Thursday, March 5, 2009

Banyak Bunuh Diri, Suku Bunga Makin Tinggi "Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (2)"

Banyak Bunuh Diri, Suku Bunga Makin Tinggi
on Catatan dahlan Iskan, KAMIS, 05 MARET 2009


Sistem Keuangan Bawah Tanah yang Khas Wenzhou (2)
          Wenzhou dan sekitarnya memang sangat menarik bagi saya. Wilayah ini sering saya sebut sebagai contoh berkembangnya sistem ‘’paling kapitalis’’ dalam sebuah negara komunis. Saya selalu mengamati bagaimana musuh komunisme itu bisa hidup makmur di negara komunis. Lebih menarik dari pengalaman saya dulu ke Samarkhan untuk melihat bagaimana masjid (dan makam Imam Bukhori) bisa hidup di negara komunis (Soviet saat itu) yang memusuhi agama. Beda dengan di Wenzhou, di Samarkhan waktu itu saya melihat pelestarian masjid tersebut hanya untuk ‘’lipstik’’ agar Sovyet masih kelihatan bergincu. Tapi kapitalisme di Wenzhou sangat murni, natural dan berdiaspora.

Sebutlah kecamatan seperti Long Gang. Kecamatan ini dulunya murni daerah pertanian. Letaknya di pegunungan yang dari kota Wenzhou masih amat jauh —sekitar 120 Km. Kini Long Gang sudah menjadi ‘’kota percetakan’’ karena semua orang beralih ke bisnis percetakan atau yang ada hubungannya dengan percetakan. Masyarakatnya pun sudah tidak ada lagi yang memegang cangkul. Perubahan ini sama sekali tidak ada campur tangan pemerintah. Bahwa kecamatan itu memilih bidang bisnis percetakan juga bukan berdasarkan plot dari pemerintah. Bahkan secara resmi pemerintah masih menganggap status desa-desa di situ masih disebut ‘’desa’’ dan penduduknya masih terdaftar sebagai ‘’petani’’. Padahal Long Gang kini sudah menjadi satu kota —dalam pengertian yang sebenarnya. Inilah ‘’kota’’ dengan penduduk semuanya berstatus ‘’petani’’ pertama di dunia.

Wenzhou terletak di Provinsi Zhejiang yang beribukota di Hangzhou. Dari ibukota provinsi ini, jaraknya masih sekitar 300 Km, —seperti Pekanbaru-Padang—. Wenzhou terletak di pinggir pantai, tapi sangat sedikit punya tanah datar. Wilayahnya bergunung-gunung yang tidak ada habis-habisnya. Majunya bukan main. Meski tidak sehebat ibukota provinsinya (Hangzhou) atau kabupaten tetangganya (Ningbo) tapi kemajuan Wenzhou lebih merata sampai ke pedasaan. Wenzhou juga punya pelabuhan laut, bandara internasional dan jalan-jalan tol yang menghubungkan ke kecamatan-kecamatan dan kabupaten sekitarnya.

Kini ada satu kabupaten tetangganya lagi yang sedang mengejar Wenzhou atau Ningbo. Namanya Shaoxing. Bahkan Wenzhou, Ningbo dan Shaoxing karena saling bertetangga sudah menjadi satu kekuatan wilayah ekonomi tersendiri. Wilayah ini terletak di seberang Shanghai. Lebar laut yang memisahkannya 35 Km. Sejak 1 Mei yang lalu, laut itu bukan lagi pemisah. Sebuah jembatan enam jalur sepanjang 38 Km sudah selesai dibangun melengkung menyeberangi laut yang begitu luas. Pembangunannya hanya memakan waktu tiga tahun! Sejak 1 Mei tahun lalu, Shanghai-Shaoxing sudah gandeng. Dengan demikian Wenzhou dan sekitarnya akan kian maju karena mendapat lokomotip baru yang amat besar: Shanghai.

Hasil-hasil penelitian menyebutkan peranan dana bank di wilayah Wenzhou dan sekitarnya hanya 18 persen. Sedang peranan rentenir 28 persen. Selebihnya merupakan dana masyarakat sendiri. Maka ketika bank menjalankan kebijaksanaan uang ketat (antara lain untuk mengerem inflasi) seperti terjadi sekarang ini, Wenzhou dan sekitarnya tetap berkembang. Rentenir memang dimusuhi negara, tapi tidak oleh masyarakat Wenzhou. Rentenir dianggap sebagai satu kelengkapan hidup yang ketika tidak ada system lain yang lebih baik, mengapa tidak memanfaatkannya. Sepanjang hasil perputaran dari dana rentenir itu tetap lebih besar daripada bunganya tetap saja rentenir dianggap peluang yang harus dimanfaatkan. Tidak ada halal atau haram di sini. Yang ada maju atau mati. Tentu ada juga yang terus menerus terbelit oleh rentenir. Di antaranya kemudian bunuh diri atau menghilang. Terutama pada musim kesulitan ekonomi seperti belakangan ini.

