya tidak membentur bak mandi. Di sini terasa seperti ada anjuran lebih baik mandi pakai bak saja. Karena, kalau ke shower agak sulit masuknya. Padahal pemakaian air untuk bak mestinya jauh lebih boros daripada untuk shower. Tapi, mungkin orang memang lebih senang berendam. Tidak seperti saya yang serba kesusu dan karena itu lebih memilih pakai shower.

Meski masuk ke kamar shower di Hotel Kempinski Indonesia (d/h Hotel Indonesia) ini agak sulit, namun ruangan shower itu sendiri cukup longgar. Di dalam kamar shower ini tidak ada masalah. Bahkan showernya ada dua: yang di langit-langit dan yang di dinding. Airnya juga menyemprot dengan kuat.

Shower besar yang di langit-langit itu juga enak. Bentuknya yang besar membuat air rata menyemprot ke seluruh kepala. Menurut penelitian shower seperti ini kabarnya bisa membuat orang yang mandi di situ bisa menggunakan air lebih sedikit.
Anehnya, kamar mandi shower ini tidak dilengkapi tempat sabun. Juga tidak ada sabun cair yang menempel di dinding. Saya agak kaget ketika sudah berada di dalam. Padahal saya sudah terlanjur telanjang. Ketika masuk ke kamar shower ini saya memang sudah melepas baju dengan logika pasti sudah ada sabun atau gel di dalamnya.

Saya hanya membawa sikat gigi yang sudah ada pastanya. Saya memang biasa sikat gigi di kamar mandi, bukan di wastafel. Boleh kan? Setelah saya sikat gigi, saya kebingungan: di mana mau menaruh sikat gigi. Biasanya saya taruh di tempat sabun. Ini tidak ada tempat sama sekali. OK. Sikat gigi saya lempar begitu saja di pojok lantai. Toh sudah tidak akan digunakan lagi. Sehabis mandi baru akan saya buang di tempat sampah.

Lalu saya pun membasahi badan dan rambut. Setelah itu otomatis saya cari-cari di manakah sabunnya? Ternyata tidak ada. Dinding di kamar mandi itu bersih dalam pengertian tidak ada apa-apanya sama sekali. Walhasil saya harus lari ke luar kamar mandi untuk mengambil sabun di wastafel. Kembali ada persoalan. Setelah sabun itu digunakan akan ditaruh di mana? Sekali lagi saya lempar saja di pojok lantainya.

Lantai kamar mandi ini juga agak aneh. Di sekelilingnya ada parit kecil. Lalu di pojoknya ada lubang pembuangan yang tutupnya lepas. Tutup lubang itu juga terbuat dari keramik segi empat. Tidak apa-apa. Yang membuat saya tidak habis pikir mengapa digeletakkan begitu saja. Sekali lagi, barangkali ini memang masih uji coba.

Saya menduga, lantai kamar mandi itu dipasang kurang kurang sempurna sehingga airnya kurang plas menghilang ke lubang. Maka dibikinkanlah parit kecil di sekelilingnya. Semoga dugaan saya itu salah. Tapi apa dong? Bukankah parit keliling itu bisa membuat kesan kebersihan kamar mandi itu terganggu? Tentu semua itu soal kecil. Yang penting tidak ada air menggenang selama kita shower di situ.

Saya juga selalu menilai handuk di setiap hotel. Enak atau tidak di badan. Di Hotel Kempinski Indonesia ini handuknya cukup enak di badan, meski juga belum seenak di hotel yang sering jadi langganan saya yang harganya setaraf dengan itu. Timbangan badan di kamar itu (juga dari kaca) berfungsi dengan baik. Kaca pembesar di kamar mandi itu juga baik.

Tapi tempat sampah di kamar mandi itu menganggu kenyamanan. Tempat sampah itu tertutup dan letaknya dua langkah dari wastafel. Untuk membuang sampah ke situ kita harus menginjakkan kaki ke ontelan di bagian bawahnya agar tutup tempat sampah itu membuka. Ini menyulitkan bagi orang yang biasa sekali waktu mengerjakan dua pekerjaan. Misalnya saja orang yang setelah bersikat gigi ingin membuang sikat giginya ke tempat sampah sambil mulutnya masih penuh dengan pasta. Masak orang harus melangkah ke tempat sampah itu untuk menginjakkan kaki sambil mulutnya penuh dengan busa pasta. Kalau tempat sampah itu tidak bertutup, orang tinggal melemparkannya saja tanpa harus bergeser dari wastafel.

Dasar penghuni hotel yang pemalas! (bersambung).

Wednesday, April 1, 2009

Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (1)

Berdesain Minimalis dengan Dominasi Bahan Kaca

Catatan Dahlan Iskan on Maret 2009 
Rabu, 1 April 2009

Dahlan Iskan: Mencoba Hotel ”Kempinski” Indonesia yang Baru (1)

Berdesain Minimalis dengan Dominasi Bahan Kaca
Saya suka mencoba hotel baru. Termasuk ketika Hotel Indonesia dibuka kembali dengan nama baru: Kempinski Indonesia. Namanya saja mencoba, saya siap dengan dua kemungkinan: kekurangan dan kelebihan.

