MINGGU, 05 APRIL 2009 on Catatan Dahla Iskan
Dalam perjalanan dari Hongkong ke Hanzhou tadi malam saya bisa tahu apa yang dilakukan sebagian pemilik uang di masa krisis seperti ini. Misalnya seperti yang diceritakan teman yang seperjalanan dengan saya ini. Dia orang Hongkong bekerja sebagai eksekutif di beberapa perusahaan. Umurnya kira-kira 60 tahun dan mengaku memiliki anak tiga yang sudah dewasa semua. Dia bercerita bagaimana harus menyelamatkan uangnya ketika krisis mulai melanda dunia (termasuk Hongkong) delapan bulan yang lalu. Dia buru-buru mencairkan uangnya yang ada di beberapa bank. Lalu membawanya pulang dalam keadaan cash. Melihat perkembangan krisis yang gawat saat itu, ia tidak percaya bahwa uangnya akan selamat di bank-bank tersebut.
Tapi dengan tindakannya itu dia belum juga merasa tenang. Dia merasa apakah dengan menyimpan uang di rumah seperti itu juga akan selamat. Baru beberapa hari menyimpan uang di rumah, dia memutuskan untuk kembali ke bank.
Bukan untuk mendepositokan atau menabungkan uangnya, melainkan untuk menyewa safety box, kotak penyimpan barang berharga. Uangnya lalu dia masukkan ke kotak itu. Dia kunci. Sebagaimana aturan yang berlaku dia memegang satu kunci dan kunci satunya lagi dipegang oleh pihak bank. Safety box lantas disimpan di bagian penyimpanan yang biasanya tahan api di gedung bank tersebut.
"Kami melakukan itu karena waktu itu tidak tahu bank mana yang masih bisa dipercaya," katanya. "Bayangkan bank sebesar Lehman Brothers saja bangkrut," tambahnya. "Karena itu lebih baik saya amankan sendiri saja dulu," lanjutnya. Setiap bulan dia lantas datang ke bank tersebut. Dia minta untuk bisa melihat kotak itu, membukanya, melihat isinya dan menutupnya kembali. Begitulah selama delapan bulan, setiap bulan dia menengok "bayi"-nya itu. Juga untuk membayar sewa serta mengurus perpanjangan masa penyimpanannya.
Dia menyewa safety box yang besarnya dua kali kotak sepatu. "Mula-mula mau menyewa yang kecil saja tapi tidak cukup. Lalu menyewa yang agak besar," katanya. Untuk itu dia membayar sekitar Rp 100.000 sebulan.
"Kalau ekonomi sudah stabil dan perbankan sudah baik, pasti saya akan mendepositokan kembali uang itu," katanya. "Tapi biar dululah di situ. Lihat-lihat perkembangannya," tambahnya. Dia tahu dengan cara begitu dia tidak bisa mendapat bunga. Bahkan justru harus keluar biaya penyimpanan. Namun dia merasa itu masih lebih baik daripada uangnya "menguap".
Satu-satunya harapan adalah kalau nilai tukar uang tersebut membaik. Meski tidak memperoleh bunga tapi bisa dapat selisih kurs. Tapi bisa juga kursnya justru melemah sehingga secara kurs pun dia merugi. "Kalau rugi tidaklah," katanya.
"Saya menyimpannya kan dalam bentuk tiga mata uang. Saya kira-kira sendiri saja mana mata uang yang aman dan nilainya masih akan terus meningkat," katanya. "Salah satunya pasti renminbi," tambahnya. Dengan demikian maka kalau salah satu mata uang itu turun dan satunya naik masih bisa impas. "Kalau tiga-tiganya turun semua, ya sudah nasib. Tapi turunnya kan tidak akan banyak," tambahnya.