Lautan industri menengah dan kecil di Wenzhou dan sekitarnya menjerit. Apalagi peraturan perburuhan sudah berubah total. Buruh yang dulu bisa digaji Rp1 juta, menjadi harus Rp1,5 sampai Rp2 juta. Biaya produksi naik akibat inflasi dan nilai tukar renminbi yang terus menguat. Harga jual sulit diubah sama tingginya. Cash flow menjadi seret. Pengusaha kecil seperti orang haus tapi harus minum air laut. Beberapa bunuh diri.Ini pun sudah diperhitungkan oleh sistem rentenir. Termasuk mengapa bunga di sistem ini bisa sampai 6 persen sebulan, antara lain karena pasti akan ada yang lari atau bunuh diri. Sementara, tidak seperti rumah gadai yang bunganya separo lebih rendah, tidak ada jaminan yang bisa disita.

Logikanya, kian banyak yang bunuh diri akan kian tinggi bunganya. Bunuh diri memang urusan masing-masing. Tapi karena bisa menyebabkan kenaikan ‘’suku bunga’’, keluarga yang bunuh diri pun akan dibenci oleh masyarakat sistem ini. Mekanisme pasar menghasilkan tata nilai tertentu. Moralitas bunuh diri atau melarikan diri menjadi tercela bukan dengan alasan moralitas, melainkan karena dianggap bisa meningkatkan high cost economy.

Banyak juga yang bisa keluar dari sistem ini. Yakni mereka yang dari usaha dengan modal rentenir itu bisa memupuk dana sendiri. Lalu secara berkelompok membentuk dana bersama. Dana ini yang kemudian dipinjamkan ke sesama anggotanya dengan bunga tertentu. Dua atau tiga kali lebih tinggi dari bunga bank tapi tidak delapan kali seperti bunga rentenir. Model ini berkembang pesat juga di Wenzhou dan sekitarnya.

Melihat kenyataan besarnya peranan sistem rentenir di Wenzhou, pemerintah komunis Tiongkok kemudian menjadi sangat realistis. Inilah komunisme fleksibel. Meski sistem rentenir itu secara dokmatik bertentangan dengan komunisme, tetapi pemerintah dalam perkembangannya tidak main larang begitu saja. Bahkan pemerintah tidak pernah menggunakan kata ‘’rentenir’’ setiap kali menyinggung soal ini.

Pemerintah hanya selalu menyebutnya sebagai aliran dana bawah tanah. Pemerintah pusat telah lama melakukan kajian terhadap sistem ini. Hasilnya: perlu dilakukan terobosan. Tapi harus diuji coba dulu. Maka sejak dua tahun lalu pemerintah melakukan uji coba satu sistem yang sangat baru di bidang keuangan. Uji coba ini hanya boleh dilakukan di Wenzhou-Shaoxiang. Yakni kabupaten yang —aliran dana bawah tanahnya— mencapai Rp2 triliun setahun.

Orang-orang yang selama ini bergerak di perdagangan uang bawah tanah itu, di samping diperbolehkan mendirikan rumah gadai, juga diizinkan mendirikan perusahaan jasa keuangan mikro. Namanya bidang usahanya: perusahaan penjamin kredit mikro. Sejak dilakukan ujicoba sampai sekarang sudah 240 perusahaan jenis ini berdiri di Wenzhou. Bukan main antusiasnya.

Sistem keuangan uji coba ini melibatkan empat pihak: peminjam, bank, penjamin dan pihak ketiga yang menambah jaminan. Misalnya begini: Anda memiliki perusahaan kecil yang sudah tiga tahun berturut-turut laba. Lalu meminjam uang ke bank dengan jaminan yang tidak cukup. Anda bisa minta perusahaan penjamin itu untuk mencarikan tambahan jaminan dari pihak ketiga. Tambahan jaminan ini bisa berupa asset tetap seperti tanah, bisa juga sertifikat deposito atau sebangsanya.