Saya tidak akan komplain kalau saja menemukan kekurangan. Saya sendiri yang sudah mendirikan begitu banyak surat kabar (100 lebih?), juga selalu mengecewakan pembaca setiap kali surat kabar baru itu mulai terbit. Lama-lama kekurangan itu dikoreksi dan akhirnya menjadi baik. Demikian juga ketika kami membuka usaha gedung perkantoran, pabrik kertas, dan PLTU. Di awal-awalnya selalu saja banyak kekurangan.

Kemungkinan kedua, saya akan langsung mengaguminya. Siapa tahu kehebatan hotel ini sama dengan mall Grand Indonesia yang lebih dulu dibuka. Toh hotel ini bukan saja menjadi bagian dari kompleks Grand Indonesia yang megah itu, pemiliknya pun sama: kelompok Djarum. Apalagi ada nama Kempinski di situ. Inilah jaringan hotel dari Jepang yang sudah sangat terkenal reputasinya. Saya juga sudah sering menginap di berbagai Hotel Kempinski di banyak negara. Saya sudah tahu standar dan reputasinya.

Saya sudah beberapa kali ke mall Grand Indonesia sebelum hotel ini dibuka. Biasanya untuk makan di restoran Jepang atau Korea di lantai 5 itu. Sambil makan saya bercita-cita kalau hotelnya sudah dibuka saya akan langsung merasakannya. Ternyata saya terlambat tahu. Hotel itu sudah dibuka pada 1 Maret lalu, tapi saya baru punya kesempatan mencobanya 24 hari kemudian.

Lalu apa yang saya alami ketika menginap di Hotel Indonesia yang baru ini?

Saya memperoleh dua-duanya. Kekurangannya dan kelebihannya.

Meski tempatnya di kompleks Grand Indonesia, hotel ini ternyata tergolong “hotel bisnis”. Hanya, hotel bisnis yang mewah. Karena hotel bisnis, jangan mengharapkan lobi yang wah, atau kamar yang besar, atau coffee shop yang grand. Hotel ini menganut konsep minimalis, tapi minimalisnya sebuah hotel bintang lima. Lobinya penuh dengan pilar yang besar-besar. Untuk mencari di mana resepsionisnya saya harus melongok-longok di antara pilar-pilar itu. Oh, di sana: membelakangi taman dengan sekat kaca penuh yang terang benderang.

Bahan kaca memang mendominasi semua hal. Rupanya inilah memang yang menjadi ciri khas baru Hotel Indonesia. Ini juga yang membuat citranya sebagai hotel bisnis sangat menonjol. Pilar-pilarnya, kolom-kolomnya, dinding-dindingnya serba berkaca.

Kelihatannya bahan kaca ini sekaligus untuk mengatasi persoalan “ruang” yang menjadi penghambat utama desainernya. Sebagai hotel lama yang direnovasi, tentu Hotel Indonesia tidak bisa menghindari “warisan” lama itu. Misalnya, pilar-pilar, kolom-kolom dan ukuran kamar yang terkait dengan fondasi asal bangunan itu. Semua harus terikat dengan konstruksi lama yang untuk ukuran sekarang tentu tidak akan memuaskan para perancang. Kolom-kolom besar di lobi itu, misalnya, bagaimana bisa membuangnya? Tidak mungkin. Karena itu, mereka mengatasinya dengan membalutnya dengan kaca-kaca.

Demikian juga kolom rendah di dalam kamar. Yakni, kolom di antara ranjang dan meja kerja. Kolom itu begitu rendahnya sehingga seperti memotong kamar menjadi dua bagian. Tapi, desainer berhasil mengurangi kesan itu dengan cara membungkus kolom tersebut dengan kaca cermin. Dengan demikian kamar itu kesannya masih cukup luas.

Hari itu saya mendapat kamar di lantai 6, agak di ujung lorong. Dan, memang kelihatannya baru dua lantai (lantai 5 dan 6) yang diuji coba. Begitu keluar dari lift di lantai 6, saya belok kiri menuju lorong untuk ke kamar. Di koridor inilah saya baru merasakan ketidakcocokan antara harga dengan kenyamanan yang disajikan. Kamar ini harus saya bayar dengan tarif Rp 2,5 juta/malam. Itu pun sudah harga travel. Kalau go show, pasti lebih mahal lagi.

Untuk tarif segitu tinggi, koridor ini kurang memberikan kesan mahal. Memang saya sendiri agak sulit kalau harus ikut memikirkan bagaimana sebaiknya koridor itu didesain. Sebab, sisi kiri koridor tersebut adalah dinding. Dinding mall, rupanya. Desainer lantas menutupi kelemahan itu dengan membuat jendela-jendela tipuan di sepanjang koridor. Yakni, jendela-jendela kaca. Meski begitu, tetap saja muncul kesan bahwa di balik kaca itu adalah dinding. Apalagi koridor ini terasa sangat sempit untuk ukuran kamar seharga Rp 2,5 juta. Kelihatannya koridor ini memerlukan sentuhan desainer sekali lagi. (bersambung)