Berapa banyak orang yang melakukan penyelamatan uang seperti itu" "Banyak sekali. Setiap bulan saya bertemu dengan orang-orang yang juga sedang mengecek kotak penyimpanan uangnya," katanya. Dia tidak mau menyebut berapa nilai uang yang dia simpan di situ, namun dia mengatakan itulah satu-satunya harta yang akan menjamin hari tuanya. Dia memang punya sejumlah saham dan bond, tapi dengan ambruknya haga saham dia berharap uang cashnya tidak ikut hilang.
Setiap hari orang Hongkong yang mengaku sering bepergian di Tiongkok-daratan itu terus mengikuti perkembangan perekonomian dunia. Termasuk kabar terbaru mengenai dimasukkannya Hongkong dan Macau ke dalam daftar hitam negara-negara yang tidak koperatif dalam pelaksanaan sistem pajak yang baik. Artinya negara-negara itu (termasuk Cayman Island dan Malaysia) sering dipergunakan oleh orang-orang yang mau menghindari pajak. Malaysia dimasukkan ke dalam daftar itu karena memiliki pulau kecil bernama Labuan (di lepas pantai Sabah) yang dijadikan pusat keuangan offshore. Yakni orang bisa secara administratif mendirikan perusahaan di situ tanpa harus membayar pajak. Beberapa perusahaan Indonesia juga memilih berpusat di Labuan meski lebih banyak memilih berpusat di Mauritius, British Virgin Island atau Cayman Island.
China, sebagai pemilik baru Hongkong dan Macau "mengamuk" dimasukkannya dua wilayah itu ke dalam daftar hitam. Ketika saya transit di Hongkong kemarin sore, soal ini jadi pembahasan talk show yang ramai. Juga jadi berita koran yang hot. "Hongkong itu paling bagus dan terbuka pajaknya. Kok dimasukkan daftar hitam," ujar Donald Tsang, pemimpin tertimnggi wilayah Hongkong. Yang benar, Hongkong memang mengenakan pajak yang rendah. Tapi soal sistemnya sangat baik.
Ternyata Presiden Prancis, Sarkozy, yang ngotot bahwa Hongkong harud dimasukkan ke dalam daftar hitam "sorga pajak" itu. Ini diketahui ketika pertemuan puncak kepala-kepala negara G-20 di London membahas soal perlunya menertiban sistem perpajakan di negara-negara yang selama ini dianggap "sorga pajak". Mereka itulah yang dinilai ikut menjadi penyebab terjadinya krisis global sekarang ini.
Harian South China Morning Post, koran berbahasa Inggris terbesar di Hongkong, menceritakan bahwa Presiden China Hu Jintao sampai bersitegang selama 1 jam. Keduanya melakukan pembicaraan yang tegang itu di salah satu pojok dari arena pertemuan puncak itu. Menurut harian tersebut, begitu tegang dan lamanya pertentangan itu, Presiden AS Barack Obama sampai mendatangi pojokan tersebut. Obama yang kemudian menengahi. Hu Jintao rupanya berhasil. Dalam keputusan yang dibacakan tersebut China (termasuk Hongkong dan Macau) dinyatakan tidak masuk dalam daftar hitam tersebut.
Pemilik uang di safety box di Hongkong tersebut sependapat dengan Sarkozy bahwa peraturan di bidang keuangan harus ditetapkan dulu sebelum dilakukan penggerojokan uang ke masyarakat dunia. Kalau tidak maka uang yang digerojokkan tersebut akan banyak yang masuk ke sektor spekulasi lagi.
Saya baru sadar bahwa pemilik uang satu box di sebuah bank di Hongkong ternyata terkait langsung dengan sidang-sidang para kepala negara G-20 di London itu. Buktinya dia mengaku baru akan mengembalikan uang tersebut ke sistem keuangan di perbankan setelah cukup kepercayaan pada bank. Padahal kalau aturan sistem keuangan belum dituntaskan, kepercayaan kepada bank (terutama bank-bank di negara maju) belum akan pulih. ***





0 comments:
Post a Comment