Di pihak lain, misalnya, Anda punya deposito Rp50 juta di bank. Anda hanya dapat bunga (kalau di Tiongkok hanya 1 persen). Agar Anda bisa dapat bunga lebih besar, Anda bisa meminjamkan sertifikat deposito Anda ke perusahaan penjamin. Yakni untuk digunakan sebagai jaminan tambahan pencari kredit. Dari situ Anda dapat tambahan bunga 1 persen lebih (bergantung situasinya). Berarti bunga Anda bisa dua kali lipat daripada kalau Anda hanya mendepositokan di bank begitu saja.

Sistem uji coba ini berkembang pesat. Pemilik ?uang-lebih? dan pengusaha kecil yang haus uang bisa ketemu di gelas yang sama. Resmi, legal dan tidak takut akan peraturan pemerintah. Lewat sistem ini seorang pengusaha kecil bisa dapat kredit dengan bunga 12 persen setahun. Memang, bunga itu dua kali lipat lebih mahal dari bunga bank secara resmi, tapi tetap jauh lebih murah dibanding harus 60 sampai 120 persem bunga ?bawah tanah?.

Pemerintah memang tidak bisa menutup mata akan pertumbuhan ekonomi yang mencapai lebih 13 persen selama lebih 20 tahun terus menerus di kabupaten-kabupaten sekitar Wenzhou ini. Inisiatip lokal, luar biasa besarnya. Menurut hasil penelitian, inilah wilayah perusahaan kecil menengah yang terbesar di dunia, sejajar dengan wilayah Guangzhou dan sekitarnya seperti Dongguan.(bersambung)


Catatan kaki :
sumber wikipedia

Asal Nama宁 níng - Tenang
波 bō - Gelombang
Bersama - Gelombang Tenang
Penyingkatan甬 yǒng
Tipe AdministratifKota sub provinsial
Area9,365 km²
Tepi Pantai1,562 km
Populasi5,527,000 (2004)
GDP¥39,045 per kapita (2004)
PendudukMiao, Zhuang
Pembagian selevel zhou11
Pembagian selevel kota148
GubernurMao Guanglie
CPCBayin Chaolu
Bunga kotaCamelia
Pohon kotaCamphor Laurel
Cinnamomum camphora (L.) Sieb.
Kode Area574
Nomor Polisi MobilB
Website resmi: 


SHANGHAI - Jembatan Teluk Hangzhou Tiongkok, yang disebut-sebut sebagai jembatan terpanjang di atas laut, resmi dibuka untuk umum kemarin. Peresmian jembatan sepanjang 36 kilometer itu dilakukan siang hari dan mulai dibuka untuk lalu lintas umum tepat tengah malam.
Jembatan tersebut menghubungkan Jiaxing, yang berada di dekat Shanghai, dengan kota industri Ningbo di Provinsi Zhejiang. Jembatan itu bisa memotong jarak antara kedua tempat tersebut, yang jika lewat jalan darat harus memutar sejauh 120 kilometer.

Awalnya, pembangunan jembatan itu ditujukan untuk mengatasi kemacetan di wilayah segitiga Shanghai-Hangzhou-Ningbo. Dalam perkembangannya, jembatan tersebut diharapkan bisa meningkatkan integrasi ekonomi dan pembangunan di daerah delta Sungai Yangtze.

Pembangunan jembatan itu menghabiskan anggaran CNY 11,8 miliar (sekitar Rp 14,16 triliun). Yang istimewa, biaya pembangunannya berasal dari kalangan swasta di kawasan industri Ningbo.

Keistimewaan lain dari jembatan tersebut adalah desainnya yang diperhitungkan bisa bertahan hingga 100 tahun. Kecepatan kendaraan yang melintasi jembatan itu dibatasi, maksimal 100 kilometer per jam.

Sebelumnya, Tiongkok sudah mempunyai jembatan yang cukup panjang. Yakni, Jembatan Donghai yang panjangnya mencapai 32,5 kilometer. Jembatan itu pun membelah lautan dan menghubungkan Shanghai dengan Pelabuhan Yangshan.

Sejatinya, Ningbo merupakan salah satu kota tertua di Tiongkok yang juga dikenal sebagai tempat perdagangan utama antara Yangzhou dan Guangzhou. Sejak abad ke-7, Ningbo telah dikenal hingga ke luar negeri sebagai kota perdagangan. Kota itu juga dikenal sebagai pusat penghasil furniture tradisional Tiongkok. Pada perkembangannya, Ningbo kini tetap dikenal sebagai pusat ekonomi dan kota pelabuhan yang sangat penting.

0 comments:

Post a Comment